Sastra
Alegna
Cerpen Pandu Wijaya Saputra
Oleh PANDU WIJAYA SAPUTRA
Aku tidak bisa lagi membedakan apakah wajah di pantulan cermin itu adalah wajah orang mati atau hidup. Wajah itu sepucat mayat. Bahkan aku pernah melihat mayat yang lebih segar dan bersinar daripada wajah ini. Satu-satunya tanda kehidupan yang tersisa barangkali hanyalah kumis dan jenggot yang memutih serta kian lebat.
Pelayanku menarik kembali cermin yang tadi ia ulurkan. Aku memandang kalender di dinding, berusaha mengingat kapan pertama kali aku terbaring di sini. Sudah lebih dari setahun penyakit langka ini mematikan saraf-saraf tubuhku. Hari demi hari, tubuhku semakin lemah; untuk menggerakkan kaki saja kini aku terengah-engah. Seluruh isi perut berdenyut nyeri, napas pun sesak. Jelas aku tinggal menunggu maut.
Kadang aku ingin menyerah dan membiarkan Tuhan mengambil nyawaku. Namun setiap kali mengingat Alegna, daya hidupku seolah bangkit kembali. Demi bisa terus bersamanya, aku memilih menjalani perawatan di rumah. Dokter dari rumah sakit datang dua kali seminggu.
Alegna lahir setelah lima belas tahun pernikahanku. Saat itu, aku dan istriku berlibur ke Amerika selama beberapa pekan untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami. Suatu hari kami menghabiskan waktu di sebuah hutan kota.
Sore itu cerah dan indah. Di bawah pohon cottonwood besar dengan daun rimbun yang meneduhkan, kami berbaring di rerumputan. Di sana aku membicarakan penyakitku dan usiaku yang kemungkinan tak lama – bisa jadi hanya tinggal beberapa tahun lagi. Istriku menangis. Butuh beberapa saat sampai akhirnya dia mampu menguasai diri.
“Kita akan melalui ini bersama-sama,” katanya sambil menyeka air mata dan tersenyum. Tangannya menggenggam tanganku.
“Mungkin akan menyenangkan jika kita punya anak,” imbuhnya sambil tertawa dan setengah bercanda. Kami pun tertawa bersama.
Saat itu usia kami menginjak lima puluh. Meski harapan selalu ada, rasanya mustahil kami memiliki anak. Lagipula, kami sudah siap menghabiskan usia berdua saja sampai tua.
Ajaibnya, sepulang dari Amerika, istriku hamil. Para dokter bahkan menyebut ini sebagai kehamilan langka mengingat usianya. Sejak saat itu hidup kami berubah – lebih indah, bahagia, dan lengkap – seperti impian kami selama ini. Alegna adalah anugerah.
Lima tahun kemudian, istriku meninggal dunia karena pandemi. Padahal, berdasarkan prediksi, aku yang harusnya mati lebih dulu karena penyakitku ini. Aku jauh lebih siap untuk itu daripada harus kehilangannya. Kematian istriku membuatku sangat terpukul; sebagian jiwaku hancur. Namun kehadiran Alegna membuatku tetap tegar. Dialah energi dan kekuatanku. Saat itu usia Alegna baru lima tahun. Kami pun menjalani dunia kecil kami berdua. Aku menjaganya melebihi nyawaku sendiri. Karena itu pula aku bertekad bertahan hidup, apapun yang terjadi.
Alegna agak berbeda dari anak-anak lain. Dulu kami sering menerima telepon dari sekolah: ia meninggalkan kelas saat pelajaran berlangsung, pergi bermain di taman atau hutan, lalu menghilang seharian. Putriku memang tak pernah betah di kelas. Walaupun di kelas, ia lebih sering melamun sambil memandang ke luar jendela.
Ia sangat menyayangi binatang. Pernah suatu kali ia berkelahi dengan kakak kelas hanya karena melihat seekor belalang yang tidak sengaja terinjak. Alegna menangis tak henti-henti. Para guru kesulitan menenangkannya hingga akhirnya kami membawanya pulang.
Berkali-kali Alegna meminta berhenti sekolah. Akhirnya, ia benar-benar keluar setelah ibunya meninggal. Sejak itu ia lebih banyak di rumah. Aku memanggil guru untuk mengajarkan bahasa asing, matematika, biola, dan piano—hanya tiga hari dalam seminggu. Selebihnya, ia bermain. Alegna tampak bahagia, dan itulah yang terpenting bagiku.
Alegna anak yang sangat cerdas. Dia bisa mengingat apapun dengan sempurna. Untuk ukuran anak kecil, dia sangat minim bicara. Tapi dia mampu berkomunikasi dengan sangat baik meski tanpa banyak kata-kata. Sejujurnya, tidak mudah memahami Alegna. Kadang aku merasa dia seolah jauh lebih tua dari usianya.
Namun ada satu hal yang selalu mengusikku. Setiap malam pukul delapan, Alegna kerap naik ke balkon lantai tiga, lalu mematung memandang langit. Sesekali ia tersenyum dan tertawa sendiri. Ia tak pernah mau menjelaskan alasannya, meski sudah kutanya berkali-kali.
Pernah sekali aku diam-diam mengikutinya ke atap, aku tunggu Alegna berjam-jam. Tidak terjadi apapun. Lalu aku dekati dia dan bertanya apa yang dia lihat, apakah bintang-bintang di langit itu yang menarik perhatiannya. Alegna menggelengkan kepala. Dia menyebut tentang cahaya di atas sana, tapi hanya seperti ocehan yang tak jelas. Aku tak mengerti yang dia ucapkan.
Kebiasaan itu sudah muncul sejak ia masih bayi. Dulu ia sering merengek tanpa henti dan baru tenang ketika dibawa ke luar rumah. Saat menatap langit, bayi Alegna akan tersenyum, bahkan tertawa.
Awalnya kami panik dan khawatir. Aku sempat mengusulkan membawa Alegna ke psikolog anak, bahkan mengundang paranormal. Namun istriku selalu meyakinkanku bahwa Alegna baik-baik saja dan memintaku membiarkannya melakukan kebiasaannya itu. Akhirnya, Akupun mulai terbiasa dengan kebiasaan Alegna meski tidak pernah mengerti. Apalagi sekarang, satu-satunya yang harus aku pikirkan adalah penyakit yang kuderita.
Aku menatap langit-langit kamar, membayangkan istriku, membayangkan kematian, membayangkan Alegna duduk di balkon, membayangkan seandainya dia hidup tanpa kedua orang tuanya. Detik jam dinding terdengar pelan. Sebentar lagi pukul delapan malam. Apakah malam ini Alegna akan ke atap?
Pintu kamar diketuk. Dokter masuk sambil membawa tas koper berisi peralatan. Di belakangnya, seorang asisten menyusul dengan koper yang lebih besar. Dengan cekatan mereka memeriksa tubuhku: mata, detak jantung, dan beberapa bagian lain yang dianggap bermasalah. Tindakan terakhir dokter adalah menyuntikkan cairan di lengan kananku. Itu membuatku agak tenang karena setiap kali cairan itu masuk, nyeri di tubuhku akan mereda untuk sementara.
“Dok, Anda bilang saya bisa sembuh, tapi kenapa saya justru merasa semakin parah?” kataku lirih.
“Kita akan berusaha, Pak.”
“Saya sudah setahun terbaring di sini tanpa perubahan.”
“Yang bisa kita lakukan hanya memperlambat penyakitnya agar tidak semakin parah. Kita tidak bisa benar-benar menyembuhkannya.”
“Jadi, apakah kini sudah waktunya saya mati?”
“Saya akan berusaha maksimal, Pak.”
“Saya pernah dengar ada temuan obat baru di luar negeri yang berhasil. Mungkin perlu dicoba,” kataku.
Dokter itu terdiam sejenak.
“Saya tidak yakin, Pak. Tidak semudah itu obat baru bisa dikonsumsi. Kita tidak bisa sembarangan.”
Setelah menyampaikan kembali jadwal obat dan pantangan yang harus aku ingat setiap minggu, yang selalu dia ulang-ulangi, dokter itu pamit. Aku kesal padanya. Rasanya aku ingin ganti dokter saja. Setelah pintu tertutup, kamar mendadak terasa lebih sunyi dari biasanya. Detik jam dinding kini terdengar sangat jelas, memukul-mukul telingaku.
Tak lama kemudian Alegna masuk sambil memeluk boneka panda kesayangannya. Ia baru selesai bermain di halaman bersama kucing baru peliharaannya. Tanpa berkata apa-apa, ia duduk di lantai dan memainkan bonekanya. Melihatnya saja sudah membuatku bahagia. Dialah penyemangat hidupku.
“Ayah istirahat saja,” katanya tiba-tiba, masih bermain dengan pandanya.
“Tidak, Nak. Ayah tidak bisa tidur.”
Ia melanjutkan permainannya dengan asyik.
“Ayah sudah lelah. Istirahat saja,” katanya lagi.
“Belum, Sayang. Ayah belum mengantuk. Ayah juga sudah seharian tidur.”
Ia mengambil pena di atas meja, pura-pura menjadikannya tongkat sihir, lalu menempelkannya ke boneka panda.
“Ayah, aku tidak apa-apa meski Ayah pergi.”
Aku tertegun.
“Kenapa kamu bilang begitu, Sayang?”
“Ayah tahu kalau aku memang datang buat Ayah dan Ibu?” ujar Alegna, masih bermain. Ia menatapku sejenak, lalu kembali ke bonekanya. Sementara aku diliputi kebingungan.
“Waktu Ayah dan Ibu tiduran di bawah pohon itu, aku lihat Ayah dan Ibu. Aku dengar kalian ngobrol.”
Aku tak mampu menyembunyikan keterkejutanku. Detak jantungku berderu. Tubuhku membeku. Aku seolah tidak percaya dengan yang kudengar. Ia jelas membicarakan momen di hutan kota di Amerika itu. Tapi bagaimana mungkin ia tahu?
Melihat kebingunganku, Alegna terdiam sejenak.
“Aku bingung jelasinnya, Yah. Pokoknya sekarang aku di sini.”
Aku nyaris tak bisa bergerak. Bahkan rasa sakit yang biasanya menyiksa sekujur tubuhku mendadak lenyap. Mulutku ingin berkata, tapi tidak ada suara yang keluar. Dadaku sesak, tubuhku gemetar. Sesaat kemudian aku teringat istriku dan tak kuasa menahan tangis. Aku ragu apakah ini semua hanya halusinasi atau efek obat.
Perlahan aku mampu mengendalikan diri. Sesuatu yang berat di dalam diriku terasa terlepas. Rasa kantuk datang pelan-pelan. Nyeri menghilang, atau barangkali aku tak lagi mampu merasakannya. Obat yang disuntikkan tadi tampaknya mulai bereaksi. Kelopak mataku semakin berat.
Ucapan Alegna masih membingungkanku. Aku pun teringat kembali momen ketika istriku meninggal. Saat itu Alegna sempat menangis, namun akhirnya dia tersenyum.
Aku mencoba memiringkan tubuh agar bisa melihat Alegna dengan jelas, tetapi gagal. Aku hanya mampu memiringkan kepalaku sedikit.
Tiba-tiba Alegna terhentak, seolah tersadar akan sesuatu. Ia menatap jam dinding. Jarumnya tepat menunjuk pukul delapan malam. Sebentar lagi ia pasti akan naik ke atap.
Alegna bangkit dan berlari keluar kamar. Tepat sebelum melewati pintu, ia berhenti dan menoleh padaku.
“Aku ke atas dulu, Yah. Teman-temanku datang.”
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
