Ilustrasi bunga: Putik Safron di Sayap Izrail | dpa
25 May 2020, 10:14 WIB

Putik Safron di Sayap Izrail

Apakah engkau malaikat Izrail yang ditugaskan Allah untuk menjemputku?

OLEH AKMAL NASERY BASRAL*

Mang Embot tak memercayai penglihatannya. Diedarkannya pandangan ke sekeliling. "Subhanallah!" desisnya berulang kali dengan takjub. Ini memang jalan yang biasa ditempuh ke kota yang berjarak 15 km dari kampungnya di pinggang Bukit Halimun. Jalan tanah berbatu, semak belukar di beberapa bagian, dan rompal di bagian lain karena terban. Tak jarang tercium bau busuk bangkai hewan bercampur tumpukan sampah.

Namun, kali ini semua yang dilihatnya berbeda. Lingkungan asri menyenangkan mata, gemercik air merdu di telinga. Udara wangi membuat nyaman rongga dada. Yang paling istimewa terlihat sebuah masjid dengan kubah mutiara. Dindingnya pualam kelas satu. Begitu permata. Dengan degup hati menggila didekatinya masjid itu. Jantungnya nyaris meledak mencium keharuman menguar dari teras. Enak sekali. Jika terasnya saja seperti ini, bagaimana kondisi di dalamnya?

Mang Embot tak paham bagaimana dalam sekedipan mata dia sudah di tempat wudhu. Air mengalir begitu saja mengucur te pat di depannya, tanpa keran. Begitu jernih dengan suhu nyaman. Seusai bersuci, Mang Embot ragu memasuki masjid karena pakaiannya tambal sulam. Bagaimana dia memasuki Rumah Allah? Sedangkan, memasuki pendopo desa ketika lurah hadir saja harus rapi. Apatah lagi kini sebagai makhluk yang memasuki rumah Khalik.

Terkait

Namun, kakinya terus bergerak seakan di dorong kekuatan gaib dari belakang.

"Hei!" Mang Embot memprotes. Dia menoleh ke belakang, tak ada orang. Kedua kakinya menginjak teras masjid. Telapak kakinya yang tebal, kasar, dan pecah-pecah, kini terawat seperti kaki bangsawan. Begitu pun tangannya. Jemarinya yang kapalan kini bak tangan pangeran. Lebih ajaib lagi, pakaian usangnya menjadi gamis panjang beludru kelas satu.

Sebelum memasuki ruang utama, dia melihat pantulan wajahnya pada kaca. Astaga, wajah keriputnya tiada! Yang terlihat paras diri saat berusia 30-an. Aneh. Mang Embot tak sempat memikirkan lagi karena kakinya terus mengancik ruang ibadah utama yang membuatnya makin kagum. Sebuah keindahan yang tak tergambarkan.

Ditunaikannya shalat Tahiyatul Masjid. Lidahnya nyaman mendaraskan rangkaian kalimat Ilahi yang cukup terdengar oleh telinganya sendiri. Suara secempreng piring kaleng yang biasa keluar dari mulutnya berubah semerdu suara qari pemenang MTQ. Air matanya mengalir. Kelopak matanya terpejam, karam dalam samudra kebahagiaan.

Saat matanya terbuka, Mang Embot tertegun. Matanya terhalang gumpalan kapas. Posisi tangannya bersidekap erat di dada, tak bisa digerakkan. Tubuhnya terbungkus kain ketat. Badannya membujur dengan posisi kaki dan kepala sejajar, tidak seperti saat shalat. Apakah ini mimpi? Atau kenyataan sejati?

***

photo
Ilustrasi bunga: Putik Safron di Sayap Izrail - (EPA)

Tak ada warga Bukit Halimun yang tahu nama asli Mang Embot. Dia selalu merendah dengan menyebut profesi sebagai marbot masjid. Panggil Embot saja, katanya seperti diingat para tetua. Namun, warga merasa risih jika memanggil nama saja. Mereka menambahkan panggilan Mang untuk menghormati.

Di tangan Mang Embot, masjid mereka yang sederhana tak pernah kotor, apalagi menyebar bau tak sedap. Area buang hajat pun tak bau pesing. Mang Embot selalu membersihkan dengan teliti lantai tempat ibadah yang dilapisi karpet hijau pudar, menjaga sudut-sudut plafon dari sarang laba-laba, menyikat ubin tempat wudhu sehingga tak ada lumut yang bisa membuat jamaah terpeleset.

Tubuh Mang Embot kurus, liat, dengan urat menonjol di sekujur tangan dan kaki. Tubuhnya didera penyakit gula dan nyeri berulang di bagian perut, yang setelah diperiksa dokter hasilnya positif kanker usus. Mang Embot menyimpan rahasia ini dari pengetahuan jamaah meski istrinya menyarankan agar berterus terang.

"Sakitku tak ada seujung kuku penderitaan Nabi Ayub. Lagi pula sebagian besar hidupku selalu sehat. Penyakit bermunculan karena tambah tua saja. Itu biasa. Kamu, Ambu, jangan pernah keceplosan mengatakan soal ini kepada siapa pun," katanya tegas. Mang Embot juga pandai memijat dan bersedia dipanggil kapan saja dengan satu kondisi: 30 menit sebelum waktu shalat wajib tiba, dia harus berada di masjid.

Salah seorang jamaah penggemar pijatan Mang Embot adalah Haji Dulgani, pedagang antarprovinsi. Seusai dipijat, Haji Dulgani selalu memberikan uang dalam amplop dan hadiah. Dari baju koko model terbaru (lengkap dengan baju Muslimah bagi istri Mang Embot), kopiah motif unik, sarung bordir indah, dan mushaf Alquran cetakan terbaru. Suatu saat Haji Dulgani memberikan hadiah berbeda berupa gumpalan benang merah seukuran sendok makan.

"Mengapa Ajengan memberikan saya gulali?" Mang Embot bingung.

"Ini bukan gulali," Haji Dulgani tersenyum. "Ini safron, rempah istimewa.

"Kelihatannya seperti benang putik bunga?"

"Betul, tapi bukan sembarang bunga. Untuk dapat satu sendok makan seperti ini dibutuhkan lebih dari 150 bunga. Tumbuhnya sebagian besar di Iran, India, dan beberapa negara lain. Kebetulan saya baru dari India." **)

Mang Embot terbelalak. "Subhanallah. Mengapa diberikan buat saya, Ajengan? Saya tidak tahu cara menanamnya."

"Memang bukan untuk ditanam, tapi buat obat."

"Obat?" Mang Embot makin terbeliak.

"Mang Embot memang tak pernah bilang punya penyakit, tetapi saya lihat Mang Embot juga tak selalu sehat ..."

"Saya sehat, alhamdulillah, potong Mang Embot yang cemas rahasianya terungkap."

"Syukurlah kalau begitu," tukas Haji Dulgani. "Safron bisa menjadi obat kanker, diabetes, dan banyak penyakit lain. Rendam sehelai benang safron dalam air putih, tunggu sampai warna air berubah kuning, lalu diminum satu gelas sehari. Untuk jaga kesehatan."

Begitulah awalnya. Setiap hari Mang Embot minum segelas air safron. Setelah sebulan, dia rasakan kondisi tubuhnya membaik. Siksaan penyakit gula dan kanker ususnya jauh berkurang. Kini persediaan safronnya habis dan belum ada panggilan memijat lagi dari pedagang itu.

Baru dua bulan kemudian Haji Dulgani yang baru kembali dari Cina meminta Mang Embot untuk memijat lagi.

Istri Haji Dulgani menyambutnya di depan pintu dengan cemas. "Mang Embot, selesai pijat Abah tolong suruh dia ke dokter."

"Memang Ajengan sakit apa?" Mang Embot penasaran.

"Dia bilang kecapekan biasa," ujar perempuan itu. "Tolong ya Mang. Kalau saya yang bilang Abah nggak mau dengar."

Istri Haji Dulgani mengantarkan Mang Embot menuju kamar tidur utama yang membuat Mang Embot ragu. "Mengapa di sini? Biasanya di ruang keluarga yang ada TV karena Ajengan suka dipijat sambil nonton berita."

"Abah sendiri yang minta dipijat di kamar kali ini."

Dengan sungkan Mang Embot memasuki kamar itu. Haji Dulgani menyapanya sebentar, sebelum tertidur mendengkur begitu kelihaian tangan Mang Embot menyentuh tubuhnya. Biasanya dia tak pernah tertidur selama dipijat, selalu bercerita banyak hal yang dialaminya pada kota yang baru dikunjungi.

"Ajengan pasti sangat lelah," desis Mang Embot yang terkejut mengetahui suhu tubuh Haji Dulgani lebih tinggi dari biasanya. Hampir dua jam ke mudian, Haji Dulgani terbangun dan bersin beberapa kali.

"Maafkan saya," katanya berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam tas. Amplop tebal dan kumpulan benang safron dalam plastik tembus pandang. "Safron Mang Embot pasti sudah habis ya?"

"Betul, Ajengan," jawabnya lirih agar tidak terkesan sedang meminta.

"Alhamdulillah. Berarti cocok. Ini ambil lagi."

"Cocok, Ajengan. Terima kasih." Mang Embot teringat pesan istri Haji Dulgani. "Badan Ajengan agak panas. Apakah tidak sebaiknya ke dokter?""

"Ah, tidak perlu. Kalau sudah dipegang Mang Embot, sebentar lagi juga sembuh." Haji Dulgani mengibaskan tangannya. "Saya hanya perlu tidur sebentar lagi."

***

photo
Ilustrasi bunga: Putik Safron di Sayap Izrail - (AP)

Safron pemberian Haji Dulgani diberikan Mang Embot kepada istrinya yang lalu membuatkan minuman. Hari itu Mang Embot merasakan tubuhnya segar kembali sehingga dia menghabiskan waktu dengan membersihkan sudut-sudut masjid tanpa merasa lelah. Para pengurus dan jamaah terkagum-kagum padanya.

Keesokan harinya Mang Embot kesulitan bangun pada jam tiga dini hari seperti biasa. Persendian tubuhnya ngilu, beberapa kali dia terbatuk. Istrinya menjerang air panas. Namun, setelah melihat Mang Embot masih terbaring lunglai, dia menyarankan agar sang suami shalat Subuh di rumah saja. Mang Embot bangkit dengan susah payah. "Aku belum pernah ketinggalan shalat Subuh selama 40 tahun menjadi marbot."

Selama Subuh berjamaah Mang Embot menahan bersin yang menderu-deru di rongga dada sehingga begitu mengucapkan salam dia menghambur ke kamar mandi, melampiaskan bersin berkali-kali. Ulu hatinya seperti teronggok bara api.

Biasanya sehabis Subuh Mang Embot tak pernah tidur sebelum membaca Alquran satu juz sampai tiba waktu syuruq. Kali ini badannya tak mau diperintah otaknya. Badannya membangkang ingin istirahat, membuatnya tertidur sampai Zhuhur. Saat terbangun alih-alih badan segar, justru tenggorokan kering dan demam samar. Istrinya melarang ke masjid. "Nanti malah menulari jamaah. Mau begitu?" Zalim namanya, katanya kesal.

Yang tidak diketahui Mang Embot dan istri, pada saat yang sama Haji Dulgani dipaksa keluarganya ke rumah sakit di kota, langsung rawat inap. Bahkan, diisolasi terpisah karena pemeriksaan medis menunjukkan pedagang itu terjangkit infeksi dari luar negeri. Satu demi satu pasien lain juga berdatangan, menunjukkan gejala serupa dengan Haji Dulgani.

Keesokan harinya kesehatan Mang Embot kian anjlok. Sang istri meminta bantuan tetangga untuk membawanya ke puskesmas, yang merujuk marbot sepuh itu ke RS yang sama dengan Haji Dulgani.

Di perjalanan, Mang Embot merasakan paru-parunya sakit sekali. Napasnya semakin payah, tersendat-tercekat. Matanya yang mengabur melihat segelas air minum rendaman putik bunga safron disodorkan kepadanya, tapi bukan tangan istrinya. Tangan itu susah digambarkan karena belum pernah dia lihat seumur hidup. Terlihat juga kibasan sayap dari makhluk yang juga tak bisa dijelaskannya.

"Apakah engkau malaikat Izrail yang ditugaskan Allah untuk menjemputku?" Mang Embot berjuang keras melontarkan tanya. Makhluk itu mengangguk.

Pertanyaan Mang Embot tak terdengar oleh istrinya. Yang dilihat perempuan itu hanya senyum sang suami mengembang perlahan berbarengan ucapan lirih yang meluncur lancar, "Asyhadu an laa ilaaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah." Setelah itu mata Mang Embot menutup sempurna.

Istrinya kini paham apa yang terjadi. Ditahannya derai tangis yang siap memburai. Dari bibir tuanya yang kisut, perempuan salehah itu bergumam sedih, "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu."

 

Cibubur, 5 Ramadhan 1441 H

28 April 2020

 

photo
Penulis novel Akmal Nasery Basral dalam acara meet and greet dan bedah buku novel di Masjid At-Tin, Jakarta Timur, Ahad (30/12/2018) - (Republika/Iman Firmansyah)

 

*Akmal Nasery Basral berdarah Minang lahir di Jakarta, 28 April. Menulis cerpen, novel, dan biografi.

[**]) Safron (Crocus sativus) memiliki kepala putik (stigma) seperti benang. Fungsinya selain sebagai pewarna alami makanan (warna kuning) juga berfungsi sebagai antioksidan dan antidepresi yang bermanfaat untuk menyembuhkan kanker, tumor, alzheimer, dan penyakit lain. Harga 500 gram safron bisa lebih Rp 30 juta.

 


Terkini

×