Cerpen Hujan Terakhir | Daan Yahya/Republika

Sastra

Hujan Teralhir

Oleh RUNGO ASHTA

Kenapa keras kepala sekali, Datuk? Uanglah yang mengatur dunia ini.”

Kalimat itu mengudara di balai desa, lalu jatuh perlahan ke wajah orang-orang yang duduk melingkar. Sebagian mengangguk, sebagian lain memilih menunduk. Datuk Syah tetap diam. Jemarinya mengusap kepala tongkat yang terkikis dimakan musim.

Di atas meja, selembar peta terbuka. Garis-garis merah membelah sawah, kebun, dan rumah-rumah warga. Di sudut peta, rumah Datuk Syah diberi tanda lingkaran.

“Itu hanya rumah tua,” kata kepala desa, berusaha melunakkan suaranya.

“Perusahaan sudah menyiapkan ganti rugi. Datuk bisa membangun rumah yang lebih baik,” sambungnya.

Datuk mengangkat pandangannya perlahan.

“Rumah yang lebih baik belum tentu rumah yang sama.”

Sejenak tak ada yang berbicara.

Bagi warga, lelaki tua itu memang selalu sulit dipahami. Ia hidup seorang diri di rumah kayu yang nyaris roboh. Tak pernah terlihat menerima tamu. Tak pernah pula terdengar mengeluh. Pagi-pagi ia menyapu halaman, sore menyiram bunga di pagar bambu, lalu menghilang di balik pintu rumahnya hingga esok datang.

“Kalau Datuk tetap menolak, proyek ini bisa tertunda,” kata seseorang dari barisan belakang.

Datuk tersenyum tipis.

“Kalau sebuah proyek bisa berhenti karena seorang lelaki tua, mungkin memang ada yang perlu dipikirkan ulang.”

Suasana kembali sunyi. Tak lama kemudian rapat dibubarkan. Orang-orang pulang membawa kecewa bercampur gerutu. Datuk berjalan paling akhir. Langkahnya pelan menyusuri jalan yang mulai lembap oleh gerimis.

Rumahnya berdiri di ujung desa. Dinding kayunya kusam. Atap sengnya dipenuhi lumut. Dari kejauhan bangunan itu tampak seperti sedang menunggu musim terakhirnya.

Datuk membuka pintu. Aroma tanah, kayu tua, dan sisa asap tungku menyambutnya. Ia meletakkan tongkat di samping pintu, lalu berjalan menuju dapur. Seperti biasa, ia duduk di lantai tanah yang telah menghitam dimakan waktu. Telapak tangannya mengusap permukaan tanah itu perlahan, seolah sedang menyentuh sesuatu yang hidup.

“Aku pulang, Siti...”

Angin sore menyelinap melalui celah dinding. Tirai lusuh bergoyang pelan. Di sudut ruangan, sebuah payung hitam masih berdiri di tempat yang sama. Datuk memandanginya lama. Sudah bertahun-tahun ia tak pernah memindahkan payung itu. Sebab setiap kali payung itu bergeser, kenangan tentang malam terakhir bersama Siti selalu ikut berpindah.

Datuk meraih cangkir enamel bermotif bunga yang terbalik di atas rak kayu. Bibir cangkir itu telah retak, tetapi tak pernah digantinya. Ia menuangkan air panas dari ketel, lalu menaburkan sedikit bubuk kopi. Uap tipis membubung, memenuhi dapur dengan aroma yang telah lama dikenalnya.

Dulu, aroma itu selalu setia lahir dari tangan Siti.

“Aku yang membuatkan.” Begitu kata perempuan itu setiap kali Datuk hendak mengambil ketel.

Siti percaya, secangkir kopi yang diseduh untuk orang yang dicintai tak pernah sekadar minuman. Di dalamnya ada doa yang tak diucapkan.

Datuk mengangkat cangkir itu ke bibir, tetapi tak jadi meneguknya. Pandangannya kembali jatuh pada payung hitam di sudut ruangan. Payung itu masih basah dalam ingatannya.

Malam itu hujan turun sejak senja. Titik-titik air mengetuk atap seng dengan irama yang tenang. Siti sedang melipat pakaian yang baru kering tadi sore ketika telepon rumah berdering.

Datuk mengangkat gagang telepon. Ia hanya mengucapkan beberapa patah kata, lalu menutupnya kembali.

“Ada rapat?” tanya Siti.

Datuk mengangguk.

“Mereka bilang harus malam ini.”

Siti menghampiri, lalu mengambil payung hitam yang tergantung di balik pintu.

“Kalau hujannya belum reda, jangan pulang tergesa-gesa. Aku khawatir jalanan kota akan banjir.”

Datuk tersenyum. “Aku tak akan lama.”

Siti menyerahkan payung itu, tetapi tangannya belum juga lepas dari gagangnya.

“Ada apa?” tanya Datuk.

Perempuan itu menggeleng pelan.

“Aku hanya... tiba-tiba ingin kau cepat pulang.”

Datuk tertawa kecil. “Sejak kapan kau mudah cemas?”

“Entahlah.”

Jawaban itu menggantung di antara rintik hujan. 

Sesaat kemudian Siti membenahi kerah baju suaminya seperti seorang ibu yang hendak melepas anaknya pergi.

“Kalau nanti kau harus memilih,” katanya lirih, “pilihlah jalan yang membuatmu tetap menjadi dirimu sendiri.”

Datuk mengernyit. “Kenapa bicara begitu?”

Siti hanya tersenyum. “Karena aku mengenal lelaki yang kunikahi.”

Datuk mengecup kening istrinya. Tak ada janji panjang. Tak ada pelukan yang berlebihan. Hanya tatapan yang saling menyimpan keyakinan bahwa setiap perpisahan akan berakhir dengan kepulangan.

Ia melangkah keluar. Payung hitam mengembang di bawah hujan. Siti berdiri di ambang pintu, memperhatikan punggung suaminya hingga larut di balik tirai hujan. Tak seorang pun di antara mereka tahu bahwa malam itu sedang menghafal wajah mereka untuk terakhir kalinya.

Ruang rapat itu dingin. Pendingin udara bekerja lebih keras daripada suara orang-orang yang duduk mengelilingi meja panjang. Di hadapan Datuk terbentang beberapa lembar dokumen. Peta, angka, dan tanda tangan memenuhi setiap halaman.

“Ini proyek besar,” ujar seseorang di ujung meja. 

“Daerah akan berkembang. Lapangan kerja terbuka. Investasi masuk. Kita tidak boleh kehilangan kesempatan,” jelasnya.

Datuk membaca lembar terakhir. Lama. Lalu ia menutup map itu perlahan.

“Maaf,” katanya. “Saya tidak bisa menyetujui kajian ini.”

Beberapa kepala terangkat.

“Alasannya?”

“Laporan ini menghitung nilai emas, tetapi lupa menghitung harga sebuah kampung.”

Suasana mendadak hening. Seseorang tersenyum tipis.

“Pak Datuk, dunia tidak berjalan dengan perasaan.”

“Tepat,” jawab Datuk tenang. “Karena itu hati nurani harus tetap dijaga.”

Ia berdiri. Tak ada suara yang menahannya. Namun, ketika tangannya menyentuh gagang pintu, sebuah kalimat menyusul dari belakang.

“Semoga Bapak tidak menyesali keputusan malam ini.”

Datuk tidak menoleh. Kalimat itu tetap mengikutinya sepanjang perjalanan pulang.

Hujan masih turun. Mobil yang ditumpanginya berhenti di depan rumah. Lampu ruang tengah menyala redup. Biasanya, saat mobil berhenti, pintu sudah terbuka dan Siti berdiri di ambang dengan senyum yang selalu membuat perjalanan sejauh apa pun terasa singkat.

Malam itu rumah hanya diam.

“Siti…”

Tak ada jawaban. Ia mendorong pintu. Aroma kopi masih mengambang di udara. Di atas meja, secangkir kopi mulai mendingin. Uapnya telah hilang, seolah menunggu seseorang yang tak pernah sempat pulang.

“Siti…”

Langkah Datuk terhenti. Dari arah dapur terdengar bunyi pelan. Bukan suara orang. Melainkan tetes air.

Tik...

Tik...

Tik...

Dadanya mendadak sesak. Payung hitam jatuh dari genggamannya. Ia berlari. Ambang dapur terasa begitu jauh. Dan ketika akhirnya sampai, seluruh dunia seakan runtuh tanpa suara.

Siti terbaring di atas lantai tanah. Matanya terpejam. Kerudungnya telah memerah. Darah meresap perlahan ke dalam tanah yang setiap pagi ia sapu, seolah rumah itu sedang menyimpan rahasia yang tak ingin dilepaskannya.

Datuk tak sanggup berteriak. Ia hanya berlutut. Meraih jemari istrinya yang mulai dingin. Lalu untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa seorang manusia bisa kehilangan seluruh dunianya dalam satu malam.

Penyelidikan dilakukan. Polisi datang, bertanya, memotret, lalu pergi. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Jawaban tak pernah datang.

Suatu malam, seseorang menyelipkan amplop cokelat di bawah pintu rumahnya. Di dalamnya hanya ada selembar kertas tanpa nama.

“Tidak semua kebenaran harus ditemukan.”

Datuk melipat kembali surat itu. Sejak malam itulah ia berhenti mencari pelaku. Bukan karena ia melupakan Siti. Melainkan karena ia sadar, ada luka yang sengaja dibiarkan tanpa nama agar tak seorang pun dapat dimintai pertanggungjawaban.

***

 

Rungo Ashta menulis puisi, cerpen, esai, artikel, dan cerita anak. Tulisannya dimuat dalam buku solo, antologi, dan media daring. Baginya menulis adalah pemuasan hasrat dan pemulihan hati. Sedang intens menulis cerita-cerita pendek dan puisi. Ia merupakan pendiri Akademi Menulis Metafora. Tergabung dalam Sekolah Menulis ellipsis, WIN Indonesia, dan Ufuk Literasi. Menetap di Kabupaten Pasaman. Dapat dijumpai di media sosialnya; rungoashta22.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat