Sastra
Utopia (Tanya dan Waspada)
Oleh AKMAL GHIFARI
“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya” sebuah suara terdengar dari atas gapura/pintu masuk utopia. Pintu yang diatasnya terpajang sebuah kata/kalimat “Selamat datang di utopia, tempat diman keanehan ditemukan dan peraturan dinilai membingungkan. Jangan gegabah jika tak ingin berlumuran darah” kata/kalimat yang hampir sama seperti ucapannya—seseorang yang masih berada di dalam gulita. Ia melompat, terjun santai seperti pesulap profesional.
Ia kemudian berkata “Aku Josh, pemandu tuan-tuan dan nyonya-nyonya hari ini” kenalnya elegan sembari melanjutkan perkataan “sebelum memasuki utopia, tuan-tuan dan nyonya harus banyak bertanya dan banyak waspada karena itu adalah peraturan paling penting di sana—utopia” aku mengernyit dan mereka—orang-orang asing yang juga mengikuti tour utopia—pun mengernyit (kebingungan).
Ia berjalan santai, memimpin rombongan dengan banyak kata. Ia terus berbicara, menjelaskan utopia sesingkat-singkatnya dengan raut wajah yang berbeda-beda. Namun ia tiba-tiba berhenti, diam, seperti orang tercengang melihat sesuatu yang wow (menakjubkan).
Ia tak lagi berbicara, berkata-kata seperti sebelumnya, sehingga kami—aku dan orang-orang asing itu—memilih melakukan peraturan pertama yaitu bertanya dan sedikit waspada dengan kata “kenapa?”
Ia kemudian memutar wajah, tersenyum seperti senyum sebelumnya. Ia kembali berkata-kata menjelaskan bahwa kami telah sampai di pintu masuk pertama, pintu yang katanya akan membuat kami selalu bertanya-tanya dan harus selalu waspada terhadap keanehan-keanehan yang ditunjukkan didalamnya (utopia).
Kami sekalipun tak pernah menyangka bahwa di dalam pintu biasa dengan nomor “557191” itu terdapat (seperti) sebuah kota megah yang tak kalah megah dari kota-kota di negeri cina. Kami-pun tak pernah menyangka bahwa di dalam kota yang begitu megah itu terdapat banyak sekali orang-orang peminta-minta (pengemis) super kaya yang menengadahkan tangannya kepada orang-orang seperti kami—orang-orang kelas menengah.
Sebagian besar dari kami pastilah ingin bertanya mengapa orang-orang kaya seperti merak lebih memilih meminta-minta (menipu) kepada orang-orang lemah secara ekonomi ketimbang mereka. Namun, hal itu hanyalah sebuah rencana yang akhirnya menjadi wacana, karena ia—Josh—tiba-tiba menunjuk sesuatu yang hampir tak kasat mata.
Sesuatu yang hampir sama/mirip dengan seutas tali (sebenarnya banyak tali) yang mengikat orang-orang di seluruh kota pada sekelompok orang bertopeng wajah bahagia/tertawa yang sedang duduk diatas kursi merah dengan jas-jas hitam yang menutupi badan-badan mereka.
Kami—aku dan orang-orang asing itu—yang penasaran terhadap mereka memutuskan untuk bertanya “Siapaka mereka?” kepada Josh—sang pemandu tour di utopia. “Mereka hanyalah orang-orang biasa yang mengikuti kompetisi muka ganda. Kompetisi yang hanya diikuti oleh orang-orang pemilik shield merah yang (katanya) dapat menahan rasa sakit/luka dari tembakan/eksekusi para penjaga” jawabnya, menjelaskan semua hal yang bersangkutan dengan mereka.
Aku dan (mungkin) juga orang-orang asing itu kembali dibuat bertanya-tanya, mengapa seseorang seperti mereka (ingin) mengikuti sebuah kompetisi yang (menurutku) tidak berfaidah bahkan membahayakan diri mereka. “Apakah ada sesuatu yang begitu istimewa, sampai-sampai sebuah nyawa rela dikorbankan untuk mendapatkannya—sesuatu yang (mungkin) lebih berharga/istimewa daripada sebuah nyawa?” tanyaku saat itu, meski aku tahu orang-orang seperti mereka memiliki sebuah shield merah yang (katanya) dapat menahan rasa sakit dan luka.
Ia—josh—memandangku, menyiratkan sebuah pandangan yang sulit aku tafsirkan. Ia kemudian menghamburkan mata, menatap mereka—orang-orang asing yang juga mengikuti tour utopia—dengan tatapan/ekspresi biasa (tersenyum) kemudian berkata “Tentu saja, tidakkah hal itu juga lumrah dilakukan di luaran sana?”
“Lumrah? Maksudmu hadiah?” tanya seseorang dari balik rombongan.
Josh menggelengkan kepala, menyiratkan bahwa bukan hadiah yang ia maksudkan kepada kami. Ia mengangkat tangan, menunjuk benang-benang yang bergelantungan mengikat orang-orang yang sedang beraktifitas di seluruh kota. “Lihatlah benang-benang itu tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Tidakkah kalian bertanya-tanya mengapa benang-benang itu mengikat mereka—orang-orang di seluruh kota? Dan tidakkah kalian bertanya-tanya, mengapa kompetisi muka ganda hanya diikuti oleh orang-orang seperti mereka—orang-orang pemilik shield merah? Hal itu tak lain karena sesuatu yang sama yaitu kuasa (penguasa).” Ucapnya menjelaskan hubungan antara keduanya.
Ia kemudian mengandaikan tentang bagaimana jika seorang penguasa terdiri dari orang-orang biasa yang terikat oleh benang-benang tak kasat mata. Pastilah keputusan-keputusan mereka selalu terombang-ambing oleh keputusan-keputusan orang-orang kalangan bawah yang senasib dengan mereka (sama-sama terikat oleh benang-benang tak kasat mata) Ia menjelaskan bahwa kompetisi muka ganda itu bertujuan untuk mencari sang penguasa yang bisa tersenyum saat orang-orang kalangan bawah ataupun menengah bahagia.
Meski saat itu ia tak mengalami hal-hal yang sama atau malah mengalami hal-hal sebaliknya. Ia juga menjelaskan bahwa didalam senyum penguasa tidaklah ada sebuah keterpaksaan ataupun kemunafikan karena sejatinya sang penguasa itu mengayomi dan mengasihi terhadap orang-orang yang lemah ataupun orang-orang yang sama dengannya (memandang manusia sama rata/memanusiakan manusia). Ia menjelaskan begitu dalam, begitu tenang, sampai- sampai kami tak sadar bahwa pintu kedua sudah ada di depan mata.
Seperti sebelumnya, ia kembali mengingatkan kami akan peraturan pertama utopia yaitu “Tetap waspada” karena (katanya) nyawa kami bisa-bisa saja hilang dalam sekejap mata di dalam sana—pintu kedua.
“Apakah ada sesuatu yang berbahaya di dalam sana?” tanya kami padanya yang kemudian dibalas dengan anggukan dan pernyataan tentang bagaimana sebuah nyawa bisa hilang/melayang secara sadis lebih dari sebuah tembakan dan siksa.
Aku menatap mereka, sedangkan mereka menatap pintu yang hampir sama seperti sebelumnya (pintu biasa dengan nomor yang berbeda, yaitu “1558”). Aku mengernyitkan dahi, menatap sebuah lukisan yang terpampang di dinding sebelah kanan pintu kedua. Lukisan yang didalamnya memperlihatkan sesosok manusia berselimut bayangan putih yang meringkuk di sekeliling manusia-manusia berselimut bayangan gulita. “Apakah ini tentang kepercayaan atau kepicikan mental?” tanyaku dalam hati, mereka-reka lukisan yang begitu indah dan begitu mempesona menurut estetika utopia (memberikan tanda tanya).
“Nyonya?” panggil Josh, memalingkan wajahku seketika (kaget) “Kau sedang apa?” tanyanya, menggeleng-gelengkan kepalaku salah tingkah.
Ia mundur satu langkah, kemudian memberitahukan bahwa mereka—orang-orang asing yang sedari tadi bersama—telah masuk terlebih dahulu kesana—kedalam ruangan di balik pintu kedua.
Aku mengangguk-anggukkan kepala kemudian bersegera memasuki ruangan itu. Ruangan yang menghamburkan banyak sekali benderang lampu.
***
Meja bundar, empat kursi dengan posisi melingkar, dan lampu-lampu gantung yang selalu membidik kepala orang-orang yang berada di bawahnya adalah gambaran ruangan kedua setelah pintu pertama.
Aku kembali dibuat terpesona dan bertanya-tanya “Hal apakah yang paling berbahaya di dalam ruangan indah dan megah seperti ini?” gumamku tiba-tiba, menanyakan kemungkinan paling berbahaya yang akan terjadi kepada kami di dalam sini—ruangan yang seperti restoran-restoran ternama/bintang lima.
“Terkadang sesuatu yang indah adalah awal dari sesuatu yang berbahaya” ucap Josh tiba-tiba, memalingkan wajahku ke arahnya (belakang badan).
Aku tertegun entah berapa lama, mungkin juga tidak lama. Namun hal itu yang membuatku kembali salah tingkah karena aku baru sadar saat ia kembali berkata “Sekarang nyonya sebuah kursi untuk mengenang suasana disini” berhenti sejenak “atau mungkin ingin menemaniku berdiri?” lanjutnya dengan senyum yang berbeda dari biasanya.
Aku kembali terburu-buru, kaku, mencari sebuah kursi yang mungkin cocok/senada dengan hati. Aku berhenti di salah satu meja. Meja dengan kain berwarna chandra, kursi biasa, dan sebuah angka yaitu angka 35. Sepertinya aku suka, karena itulah aku memilih duduk disana.
Josh menghampiriku, ia duduk di kursi yang berhadap-hadapan denganku karena sedari awal memang letaknya begitu. Aku tak berbicara, tak berkata-kata, bahkan untuk menatapnya saja aku tak bisa. Aku diam, menunggunya memulai percakapan, entah dengan pertanyaan atau pernyataan.
“Lihat aku!” pintanya tiba-tiba, menyeret mataku ke arah tubuhnya. Ia kemudian mengangkat tangan, memesan makanan kepada seorang pelayan. Ia memesan beberapa makanan ternama yang tak pernah aku jumpai (dengar) di restoran-restoran ternama selain utopia. Aku terus melihatnya sampai sang pelayan kembali datang membawa sebuah nampan berisi makanan yang ia pesan. Sang pelayan kemudian meletakkan pesanan itu di hadapannya dengan ekspresi yang tak biasa disodorkan kepada pelanggan-pelanggan di restoran ternama (tanpa senyum).
Josh yang melihat hal itu tiba-tiba membuang muka, menyiratkan ketidaksukaannya kepada sang pelayan yang masih berdiri di samping tubuhnya. Sang pelayan yang (mungkin) menyadari hal itu segara pergi membawa pesanan yang sebenarnya sudah tersaji. “Apakah anda tak ingin bertanya, mengapa pelayan itu tiba-tiba pergi dengan pesanan yang tadinya sudah tertata rapi?” tanya Josh dengan nada yang berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Aku hanya menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan yang baru saja ia tanya. Namun yang sebenarnya aku ingin tahu adalah mengapa nada bicaranya itu tiba-tiba berubah dari biasanya? Apakah ia marah atau bagaimana? Aku tak tahu dan aku malu.
“Setiap ekspresi memiliki sebuah arti. 1). Sumringah/senyum bahagia, menandakan keselamatan antara kita dan mereka—para pelayan restoran utopia. 2). Marah, menandakan kemalangan yang akan terjadi pada mereka. 3). Sedih, menandakan sebuah ketidakpastian antara kita dan mereka dalam hal ada atau tiada. Namun hal (konsekuensi) itu akan terjadi jika kita menerimanya dengan tanpa isyarat muka (buang muka)” jelasnya sembari memperkecil suara karena pelayan yang berbeda datang dengan nampan yang sama namun dengan ekspresi berbeda (sumringah).
“Ini pesanannya tuan” ucapnya ramah namun dibalas anggukan sahaja.
Entah sudah beberapa detik berlalu, aku tiba-tiba teringat kepada mereka—orang-orang asing yang sedari awal bersama. Aku mengerlingkan pandangan, mencari wajah yang seharusnya familiar, namun tak satupun aku temukan wajah-wajah mereka dari satu meja ke meja yang lainnya.
Aku kembali menatap wajahnya—wajah yang sama namun sepertinya berbeda, menanyakan keberadaan mereka dengan nada yang seharusnya dilontarkan oleh orang bertanya (penasaran dan kebingungan). Ia menatapku, menyiratkan tatapan yang tak pernah aku tahu. Ia kemudian mengangkat satu tangan, pelan dengan bentuk tembakan, menaruhnya ke bagian samping kepala dengan gerakan yang hampir sama seperti penembak menembakkan senjata.
“Kau bercanda?” tanyaku tak percaya dan tak menyangka akan isyaratnya. Ia hanya menggelengkan kepala, santai seperti seseorang yang tak pernah bergurau akan suatu hal.
Aku yang mendapatkan isyarat seperti itu spontan menggelengkan kepala, tak percaya, kembali mencari mereka dengan seberkas air mata yang mulai menggenang, entah karena sifat alamiah atau karena hal yang berbeda.
Aku mencari dan terus mencari sampai akhirnya terhenti oleh benda keras yang tiba-tiba menyentuh bagian belakang kepala. “aku pikir anda berbeda dari mereka, karena mencatat semuanya. Padahal orang yang sama yang tak tahu apa-apa tentang kata waspada” ucapnya seperti seseorang yang sedang kecewa terhadap semuanya.
“Aku tak mengerti apa maksudmu dan aku tak mengerti apa kesalahanku” kataku tak terima, dengan air mata yang mulai mengucur tanpa arah dan tanpa jeda.
Ia tertawa, tawa jahat yang (menurutku) tak akan ada dan tak akan pernah ada pada seseorang seperti dirinya. Ia kemudian berkata “Anda tak pernah curiga terhadap uacapan-ucapanku sebelumnya. Mengapa sekarang anda tak percaya?”
“Aku percaya semuanya! Namun aku tak percaya bahwa engkau adalah Josh yang sama seperti sebelumnya” ucapku dengan perasaan ganda (marah, sedih, dan tak terima akan semua tentang dirinya) dengan air mata yang terus mengucur sejadi-jadinya.
Tak ada kata, tak ada suara, dan door. Semuanya gulita. Aku tak tahu apakah sekarang aku telah terbebas dari utopia, dunia, dan semuanya. Dan aku tak tahu apakah sekarang aku bisa melayang kemana saja tanpa mengkhawatirkan keselamatan jiwa dan raga. Namun, aku tak pernah menyangka bahwa kematian itu rasanya seperti ini, taka ada rasa sakit sama sekali. Hanya ada gulita, gulita, dan gulita.
“Terima kasih nyonya, sudah percaya”
Tunggu, apaka aku tak salah? Sebuah suara yang sangat familiar dengan nada yang sedari awal aku dambakan dan aku khawatirkan itu tiba-tiba kembali ke pelukan pendengaranku saat ini? Apakah aku benar-benar mendengarnya? Atau hanya merindukannya?
Aku memutuskan untuk membuka mata, dan tampaklah ia dengan senyum yang tak akan pernah aku lupa dengan titik-titik darah yang bersemayam di sebagian wajahnya. Wajah yang sekarang ada dua.
Akmal Ghifari. Mahasiswa jurusan Matematika, dan pustakawan Lubangsa.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
