Pembeli sedang memesan makanan dengan memindai kode QR digital. | Republika/Agung P Vazza
26 Nov 2020, 09:30 WIB

Mengintip Daya Saing Digital Global

Cara mengelola gelombang transisi ini sangat menentukan daya saing digital suatu negara.

OLEH AGUNG P VAZZA

Pandemi tak hanya memaksa dunia bisnis dan usaha melakukan penyesuaian cara beroperasi sambil menerapkan secara ketat protokol kesehatan; memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Di sisi lain, pandemi juga memaksa banyak kalangan mengubah cara beraktivitas. Mulai dari berbelanja sampai bekerja.

Penyesuaian-penyesuaian aktivitas tersebut, sadar atau tidak, ternyata juga membuka peluang menguatnya arus transformasi digital. Seiring pembatasan sosial yang diberlakukan terkait upaya mencegah meluasnya penyebaran virus, industri digital seperti menemukan momentum untuk tumbuh lebih pesat. 

Tidak hanya kalangan atau dunia usaha, pemerintahan di banyak negara pun terus mendorong transformasi digital di hampir semua sektor ekonomi. Upaya ini bukan melulu bertujuan menguatkan industri digital itu sendiri, tapi juga mendongkrak efisiensi sekaligus memangkas biaya operasional.

Terkait

Pandemi virus yang sampai hari ini belum benar-benar tertangani, sadar atau tidak, pembatasannya berimbas pula pada akselerasi transformasi digital di banyak negara.

Pemerintahan di sejumlah negara bahkan menjadikan transformasi digital sebagai salah satu agenda penting, baik sebagai mesin baru perekonomian maupun bagi reformasi di pemerintahan sendiri. Work from home (WFH) sebagai salah satu upaya mencegah perluasan pandemi mendorong banyak kalangan bekerja secara 'virtual' dan jarak jauh dan memicu percepatan transformasi digital.

Biaya menjadi lebih efisien lantaran berkurangnya biaya pertemuan fisik, juga perjalanan bisnis. Tak heran kalau pemerintahan di banyak negara seperti berlomba melakukan percepatan transformasi digital, baik di dalam pemerintahan maupun pengembangan ekosistem digital publik, antara lain juga untuk meningkatkan daya saing.

"Kita sedang berada di tengah gelombang revolusi digital yang sangat mungkin terakselerasi pandemi. Bagaimana cara pemerintahan mengelola gelombang transisi ini bakal sangat menentukan tingginya daya saing digital negara bersangkutan dalam beberapa dekade ke depan," papar Profesor Philip Meissner, direktur European Center for Digital Competitiveness (ECDC), ESCP Business School Berlin, dalam siaran pers ESCP Business School.

 
Kita sedang berada di tengah gelombang revolusi digital yang sangat mungkin terakselerasi pandemi.
PROF PHILIP MEISSNER, Direktur European Center for Digital Competitiveness (ECDC)
 

 

Terkait peringkat daya saing digital tersebut, ECDC menganalisis perubahan di hampir seluruh negara di dunia dalam kurun tiga tahun terakhir. Lembaga ini menggunakan dua dimensi utama daya saing digital, seperti eksosistem dan mindset, berdasar Global Competitiveness Report (GCR) yang dilakukan World Economic Forum (WEF). Hasilnya dituangkan dalam Digital Riser Report (DRR).

Kendati begitu, dijelaskan pula ada dua perbedaan utama antara GCR dan DRR. Pertama, GCR menganalisis daya saing negara-negara secara keseluruhan. Sedangkan DRR hanya menganalisis daya saing digital. Kedua, GCR menganalisis perubahan dalam kurun waktu per tahun. Sedangkan DRR menganalisis dalam kurun tiga tahun terakhir.

Analisa daya saing digital ini mencoba menangkap progres 140 negara dalam kurun tiga tahun terakhir, lalu menempatkan masing-masing negara dengan negara peers sesuai kawasan dan keanggotaan dalam lembaga atau kelompok internasional seperti kelompok negara maju (G-7) dan (G-20). DRR 2020 sendiri tercatat sebagai edisi perdana dan direncanakan dilakukan setiap tahun.

Dalam DRR 2020 ini, hasilnya mencerminkan terjadi persaingan cukup dinamis. Negara-negara yang selama ini dianggap maju dalam transformasi digital, beberapa tergeser ke bawah. Sebaliknya, negara-negara yang selama ini dinilai sebagai 'pendatang baru' di kancah transformasi digital justru menempati peringkat teratas.

Di kelompok negara G-7, misalnya. Prancis mengalami peningkatan peringkat terkait daya saing digital antara 2017 hingga 2019, sampai menempati peringkat teratas. Sebaliknya, Italia dan Jerman, tergeser ke bawah. Pergeseran juga terjadi antara dua raksasa digital global; Cina meningkat dan AS merosot.

Faktor kunci

Hasil DRR 2020 bisa dikata cukup mengejutkan terlihat pula di kelompok negara-negara G-20. Dalam kelompok ini, Arab Saudi menempati peringkat daya saing digital teratas. Sedangkan Italia dan India, dua negara yang selama ini dinilai memilik daya saing digital cukup tinggi, justru melorot ke posisi bawah.

Selain itu, yang cukup menggambarkan tingginya kompetisi dalam peringkat daya saing digital ini adalah hadirnya kekuatan-kekuatan baru. Dan Indonesia adalah salah satunya. Daya saing digital Indonesia di kelompok G-20 cukup tinggi, peringkat tiga.

Indonesia berada di peringkat yang sama, juga satu peringkat di atas Cina, jika dikelompokkan dalam negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Dalam kelompok ini, Filipina menempati peringkat teratas, disusul Thailand.

Sedangkan Selandia Baru di peringkat terbawah, serta Australia dan Vietnam yang juga merosot. Pergeseran serupa juga terjadi di kelompok Asia Selatan. India, yang selama ini dinilai memiliki daya saing digital cukup tinggi, justru berada di peringkat terbawah. Sebaliknya Srilanka dan Pakistan meningkat masing-masing ke peringkat satu dan dua.

Studi terkait peringkat daya saing digital versi ECDC tersebut juga mengungkapkan salah satu kunci keberhasilan negara-negara peringkat atas adalah investasi meningkatkan kualitas sumber daya manusia, inovasi dan membuak peluang kewirausahaan.

ECDC mencontohkan Indonesia dan Republik Dominika yang berinvestasi signifikan terkait edukasi digital. Indonesia memiliki program beasiswa bagi sekitar 20 ribu talent digital. Sedangkan Dominika menggelar inisiatif 'One Computer' yang memberikan akses laptop pada setiap anak di sekolah.

Faktor lain yang juga mendorong kekuatan 'Digital Riser' papan atas adalah kemampuan menarik talent digital internasional. Indonesia, Prancis, dan Latvia, merupakan tiga negara yang memiliki faktor ini.

Selain itu, tak kalah penting pula program pemerintah yang komprehensif dengan dukungan kuat. ECDC menunjuk program-program seperti La French Tech di Prancis, Saudi Vision 2023 di Arab Saudi, J-Startup di Jepang, dan Gerakan Seribu Startup di Indonesia, merupakan pendorong penting naiknya peringkat daya saing digital negara-negara tersebut.

 
ECDC menunjuk program-program seperti La French Tech di Prancis, Saudi Vision 2023 di Arab Saudi, J-Startup di Jepang, dan Gerakan Seribu Startup di Indonesia.
 
 

Kemudahan dan kecepatan untuk memulai usaha digital di sebuah negara juga menjadi tolok ukur tingginya daya saing digital. Azerbaijan, misalnya, dalam tiga tahun terakhir mampu mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memulai sebuah perusahaan digital dari tiga hari menjadi kurang dari satu hari. Juga Latvia yang memberlakukan pajak khusus dan pendanaan untuk mendukung bermunculannya usaha-usaha baru.

"Munculnya 'Digital Riser' papan atas dari level negara dan perekonomian yang berbeda menjadi sangat menarik. Tapi dari situlah pemerintahan di masing-masing negara bisa memetik pelajaran," ungkap Dr Christian Poensgen, direktur ECDC di ESCP Business School, Berlin.

Sedikitnya tiga pelajaran bisa dipetik, yang dinilai menjadi faktor penting bagi penguatan daya saing digital; edukasi digital, investasi terkait digitalisasi, dan komitmen bagi berkembangnya kewirausahaan. Dan ini berarti kemauan politis, kepemimpinan strategis, dan komitmen terhadap penguatan ekosistem digital, serta kebijakan yang tepat, bukan hanya mampu meningkatkan daya saing digital, tapi juga mengakselerasi transformasi digital.


,
×