Seorang pria mengambil foto bebek karet dalam aksi di depan pusat perbelanjaan Ratchaprasong di Bangkok, Rabu (18/11). | EPA-EFE/DIEGO AZUBEL

Internasional

20 Nov 2020, 02:00 WIB

Demo Thailand Bersimbol Bebek

Balon tiup berbentuk bebek menjadi simbol unjuk rasa di Thailand kali ini.

OLEH DWINA AGUSTIN

Balon tiup berbentuk bebek menjadi simbol unjuk rasa di Thailand kali ini. Sejumlah bebek karet warna kuning mencolok tampak diusung dan diserahkan bergantian kepada sesama pengunjuk rasa di Bangkok, Rabu (18/11).

Warna kuning cerahnya terlihat kontras dengan air ungu yang berasal dari meriam air yang disemprotkan polisi ke arah pendemo. Laman Thai Enquirer pada Kamis (19/11) menyebutkan, tak banyak yang tahu dari mana asal bebek-bebek kuning itu.

Namun, pengunjuk rasa menyaksikan kepahlawanan bebek-bebek itu yang muncul mulai aksi Selasa (17/11). Sejumlah pengunjuk rasa bermodal jas hujan warna hijau mengusung bebek-bebek itu saat gelombang serangan demi serangan meriam air mengenai mereka.

photo
Pengunjuk rasa prodemokrasi melayangkan salam tiga jari serta membawa bebek karet dalam aksi di depan pusat perbelanjaan Ratchaprasong di Bangkok, Rabu (18/11). - ( EPA-EFE/NARONG SANGNAK)

Gambar pun beredar di media: bebek-bebek kuning itu bernoda ungu. Namun, mereka tetap terlihat tersenyum.

“Merekalah para pelindung kami,” kata salah satu akun di Twitter, tentang bebek-bebek kuning. “Senjata, meriam air, dan gas air mata versus bebek karet dan balon,” bunyi sebuah keterangan foto aksi.

Ancaman Prayuth

Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha pada Kamis mengatakan, semua undang-undang berkait akan digunakan untuk menanggapi pengunjuk rasa yang melanggar. Ancaman ini muncul setelah demonstrasi yang menuntut Prayuth mundur dan reformasi kekuasaan Raja Maha Vajiralongkorn terus meningkat.

“Pemerintah akan meningkatkan tindakannya dan menggunakan semua hukum, semua pasal, untuk mengambil tindakan terhadap pengunjuk rasa yang melanggar hukum,” ujar Prayuth.

Pengumuman Prayuth datang sehari setelah ribuan pengunjuk rasa melemparkan cat ke markas polisi Thailand sebagai tanggapan terhadap penggunaan meriam air dan gas air mata yang melukai puluhan orang pada Selasa. Beberapa pengunjuk rasa juga menyemprotkan grafiti antimonarki.

“Situasinya tidak membaik. Ada risiko eskalasi ke lebih banyak kekerasan. Jika tidak segera diatasi dapat merusak negara dan monarki tercinta,” kata Prayuth dalam sebuah pernyataan.

photo
Pengunujuk rasa membawa bebek karet dalam aksi di Bangkok pada Selasa (17/11). - (AP/Sakchai Lalit)

Prayuth tidak memerinci peraturan yang akan digunakan untuk menekan massa yang turun ke jalan. Namun, dia bisa memanfaatkan Pasal 112 yang melarang penghinaan terhadap monarki meski dia mengatakan pada awal tahun ini bahwa itu tidak digunakan untuk saat ini atas permintaan raja.

Aktivis menyuarakan keprihatinan atas ancaman yang dilontarkan Prayuth. Ancaman ini bisa berarti dimulainya kembali penuntutan atas dasar lese majeste, yaitu penghinaan kerajaan dengan ancaman hukuman penjara hingga 15 tahun.

Puluhan pengunjuk rasa, termasuk banyak dari pemimpin paling terkemuka, telah ditangkap. Mereka dikenai berbagai tuduhan dalam beberapa bulan terakhir meskipun bukan karena mengkritik monarki.

“Ini bisa berarti mereka menggunakan Pasal 112 untuk menangkap para pemimpin protes. Apakah ini kompromi?” kata aktivis Tanawat Wongchai di Twitter.

Meskipun pihak istana kerajaan belum mengomentari protes tersebut, Raja Thailand baru-baru ini menyebut negaranya sebagai tanah kompromi. Ungkapan ini telah mendapatkan cemoohan dari pengunjuk rasa.

Sebuah protes besar direncanakan di Biro Properti Mahkota pada 25 November tentang pengelolaan kekayaan istana. Hal ini meliputi kekayaan yang telah diambil oleh raja dan dikuasainya secara pribadi. Dana tersebut bernilai puluhan miliar dolar AS. Pengunjuk rasa menyatakan akan ada demonstrasi tujuh hari lagi setelah itu. ';

×