Puisi Si Buta dan Malam | Daan Yahya/Republika

Sastra

Si Buta dan Malam

Puisi-puisi Adisman Libra

Oleh ADISMAN LIBRA

 

Si Buta dan Malam

 

Seorang lelaki buta tersenyum 

Ia melewati trotoar-trotoar kelam  

Mencari sesuap nasi di pasar raya 

Pendengarannya sunyi dari gesekan logam    

Sementara para pedagang pulang tanpa basa-basi   

Membawa untung sebelum malam berkabung 

Oh, tinggallah lelaki buta  berkawan sepi

Ia menepi dengan sebatang tongkat di tangannya

Matanya berbinar bila terdengar suara azan

Bergegas ia mengabdi kepada Ilahi 

 

Padang, 10 September 2026

***

 

Misteri Lesung Pipi Hayati

 

Barangkali di lesung pipimu, Hayati

Adalah bagian semangat hidup seorang lelaki

Yang gemar mendaki sampai atap negeri

Barangkali di lesung pipimu, Hayati.

Telah tumbuh tujuh bunga mawar ragam rupa 

Yang terus kau sirami di istana

Barangkali di lesung pipimu, Hayati.

Bunga edelweiss tak pernah tumbuh yang kita janjikan sebagai lambang setia

Sehingga mawar itu penuh duri-duri untuk seorang pendaki 

 

Padang, 10 September 2026

***

 

Ketika Biduk Terus Berlayar

 

Deru ombak menabrak karang 

Suara perut nelayan bersahutan

Menahan lapar serupa gendang

 

Malam-malam menjadi hampa

Tiada lagi kunang-kunang

Biduk-biduk terus berlayar seperti perang

 

Tetapi, kata penguasa inilah negeri yang kaya

Ketika ingatan-ingatan purba menguasai jiwa 

Sementara ikan-ikan enggan berenang menuju keramba  

 

Padang, 10 September 2026

***

 

Segala Musim Telah Rapuh

 

Aku tak pandai bercinta lagi

Segala musim telah rapuh

Kesunyian mengurung di tengah ramai

Kemiskinan ini merajalela

Cinta tak kunjung setia 

Aku tak pandai bercinta lagi

Dalam gelap sunyi, insyaf hatiku pulih

Ada cahaya cinta lain merasuk sukma  

Tiada yang abadi kecuali cinta-NYa

 

Padang, 10 September 2026

***

 

Aku Perlahan Mencintai Profesi Guru 

 

Rintik hujan turun di atas atap sekolah negeri

Ku termangu mencintai profesi guru dibalut sepi

Rintik hujan itu berkelebat menumbuhkan bunga-bunga

Seperti pendidikan anak bangsa yang bertunas tak cukup sehari 

Pena di tangan, buku di pustaka belum selesai dikaji  

Mendalami cipta rasa karsa dalam diri

Aku perlahan mencintai profesi guru

Mengatasi setiap problema yang membuat ragu

Aku perlahan mencintai profesi guru

Meski kurikulum dan kecanggihan teknologi gonta-ganti 

Kutelusuri pendidikan pertama dalam sejarah

Tentang Darul Arqam di zaman Muhammad bin Abdullah

Aku perlahan mencintai profesi guru

Mendambakan sosok Ki Hadjar Dewantara digugu dan ditiru  

Meneladani Oemar Bakri yang setia mengendarai sepeda kumbang

Biar gaji kecil tak mudah tumbang

 

Padang, 10 September 2026

***

 

Adisman Libra berasal dari daerah Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Lahir, 25 Januari 1997. Ia bekerja sebagai pendidik (Guru). Karyanya: Penyambung lisan Ayah, Siman dan Guru Tanpa Gelar, Dalam Bait-Bait Sunyi. Bisa dihubungi di email adismanlibra123@gmail.com dan akun Instagram: adismanlibra

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat