Warga memberi makan ikan di selokan Cibenda, Kampung Lauk, Babakan RW 11, Kelurahan Bubulak, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (1/5/2020). Dengan Gerakan Pungut Plastik (Gepuk), warga di kampung tersebut merubah selokan yang sebelumnya dipenuhi sampah plastik | ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO

Bodetabek

Bersama Melestarikan Kampung Lauk Bogor

Kampung Lauk Bogor menjadi destinasi wisata masyarakat setempat.

 

 

Gemercik air mulai terdengar di Kampung Babakan, Bubulak, Bogor Barat, Kota Bogor. Aliran Sungai Cibenda, mengalir sedikit deras karena disekat dengan besi melintang.

Besi sepanjang dua meter sengaja dipasang sebagai penyaring sampah kiriman dari aliran sungai induk, Kali Cisindangbarang. Sejak bulan September 2019, Kelurahan Bubulak telah memprogramkan bersih sungai dengan mengusung jargon, Kali Bersih.

Dengan membentuk gerakan pungut sampah plastik (Gepuk) dari swadaya, warga berjibaku mengangkat sampah yang menumpuk pada besi penyekat. Setelah berjalan hampir empat bulan, tepatnya Desember 2019, sungai mulai terbebas dari sampah lokal. 

Kemudian, muncul sebuah ide melepas setidaknya 700 ikan di Sungai Cibenda sepanjang 100 meter dengan lebar sekitar dua meter yang telah disekat dengan besi. Tujuannya, menyadarkan masyarakat untuk tak lagi membuang sampah ke sungai.

"Pada Desember (2019) menjelang tahun baru, muncullah ide. Gimana kalo kita tanami ikan?," tutur Wakapolsek Bogor Barat sekaligus mantan Ketua RW 11, Kampung Bubulak, AKP Wawan kepada Republika beberapa waktu lalu.

Berkat ide itu, Kampung Bubulak berubah menjadi Kampung Lauk. Setidaknya terdapat tiga kerambah dan satu sekat besi pada Sungai Cibenda tanpa kerambah untuk melepas ikan yang besar. "Karena kan yang besar ini sudah tidak bisa lepas dari skat," ujar dia.

Agar ikan tetap terjaga, Wawan mengusulkan untuk mendirikan sebuah saung. Dengan harapan, warga yang menjaga ikan atau Tim Gepuk memiliki tempat berteduh. Dari saung itu, banyak ide yang bermunculan untuk terus mengembangkan kampung itu. Sayangnya, Covid-19 mulai menyerang Kota Bogor pada bulan Maret 2020.

Warga mulai berpikir untuk mencegah persebaran Covid-19 di wilayahnya dengan membentuk RW Siaga. Saung kian aktif sebagai tempat singgah masyarakat. Bahkan, berubah menjadi sarana mengaji dan edukasi (Samedi).

"Pada akhir pekan, di Saung Samedi ini ada anak belajar mengajar. Yang ngajar dari IPB (Institut Pertanian Bogor)," kata Wawan.

photo
Warga berjalan di dekat selokan Cibenda, Kampung Lauk, Babakan RW 11, Kelurahan Bubulak, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (1/5/2020). Dengan Gerakan Pungut Plastik (Gepuk), warga di kampung tersebut merubah selokan yang sebelumnya dipenuhi sampah plastik menjadi tempat untuk budidaya ikan dan hasilnya dapat dimanfaatkan - (ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO)

Sejak saat itu pula, warga mulai dilibatkan dalam upaya memperkuat ketahanan pangan. Sehingga, terlahir ide untuk menanam sayur, mulai dari kangkung, bayam dan pakcoy dengan sistem aquaponik yang menggunakan bambu sebagai mediumnya. Meskipun belum dikomersialkan, Kampung Bubulak yang kini telah dikenal sebagai Kampung Lauk terus berkembang dan menarik wisatawan.

Secara tidak disengaja, Wawan mengatakan, Kampung Lauk menjelma menjadi kampung tangguh hingga dikukuhkan sebagai Kampung Lembur Tangguh Tohaga Lodaya pada bulan lalu. Sebab, Kampung Bubulak telah memenuhi empat kriteria sebagai untuk menyandang gelar Kampung Lembur Tangguh Tohaga Lodaya. Yaitu, tangguh dalam sektor kesehatan, ekonomi, keamanan dan pariwisata.

Wawan mengatakan, menjaga kampung itu tetap eksis tidaklah mudah. Tim Gepuk yang hanya berjumlah 16 orang tim inti akan menghadapi tumpukan sampah kala turun hujan hingga tiga truk motor sampah. Pasalnya, bendungan di Kali Cisindangbarang tak lagi mampu menahan debit sampah.

Ia berharap Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat dapat memperbaiki bendungan di Kali Cisindangbarang. Pasalnya, bendungan itu merupakan sumber kiriman sampah jika terjadi hujan. "Harapannya, ini dibendung biar tidak meluber sampahnya ke sini saat hujan," ujar dia.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengklaim, Kampung Lauk telah diakui Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dan Polresta Bogor. Karena itu, Dia meminta, masyarakat dapat mempertahankan kampung itu untuk selanjutnya dikomersilkan.

Dedie mengatakan kendala utama dalam mempertahankan Kampung Lauk yakni debit air Sungai Cibenda yang tidak stabil. Meskipun demikian, Dedie meminta, masyarakat mulai membentuk kelompok kerja wisata. Demikian, wahana wisata di Kampung lauk dapat terus ditambah.

"Di samping sungai itu kan ada lahan kosong. Itu katanya mau dimanfaatkan sebagai restoran atau warung. Kalau itu sudah ada wisatawan lambat laun akan berdatangan ke sana," kata Dedie.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat