|

Sastra

Yang Menyalakan Pagi

Puisi-puisi Fileski Walidha Tanjung

Oleh FILESKI WALIDHA TANJUNG

 

Yang Menyalakan Pagi

 

Di tanganmu, Guru,

pagi selalu lahir lebih awal dari matahari.

Kau bangunkan huruf-huruf dari tidur panjang,

kau ajari angka-angka menata langkah,

Kau seperti seorang perajin cahaya

yang menenun harapan dari benang kesabaran.

 

Hati emas-mu

adalah lentera yang tak pernah padam,

bahkan ketika badai zaman menerjang

dan gelombang dunia berdebur di pintu masa depan. 

 

Pada buku terbuka,

kau hembuskan ruh pengetahuan;

huruf-huruf menjadi burung,

terbang ke langit masa depan

menuju sebuah negeri

yang sedang menulis takdir kejayaan. 

 

Engkaulah yang menabuh keberanian,

mengajari kami berdiri,

hingga kami mengerti

bahwa kemakmuran bukan sekadar mimpi,

perjalanan yang dimulai

dari langkah kecil di ruang kelas.

 

Guruku,

dalam jejakmu kami temukan masa depan;

dalam pengabdianmu kami temukan

bentuk tertinggi dari cahaya kemuliaan.

 

***

 

Sang Menjaga Langit

 

Guru,

kau adalah penjaga langit

tempat anak bangsa menggantungkan mimpi.

 

Kau tuntun kami melewati badai kehidupan,

mengubah ketidaktahuan menjadi taman

yang tumbuh setiap pagi. 

 

Engkau bukan hanya sosok di balik papan tulis;

engkau adalah peta arah

yang mengantar kami menemukan jati diri.

 

Pengabdianmu menenun karakter,

membangun kami menjadi manusia

tangguh dan tak mudah runtuh

 

oleh gelapnya zaman.

 

Hari ini

kami melihatmu seperti mercusuar,

kokoh dan cahayamu menyala

meski malam masih begitu panjang. 

 

***

 

Buku yang tak Pernah Menutup Diri

 

Ada buku yang tak pernah menutup dirinya

itulah engkau. 

 

Setiap halaman dirimu

mengajarkan perjalanan:

tentang jatuh dan bangkit

tentang langkah tanpa ragu

ke arah masa depan yang menunggu. 

 

Tinta pengetahuanmu

mengalir ke tangan-tangan kecil kami,

menjadi jembatan

menuju dunia gemilang.

 

Kau ajari kami

bahwa kedewasaan bukan soal usia,

melainkan keberanian untuk memilih

kebenaran. 

 

Kau berdiri seperti pohon

yang akarnya menancap dalam,

membiarkan kami berteduh

dan tumbuh dari keteguhan. 

 

dan kami kembali tersadar:

negeri ini hanya bisa kuat

jika guru tetap sebagai mata air

yang menyembuhkan dunia

dari dahaga zaman. 

 

***

 

Musim yang Selalu kembali

 

Kau adalah musim

yang selalu kembali

meski kalender dunia selalu berubah. 

 

Di jiwamu,

pelajaran bukan sekadar ilmu,

tetapi doa yang disisipkan

ke dalam ruang-ruang kosong

dalam hati kami.

 

Ketulusanmu adalah mata air:

pengabdianmu adalah sungai yang tak pernah kering

mengantar kehidupan 

 

Kau hadir

ketika kami belum tahu arah melangkah;

kau sabar

ketika kami salah mengeja dunia.

 

Engkau menghadirkan energi,

mengajak kami menapak lebih jauh

dijalan pengetahuan. 

 

Guruku,

di pundakmu Indonesia bertumpu;

di tanganmu Indonesia dibentuk;

di jiwamu Indonesia bertumbuh.

 

***

 

Nama-Nama Guruku

 

Di balik setiap kemajuan negeri,

selalu ada nama seorang guru

yang bekerja dalam sunyi.

 

berdiri 1945—

dan sejak itu,

ribuan ruang kelas menjadi ladang

tempat cahaya disemai.

 

Kau bangun kemandirian kami

seperti petani membangun lumbung;

kau kukuhkan karakter kami

seperti para penempa baja.

 

Hati emas itu berdegup,

sosok yang berdiri teguh,

buku terbuka menanti masa depan.

Semua adalah cermin darimu—

yang ingin bangsa ini maju,

kami melihat makna dedikasi;

menunduk pada keteguhan profesi.

 

Engkaulah tiang,

engkaulah akar,

engkaulah pagi

yang membuat negeri

tak pernah kekeringan mimpi.

 

***

20-25 November 2025 

Fileski Walidha Tanjung adalah penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi di berbagai media nasional. Buku puisi terbarunya berjudul “Diksi Emas”. Sehari-hari mengajar seni budaya di SMA Negeri 2 Madiun. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat