Tentara Israel menembakkan gas air mata ke kerumunan warga Palestina yang merayakan Nakbah di Al Sawiya, Nablus, tepi Barat, Jumat (15/5). | EPA-EFE/ALAA BADARNEH

Tajuk

18 May 2020, 02:00 WIB

Mengingat Kembali Palestina

Hingga kini, Palestina masih dalam nestapa. Akhir pekan lalu, tepatnya Jumat (15/5), mereka mengenang 72 tahun bencana yang menimpa mereka. Penjajahan Israel yang membuat tanah air mereka lepas dan menghadapkannya pada derita seperti sekarang.

Warga Palestina terlunta di tanah mereka sendiri. Terpenjara di penjara terbesar di dunia, Gaza. Langkah-langkah perjuangan telah ditempuh, tetapi kemerdekaan belum juga mereka raih. Sebaliknya, kini kondisi mereka kian terdesak.

Tanah mereka di Tepi Barat tak lama lagi akan dianeksasi Israel. Direngkuh menjadi bagian dari Israel untuk dijadikan sebagai permukiman. Meski dunia internasional mengecam dan menganggap langkah itu melanggar hukum internasional, Israel mengabaikannya.

AS sebagai sekutu dekat Israel telah memberikan lampu hijau atas langkah aneksasi tersebut. Presiden Donald Trump menegaskan dukungan AS. Penegasan itu disampaikan kembali Menteri Luar Negeri Mike Pompeo saat ke Israel belum lama ini.

 
Mendukung Palestina untuk mengantarkan mereka ke gerbang kemerdekaan memang butuh kesabaran ekstra. Perlu konsistensi dan napas panjang. Sebab, Israel selalu mendapatkan dukungan dari sekutu dekatnya, AS, yang memiliki kuasa veto di PBB.
 
 

Kondisi memprihatinkan di Gaza juga belum berubah. Blokade sejak 2007 masih berjalan, membuat mereka tak bisa ke mana-mana. Fasilitas dan akses kesehatan minim, apalagi dalam kondisi wabah Covid-19 ini.

Mendukung Palestina untuk mengantarkan mereka ke gerbang kemerdekaan memang butuh kesabaran ekstra. Perlu konsistensi dan napas panjang. Sebab, Israel selalu mendapatkan dukungan dari sekutu dekatnya, AS, yang memiliki kuasa veto di PBB.

Indonesia yang selama ini bersikap tegas dalam mendukung Palestina diharapkan tetap konsisten. Uni Eropa (UE) yang selama ini kritis terhadap Israel juga masih konsisten dalam isu mengenai Israel, di antaranya soal permukiman ilegal di Tepi Barat.

Sabtu (16/5) lalu, UE menegaskan sikapnya akan terus berupaya menghalangi aneksasi Tepi Barat. Kepala Kebijakan Politik Luar Negeri UE Josep Borrel menegaskan, “Kami akan menggunakan seluruh kemampuan diplomatik kami untuk mencegah aneksasi.”

Ia menyatakan, UE akan melakukan kontak dengan semua aktor di Timur Tengah dalam menangani konflik yang melibatkan Palestina dan Israel ini. Ia menegaskan, pihaknya tak ingin ada langkah unilateral dilakukan pihak manapun.

Selain gerakan politik negara-negara di dunia, gerakan masyarakat juga masih dibutuhkan sebagai kelompok penekan. Ini seperti dilakukan lebih dari 250 seniman dan penulis termasuk rocker Peter Gabriel, sutradara Ken Loach, dan aktor Viggo Mortensen.

Mereka mendesak Israel menghentikan blokade terhadap Gaza. Dalam surat bersama yang disampaikan secara daring, mereka menyatakan, epidemi virus korona bisa melahirkan dampak sangat buruk di wilayah Gaza.

Lama sebelum pandemi Covid-19, kata mereka, sistem kesehatan di Gaza sangat memprihatinkan, apalagi dalam kondisi pandemi seperti sekarang. Gaza yang dihuni lebih dari 2 juta warga bakal menghadapi ancaman mematikan akibat blokade itu.

Dengan serangkaian lockdown karena korona, di mana warga dunia harus berada di rumah selama puluhan hari hingga berbulan-bulan, semoga membangkitkan empati atas nasib warga Gaza yang diblokade bertahun-tahun, tak bisa bergerak bebas ke mana-mana.

Masih butuh perjuangan dan konsistensi dunia untuk mengantarkan Palestina ke gerbang kebebasan. Dengan mengingat Palestina, kita berharap dunia, meski mesti menempuh jalan berliku, tetap memiliki semangat untuk mengakhiri derita kemanusiaan Palestina. ';

×