Husein Ja'far Hadar | Dok Instagram Husein Hadar
04 Jun 2020, 05:01 WIB

Husein Ja'far Al Hadar: Dimensi Kesuksesan Ramadhan

Habib Ja'far menyebut tolok ukur kesuksesan Ramadhan pada dua dimensi.

 

Siapa yang tak ingin meraih kesuksesan? Bagi tiap Muslim, saat ini pencapaian yang urgen ialah mengoptimalkan Ramadhan. Sebab, bulan suci ini menjadi kesempatan luas untuk memperbanyak amalan dan memperbaiki kualitas ketakwaan.Harapannya, di Hari Kemenangan diri kita dapat menjadi insan yang suci, kembali kepada fitrah-- Idul Fitri.

Hal itu disampaikan mubaligh muda, Husein Ja'far Al Hadar. Direktur Study of Philosophy (Sophy) ini menjelaskan, kesuksesan dalam bulan Ramadhan dapat diraih dengan berfokus pada hablum-minallah, yakni memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah SWT. Di samping itu, Muslimin yang berpuasa pun sudah semestinya menjalin hubungan baik dengan sesama manusia. "Kita punya dua dimensi kehidupan, yaitu vertikal (hablum-minallah) dan horisontal (hablum-minannas). Kesuksesan Ramadhan tolok ukurnya adalah sukses pada dua dimensi itu," ujar dai yang akrab disapa Habib Ja'far itu.

Pada Ramadhan tahun ini, akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah tersebut kerap mengisi berbagai kajian via media sosial. Corak dakwahnya cukup menarik perhatian khalayak, terutama dari kalangan milenial. Berikut perbincangan wartawan Republika, Muhyiddin, dengan Habib Ja'far baru-baru ini.

Terkini

photo
Husein Jafar Hadar - (Dok Pri Foto)

Menurut Anda, apakah hakikat berpuasa?

Secara bahasa maupun fikih, puasa berarti menahan atau imsak. Hakikat puasa adalah menahan diri untuk satu waktu atau keadaan tertentu dari apa yang sebenarnya dibolehkan kepada kita. Imsak (menahan) ini demi suatu kemaslahatan yang lebih besar, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Terutama, untuk meraih ridha Allah SWT.

Oleh karena itu, secara fikih, misalnya, kita boleh dan berhak makan, minum, atau menyalurkan syahwat suami-istri. Namun, saat puasa semua itu ditahan sejak subuh sampai maghrib. Ini untuk meningkatkan ketakwaan kita. Sebab, takwa lebih baik bagi kita ketimbang makan, minum, dan berhubungan suami-istri tadi.

Begitu pula dalam berbagai hal di kehidupan ini. Pilih memaafkan ketimbang menuntut. Pilih menyedekahkan ketimbang konsumsi, dan lain-lain. Maka, puasa adalah pembelajaran tentang pupusnya ego. Harapannya, diri kita terdidik menjadi seperti Nabi Muhammad SAW, yang berakhlak mulia meski ke orang-orang yang tak berakhlak kepadanya.

Apa saja yang mesti dilakukan agar sukses melewati Ramadhan?

Kita punya dua dimensi kehidupan, yaitu vertikal hablum-minallah dan horisontal hablum-minannas. Kesuksesan Ramadhan tolok ukurnya adalah sukses pada dua dimensi itu. Yakni, mendapatkan ampunan dari Allah. Ampunan itu pun mesti diiringi maaf-memaafkan. Sebab, ini bulan penuh ampunan. Allah akan ampuni dosa kita pada orang lain setelah yang bersangkutan memaafkan kita.

Fokus dan selaraskan ibadah ritual dan sosial. Beristighfar dan beribadah serta jalin silaturahmi dan giatkan berbagi. Sehingga, saat Idul Fitri, kita menjadi pribadi seperti bayi yang terlahir kembali.

Sungguh merugi bila Ramadhan dilewatkan begitu saja tanpa peningkatan ketakwaan diri. Kesalehan individual atau orang per orang pun pada akhirnya dapat berimbas pada masyarakat luas, sehingga menjadi kesalehan sosial. Mudah-mudahan, kita lulus madrasah bernama Ramadhan ini.

Sebagai seorang dai yang aktif di media sosial, bagaimana Anda melihat internet?

Pada prinsipnya, medsos (media sosial) itu bebas nilai. Ia tak positif atau negatif. Bagaimana kita menggunakannya, itulah yang menentukan nilainya. Saya, misalnya, di bulan Ramadhan ini menggunakannya untuk dakwah dan berbagi.

Dakwahnya itu dengan saya bikin konten di YouTube serta kajian online dengan berbagai kalangan. Biasanya di Ramadhan sebelum-sebelumnya, kita kajian dengan tatap muka langsung. Namun, pandemi (Covid-19) tahun ini membuat kita harus secara online.

Medsos bisa juga dimanfaatkan untuk kita saling berbaginya. Misalnya, saya bikin penggalangan dana online serta lelang amal untuk korban pandemi, warga terdampak, dan tenaga medis.

Itulah keberkahan medsos bagi saya. Kalau tak ada medsos, sebagian hal baik itu mungkin tak bisa dilakukan kini. Mengingat, kita harus di rumah saja. Memang, di satu sisi puasa medsos mungkin perlu. Apalagi, kalau medsos biasa dijadikan ajang kita mem-bully atau saling memaki. Kalau sudah begitu, bukan hanya saat Ramadhan, tetapi sampai kita mampu menahan diri dari bermedsos secara negatif. Sebagaimana menurut para ulama, idealnya Ramadhan itu menggiatkan ibadah. Kalau saat bangun kita justru gemar bermaksiat, maka tidur itulah yang ibadah.

Apakah yang membuat Ramadhan pada zaman kini berbeda dengan masa silam?

Di era medsos ini, puasa kita bukan hanya shiyam, yakni dengan menahan lapar, haus, dan hal-hal yang membatalkan puasa. Kita pun melakukan shaum, yakni puasa dengan menahan bicara. Shaum ini sebagaimana yang dilakukan Sayyidah Maryam saat mengandung Nabi Isa AS. Bayi itu lahir tanpa ada ayahnya. Kisah ini dituturkan dalam Alquran surah Maryam ayat 26. Intinya, puasa bicara di medsos itu perlu kalau sekiranya pembicaraan kita tak bermanfaat atau justru menimbulkan mudharat.

Komponen-komponen puasa di era medsos yang harus diindahkan demi terjaganya pahala dan pembelajaran dalam puasa kita ada banyak. Misalnya, puasa menyebar hoaks, kebencian (hate speech), nyinyir, bully, atau bergunjing.

Kemudian, puasa dari godaan menyia-nyiakan waktu di medsos. Waktu terbuang sehingga kita lalai ibadah. Lalu, puasa dari berbicara yang bukan ahlinya. Di medsos, sering kali, kita sok tahu pada apa pun yang sedang viral, padahal itu bukan bidang kita. Musim korona, semua bicara seolah-olah ahli virus. Bahkan, berani membantah yang ahli virus.

Puasa dalam arti shaum tadi, menahan diri dari bicara apa pun yang tak bermanfaat apa-apa bagi publik. Jadikanlah medsos sebagai sarana dakwah, medium kampanye berbagi di tengah pandemi, menebar narasi optimisme, atau minimal yang lucu-lucu buat menghibur.

Puasa dari menanggapi akun anonim atau buzzer yang sengaja memancing emosi kita untuk menanggapi, berdebat, atau terjebak dalam keributan twit war. Tujuan mereka hanya untuk membuat kita kesal atau menggiring opini pada satu tujuan politis, sentimen agama atau suku.

Bagaimana Anda melihat dakwah Islam di kalangan milenial saat ini?

Ada dua tantangan utama dakwah di generasi milenial. Pertama, mereka yang berkecenderungan tak peduli agama. Entah yang memang tak anggap agama itu penting, ataukah ill feel pada agama. Sebab, mereka mungkin melihat fenomena umat beragama yang enggak asyik, kaku, jumud, atau bahkan keras. Kedua, mereka yang baru mengenal dan menjalankan agama. Ini biasanya lantaran tren hijrah di kalangan milenial.

Kepada yang pertama, tantangannya adalah memperkenalkan Islam dengan wajah yang milenialis. Mereka tak bisa diajak kembali ke Alquran dan Sunnah, tetapi berangkat dari Alquran dan Sunnah untuk kemudian ditafsirkan secara milenial. Yakni, kontekstual dengan mereka yang milenial dengan segala gayanya. Tentu, ini dengan patokan, tak bertentangan dengan nilai-nilai dasar Islam.

Generasi milenial lebih senang mendengar point of view yang related dengan mereka, ketimbang ditundukkan dengan dalil-dalil. Kepada mereka, kita yang harus mendatangi. Makanya, saya umpamanya, menyelenggarakan ngaji di kafe, via Youtube, atau tempat-tempat asyik lainnya yang menurut milenial. Kemasan pengajiannya juga harus asyik. Tak menggurui. Disampaikan dengan bahasa populer. Tema-tema yang dipilih pun mesti dekat dengan mereka. Yang terpenting, memberikan solusi, bukan hanya menghukumi.

 
Kalau tak ada medsos, sebagian hal baik itu mungkin tak bisa dilakukan kini.
 
 

Dalam Ramadhan di Era Covid-19 ini, apa saja harapan Anda?

Sebenarnya saya ingin berharap pada diri saya sendiri terlebih dahulu. Syukur-syukur, kalau ini juga menjadi harapan kebanyakan Muslimin. Sebab, dari pandemi ini saya belajar untuk utamanya mengurus diri dan keluarga yang justru kita sering abai. Sebab, kita mungkin merasa sudah baik dan berhak memperbaiki orang banyak. Padahal, jaga diri dan keluarga dari api neraka itu adalah perintah Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam surah at-Tahrim ayat 6.

Harapan saya pada diri saya setelah Ramadhan di tengah pandemi ini, saya menjadi pribadi yang tahu apa yang harus diprioritaskan. Bahwa utamanya, dalam beragama adalah kehadiran hati.

Saya belajar dari sepinya Ka'bah. Bahwa utamanya adalah mengingat Allah dalam hati saya. Ibaratnya, banyak orang ke Ka'bah untuk bertemu Allah, tetapi meninggalkan dari mengingat Allah di dalam hatinya. Sehingga di Ka'bah pun ia tak akan menemukan kedamaian. Pulang dari haji atau umrahnya pun tanpa pengalaman spiritual yang dapat mengubah hidupnya, memperbaiki keberislamannya.

Saya juga belajar bahwa utamanya yang harus kita kuatkan adalah solidaritas dengan sesama manusia dan alam. Apa pun perbedaan, kita harus bersolidaritas dalam kemanusiaan, seperti kita yang saling tolong-menolong di tengah musibah pandemi ini.Karena, siapa yang bukan saudara saya dalam agama, dia saudara saya dalam kemanusiaan. Itulah arti berjamaah dan bersilaturahmi. Juga tentu dengan alam, agar kita tak terus menyakiti alam dengan nafsu eksploitasi yang akhirnya mengundang berbagai musibah.

photo
Husein Jafar Hadar - (Dok Instagram Husein Hadar)

 

Mengampanyekan Islam Cinta

Di dunia dakwah, Habib Husein Ja'far Al Hadar turut aktif dalam Gerakan Islam Cinta. Melalui gerakan itu, ia ingin memperkenalkan dan menyebarluaskan aspek cinta dalam Islam. Menurut akademisi UIN Syarif Hidayatullah itu, Islam Cinta saat ini perlu dikampanyekan di seluruh Tanah Air.

Umat Islam Indonesia sendiri selama ini sudah kerap mendengar dari para pendakwah tentang aspek hukum dalam Islam. Habib Husein mengatakan, begitu populernya aspek hukum ini. Sampai-sampai, fenomenolog agama di Barat, seperti Van der Leeuw dan lain-lain, akhirnya cenderung menggolongkan Islam sebagai agama hukum.

Dapat dirasakan sendiri bagaimana umat Islam saat ini terus disuguhi pembahasan dan diskusi perdebatan tentang hukum. Akhirnya, sebagian Muslimin lebih sibuk berdebat dan bahkan saling menyalahkan satu sama lain hanya karena berbeda keyakinan hukum dalam menyikapi suatu fenonema. Padahal, lanjut dia, mereka sama-sama Muslim dan punya dalil yang valid.

"Adapun aspek cinta dalam Islam kurang terdakwahkan. Padahal, semua aspek dalam Islam itu --latar belakang, penerapan, dan orientasinya-- adalah cinta," ujar Habib Husein Ja'far kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Dia mencontohkan suatu hal dalam akidah. Allah SWT memperkenalkan Diri-Nya sebagai Yang Maha Cinta. Yakni, Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Bacaan Bismillahirrahmanirrahim diucapkan sehari-hari, minimal dalam shalatnya orang-orang Islam. Firman Allah SWT dalam surah al-An'am ayat 54 pun menegaskan, semua ketetapan-Nya penuh cinta.

"Dia mencintai hamba-Nya yang bahkan tak menyembah-Nya (yakni) dengan tetap menjamin rezeki bagi mereka. Begitu pula, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai Nabi Ar-Rahman, yakni nabi yang penuh cinta. Beliau membalas cacian dan kebencian orang-orang Thaif, misalnya, justru dengan doa dan cinta," ujar Habib Husein menjelaskan.

Rasulullah SAW mendidik umat Islam agar berakhlak dengan penuh cinta. Akhlak kebajikan hendaknya ditunjukkan, sekalipun kepada orang- orang yang memusuhi agama ini. Untuk menebarkan Islam Cinta, pada bulan Ramadhan ini Habib Ja'far telah merampungkan sebuah buku karyanya. Tulisan ini membahas tentang aspek cinta dalam seluruh ajaran Islam, baik dari sisi akidah, hukum, sampai akhlak. Menurut dia, karya itu akan segera terbit dalam waktu dekat.

"Dakwah Islam Cinta itulah yang saya yakini akan mendidik kita menjadi pribadi Muslim yang bukan hanya taat ibadah, tapi penuh cinta. Dengan cinta pula, semakin ibadah, maka kita semakin cinta sesama, alam, dan semua makhluk-Nya," jelasnya.


×