Penjual kulit ketupat menata jualannya di Pasar Besar, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Rabu (20/5/2020). Suasana Idul Fitri nanti dalam kondisi pandemi Covid-19 belum berakhir. | Makna Zaezar/ANTARA FOTO
26 Nov 2020, 09:38 WIB

Idul Fitri di Tengah Pandemi

Pada masa sulit ini, jangan sampai kita kehilangan makna dan hakikat Idul Fitri.

OLEH ALI YUSUF

Bulan suci Ramadhan tahun ini akan segera berlalu. Ada rasa sedih karena akan berpisah dengan bulan mulia ini. Namun, pada saat yang sama, muncul rasa bahagia karena akan merayakan kemenangan pada Hari Raya Idul Fitri.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia MUI KH Anwar Abbas mengatakan, Idul Fitri adalah hari suci. Sebab, secara konseptual jika kita bisa melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan mengisi malam-malamnya dengan ibadah serta banyak berbuat baik, kita akan hadir pada 1 Syawal sebagai manusia yang sudah bersih dari dosa.

"Karena kata Nabi Muhammad SAW, siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, diampunilah oleh Allah SWT dosa-dosanya yang sudah berlalu," kata ulama yang akrab disapa Buya Anwar ini.

Terkait

Namun, lanjut dia, dosa yang diampuni Allah SWT itu adalah dosa kita kepada-Nya. Sedangkan, dosa kita kepada sesama yang bisa menghapusnya adalah manusia yang bersangkutan. Untuk itulah, agar benar-benar bersih dari dosa, kita dianjurkan oleh agama untuk saling bermaafan.

photo
Warga asal Gorontalo merayakan tradisi khas Tumbilotohe atau malam pasang lampu di rumahnya di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (20/5/2020). Warga perantau terpaksa merayakan tradisi khas kampung halaman mereka di perantauan akibat adanya larangan mudik guna mencegah penyebaran Covid-19 - (Mohamad Hamzah/ANTARA FOTO)

 

"Jadi, dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa untuk bisa menjadi manusia yang suci kita harus bisa membangun hubungan baik dengan Allah dan dengan sesama," katanya.

Menurut Buya Anwar yang juga ketua Bidang Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, di tengah pandemi ini, hubungan baik kita kepada sesama benar-benar diuji, apakah kita peduli atau tidak kepada saudara-saudara kita yang mengalami kesulitan.

Sementara, Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Islam (Persis) KH Jeje Zainuddin menerangkan, Idul Fitri dalam tataran makna etimologis berarti kembali kepada suasana berbuka puasa. Setelah sebulan penuh dididik secara ketat menahan lapar dan haus dengan niat berpuasa, saat Idul Fitri kita kembali diberi kebebasan makan dan minum kapan saja.

"Akan tetapi, spirit dan nilai puasanya tetap harus menjiwai pola hidup kita sepanjang tahun," ujar dia.

Artinya, kita harus selalu dapat mengekang kerakusan, melawan syahwat pada yang haram, dan empati terhadap penderitaan yang dialami sesama. Dalam tataran teologis, Idul Fitri bermakna sarana ritual kebahagiaan selepas puasa Ramadhan yang diwujudkan dengan berzakat fitrah, bertakbir, tahmid, tahlil, dan shalat hari raya sebagai wujud rasa syukur yang tulus atas karunia Allah yang Agung dengan selesainya syariat ibadah puasa yang penuh keberkahan.

"Sementara, secara sosiologis, Idul Fitri bermakna sebagai media sarana memperkuat ikatan sosial, meneguhkan hubungan kekerabatan, dan mempererat tali persaudaraan dengan melakukan silaturahim dan saling mengunjungi," katanya.

photo
Pemudik sepeda motor melintas di Jalur Pantura Jatisari, Karawang, Jawa Barat, Rabu (20/5/2020). Ratusan pemudik sepeda motor terpantau ramai melintas di Jalur Pantura Jatisari, Karawang dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah. Suasana Idul Fitri nanti dalam kondisi pandemi Covid-19 belum berakhir. - (NOVA WAHYUDI/ANTARA FOTO)

 

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Idul Fitri kali ini berada dalam suasana prihatin, bahkan duka nasional karena pandemi virus korona jenis baru (Covid-19) yang telah menelan banyak korban dan menyebabkan interaksi sosial dibatasi secara ketat, termasuk kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan perayaan Idul Fitri, seperti shalat Id di lapangan ataupun masjid.

"Namun, jangan sekali-kali kita merasa kehilangan makna dan hakikat dari Idul Fitri kali ini. Kita tetap dapat melak sanakan zakat fitrah, takbiran, dan shalat Id meskipun di lingkungan keluarga masing-masing," katanya.

Umat Islam, lanjut Kiai Jeje, tetap dapat memaknai dan menghayati Idul Fitri dengan bersilaturahim melalui media sosial, saling berkirim hadiah, dan saling mendoakan dengan kerabat, saudara, ataupun tetangga. "Idul Fitri dalam suasana pandemi juga lebih tepat kita maknai sebagai momen puncak keprihatinan yang positif," ujarnya.

Keprihatinan karena tidak dapat mudik, tidak dapat bersua keluarga besar di kampung halaman, ataupun tidak dapat saling bertukar makanan khas Lebaran dapat kita gantikan dengan sikap dan pola hidup hemat dan sederhana. Dengan demikian, kelebihan rezeki yang kita miliki saat Idul Fitri menjadi momentum terbaik untuk berbagi dengan saudara, tetangga, dan sesama. 


,
×