Nasional
Langkah Terakhir
Oleh DAMAY AR-RAHMAN
Langkah Terakhir
Janji-janji itu
Seperti tabuh senja
Menggema memanggil magrib
Sedu sedan didoakan
Usai jingga, lepas debu menghantar rasa
Di jiwa para kisah pendatang
Untuk menjemput rindu, yang tiada terampuni
Hingga resahmu
Telah bersahabat
Dengan percaya kesetiaan
Harapan itu, seperti ladang tanpa rumput
Namun, lapang yang dilewati tanpa batas
Meredupkan gundah lama
Sesaat yang sepi
Telah berkelana menuju tanah tiada rumah
2026
***
Ibumu…. Ibumu…. Ibumu…. Lalu Ayahmu… Lalu Aku
Bus itu berhenti
Tepat di gerbang masjid
Kupikir itu adalah kendaraan lama
Saat sepuluh tahun dari ini
Betapa rindu, namun telah bertunas
Senyuman itu membulirkan telaga dingin dari nirwana
Keriput pada kelopak sudut matanya, mengartikan surga
Lalu…
Kisah berbeda di waktu sama, tiba
Suara serak di meja kopi lima meter dari sini
Memanggil…
Meski tanpa sapa
Kuyakin, di hatinya tersimpan cinta
Akupun menutup pembicaraan pupus itu
Lalu cita-cita lama
Membuat detak dalam dada berkata
Seakan-akan langit memelukku
Ia yang kurangkul dengan tangan kananku
Serta kopernya di tangan kiriku
Membawa rasa syukur atas bukti Tuhan tentang sabar
Mengenai kekuatan, keteduhan, dan ketulusan
2026
***
Bisikan tak Berjeda
Lewat ungkapan bisu
Mengeja awan di batas bayang
Sendunya mendung
Menutupi perih membuntu
Jika saja, yang terjadi dapat kuberikan titah
Menemui sebelum keputusan alam meracuni
Mengelabui debu-debu bersama kunang-kunang di tengah kegersangan malam
Yang mungkin dapat menjauhkan nestapa
2026
***
Sebuah Kain Usang
Selembut itu aku terpanggil
Panah-panah waktu memberi ruang menghadiri kediaman-Mu
Sendiri di dalam batin terperangkap
Membuka hikayat lama
Menuju wajah yang tak tersentuh
Melebur dalam lembayung
Hingga ke dalaman tanpa buntu
Hanyutkan suasana
Mulai membuka sebuah kata
bermakna misteri
Hingga akhirnya pergi
2026
***
Kupu-kupu
Lapisan bening yang mendindingi pagi ini
Menyertakan teduh
Membawa kedamaian utuh
Seperti bayangan yang mendiami tubuh
Saat terik meronta di tapak-tapak noda
Kupu-kupu berkelopak
Bercumbu di balik keheningan yang sepi akan keramaian
Di dalam perjalanan kita
Setiap gerak membawa cerita
Menyuburkan dahaga kerontang
Seperti waktu ini
Tak satupun kepala-kepala pengkoar membuat onar
Karena kupu-kupu tetap terbang membawa kabar
Indah berkibar
Bahwa……betapa berharganya sabar
2026
***
Pembatas
Di tebing ini
Aku berhadapan dengan elegi
Hamparan hijau menjantungi lembah-lembah bermuara
Bercahaya bening bagai mata danau yang malu
Dan belaian selembut rindu
Memulangkan pada cinta lama
Suatu waktu
Malam telah lelap
Kelap-kelip lampu jalan temaram
Hanya inang-inang berhamburan di lingkaran cahaya petro malam
Suara lemah membelai rasa kasihan tak terbalas
Ku tadahkan jemari memberi selembar atau dua lembar rupiah
Ungkapnya ini adalah tanda
Jika esok masih bernyawa
Sehentak aku berfikir
Dan kemudian pelarian itu meneguk laut untuk menyebrang
Di mana ia yang aku cari
Apakah telah berdiam di badan lain?
Lalu, sepoi udara kembali menyapu helai-helai ubunku
Mulai merapuh
2026
***
Sebut Aku Saat Mengeja Malam
Aku berandai andai
Jika suatu hari nanti engkau tiba dengan setangkai melati
Mewangi merona kan dinding gelap itu
Setelah penantian ini
Aku berfikir
Mungkin yang kukata
Takkan lama tertata
Sebab tidak ada yang tahu
Bahkan diriku sendiri
Jika masa telah berpindah menjadi ruang panjang
Berdingin tanpa penyangga
Hanya sehelai kain menutupi bagian lubang berbara
Barangkali
Suara ini tidaklah sama
Bahkan jika aku mendengar
Akan membuat jantungku berhenti berdetak
Ketakutan-ketakutan besar
Menusuk relung hingga ke tulang
Sakitnya ini
Tidak soal rasa
Tapi jiwa
Membakar membunuh asa
2026
***
Damay Ar-Rahman atau Damayanti, berdomisili di Kota Lhokseumawe, Aceh. Bekerja sebagai pegiat edukasi dan literasi. Penulis telah menerbitkan buku diantaranya kumpulan puisi Aksara Kerinduan 2017, Serpihan Kata, Senandung Kata 2018, kumpulan Cerpen Bulan di Mata Airin, Dalam Melodi Rindu, 2018 Hati yang Kembali 2025, novelnya Akhir Antara Kisah Aku dan Kamu 2020, Musafir 2022, Di Bawah Naungan Senja Jilid, I, dan Di Bawah Naungan Senja Jilid II 2022. Karya-karyanya telah dimuat berbagai surat kabar lokal, nasional, dan Malaysia. Pada tahun 2026 penulis menghadiri Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Aceh.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
