Didin Hafidudin | Daan Yahya | Republika
22 Sep 2020, 02:54 WIB

Kompetensi Utama Para Dai

Para dai mesti memiliki kompetensi utama yang berlandaskan nilai-nilai dalam ajaran Islam.

OLEH KH DIDIN HAFIDHUDDIN

Umat Islam adalah umat dakwah, yaitu umat yang mendapatkan amanah dari Allah SWT untuk senantiasa terlibat aktif dalam mendorong, menyuruh, dan mempelopori segala kegiatan yang baik, kegiatan yang bermanfaat, dan kegiatan yang berguna bagi kehidupan masyarakat dalam berbagai sisi dan segi, baik dengan lisan, tulisan ataupun contoh amal perbuatan (amar makruf).

Bahkan dakwah dengan contoh perbuatan yang nyata, kadangkala terasa lebih kuat dampaknya ketimbang hanya lisan dan ucapan (lisaanul haal aqwa min lisaanil maqaal). Sebaliknya, umat Islam diamanahkan pula melarang berbagai perbuatan dan tindakan yang merusak dan menghancurkan tatanan kehidupan dalam berbagai bidang (nahi mungkar).

Amar makruf nahi mungkar ini adalah dua sisi dakwah yang tidak boleh dipisahkan. Dan ketika dua-duanya dilakukan secara konsisten dan istiqamah, maka mengundang al-falah (kemenangan dan kesuksesan) dan pertolongan Allah SWT.

Terkini

Perhatikan firman-Nya dalam surah Ali Imran [3] ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

 
Amar makruf nahi mungkar ini adalah dua sisi dakwah yang tidak boleh dipisahkan.
 
 

Juga firman-Nya dalam QS al-Hajj [22] ayat 40 sd 41: “...Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa (40) (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Sebaliknya, jika kaum Muslimin tidak mau terlibat aktif dalam kegiatan dakwah amar makruf nahi mungkar sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing atau bermasa bodoh terhadap kegiatan ini, maka akan terjadi musibah dan malapetaka.

Hal ini sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bazzar, Rasulullah SAW bersabda: “Hendaklah kalian menyuruh berbuat baik dan mencegah dari kemunkaran karena kalau tidak begitu, maka Allah akan menjadikan orang-orang yang jahat di antara kalian berkuasa atas diri kalian, sehingga orang-orang pilihan di antara kalian berdoa (agar mereka binasa), akan tetapi doa mereka tidak dikabulkan oleh-Nya.”

Harus disadari oleh kita semuanya bahwa predikat khaira ummah (umat yang terbaik) sangat erat kaitannya dengan amar makruf nahi mungkar, sebagaimana firman-Nya dalam QS Ali Imran [3] ayat 110: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah….”

Tiga kompetensi para dai

Agar dakwah amar makruf nahi mungkar berjalan dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang optimal, maka para pelaku dakwah (dai) mesti menguasai paling tidak tiga hal. Ini merupakan persyaratan untuk memiliki kompetensi utama yang berlandaskan nilai-nilai dalam ajaran Islam, berikut.

Pertama, para dai harus mutafaqqih fid din atau fiqhuddin. Memahami ilmu agama secara mendalam sehingga menjadi rujukan masyarakat untuk bertanya berbagai hal terkait kehidupan mereka. Para dai adalah sosok yang dekat dengan masyarakat. Mereka dipercaya masyarakat.

Allah SWT berfirman dalam QS at-Taubah [9] ayat 122: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama (tafaqquh fiddin) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya bila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Kedua, para dai itu sosok yang memahami perkembangan zaman dan keadaan dalam berbagai bidang dengan beragam sisi, baik sisi positif yang memberi harapan maupun negatif yang menghawatirkan, demikian tulis Imam al-Baihaqi dalam kitab Dalaailun Nubuwwah.

 
Para dai itu sosok yang memahami perkembangan zaman dan keadaan dalam berbagai bidang dengan beragam sisi.
 
 

Para dai adalah sosok yg memiliki fiqhun naas dan fiqhul waaqi’. Sesuai dengan perkembangan zaman, maka metode dakwah yang digunakan para dai sekarang di samping secara bertatap muka dalam majelis, juga harus memanfaatkan kemajuan teknologi seperti mengisi media sosial (medsos) dengan konten berisikan amar makruf nahi mungkar. Juga dilakukan secara online sebagaimana sekarang ini.

Ketiga, para dai itu sosok yang memiliki akhlakul karimah, memiliki integritas pribadi yang kuat. Menjadi panutan umat dalam tingkah laku keseharian. Umat bukan sekadar melihat pandangan dan opininya, tetapi juga melihat perilaku kesehariannya. Tidak ada gap antara yang diucapkan dengan yang dilakukan. Pikirannya lurus, akidahnya benar, ucapannya terstruktur bermuatan yang hak dan berpihak pada yang hak. Jauh dari ucapan menyakitkan, memfitnah, dan mengadu domba.

Mari kita renungkan hadis yang berisikan warning dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bayhaqi, Rasulullah SAW bersabda: “Dari Ali bin Abi Thalib RA berkata, bersabda Rasulullah SAW: 'Akan datang pada ummatku suatu zaman, yang tidak tersisa dari dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Alquran kecuali tulisannya, masjid mereka ramai tetapi sepi dari petunjuk, ulama mereka sejelek-jelek manusia di kolong langit, darinya keluar fitnah dan kepada mereka fitnah tersebut kembali.”

Sehubungan dengan ramainya perbincangan tentang sertifikat bagi para dai, maka tiga hal di atas (mutafaqqih fiddin, mutafaqqih finnnas/mutafaqqih fil waqi’, dan memiliki akhlaqul karimah) merupakan kompetensi utama setiap dai, sehingga dakwah yang dilakukannya akan komprehensif dan syumuliyyah, mencakup semua bidang kehidupan.

Kita perlu dai yang punya keahlian di bidang kesehatan, ekonomi, budaya, pendidikan, sosial, bahkan juga politik. Karena sesungguhnya bidang-bidang itu adalah bagian penting dari ajaran Islam.

 
Kita perlu dai yang punya keahlian di bidang kesehatan, ekonomi, budaya, pendidikan, sosial, bahkan juga politik.
 
 

Pada masa pandemi Covid-19 sekarang ternyata tidak cukup menanganinya hanya dari aspek kesehatan, tetapi juga memerlukan penanganan secara rohani dan spiritual, yang mungkin bisa dilakukan oleh para dai. Mereka menyuruh pada kesabaran, keikhlasan, dan semakin dekat dengan ajaran agama, dan semakin dekat dengan ibadah dan zikir pada Allah SWT sehingga menghasilkan ketenangan, meskipun misalnya sedang terpapar Covid-19.

Allah SWT berfirman dalam QS ar-Ra’d [11] ayat 28-29: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram (28). Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik (29).”

Wallahu a’lam bi ash-shawab.


×