Nasional
Sindiran Keras Ki Hadjar Dewantara
Melalui artikelnya, sang bapak pendidikan nasional RI itu menggugat aturan pemerintah kolonial.
Oleh: Hasanul Rizqa, jurnalis Republika
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang populer disebut Ki Hadjar Dewantara lahir pada tanggal kini, tepat 135 tahun lalu. Bangsawan kelahiran Pakualaman--kini Daerah Istimewa Yogyakarta--itu dikenang sebagai pahlawan bangsa dan sekaligus Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.
Sebagaui seorang ningrat, dirinya memiliki perhatian besar pada nasib rakyat. Walaupun menempuh pendidikan dasar hingga menengah di sekolah-sekolah bentukan pemerintah kolonial, RM Soewardi Soerjaningrat tidak menaruh simpati pada penjajahan yang dilakukan Belanda atas bangsanya.
Sempat melanjutkan studi di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA), ia tidak sampai lulus karena kondisi kesehatannya yang memburuk. Selanjutnya, Soewardi Soerjaningrat muda beralih profesi menjadi penulis dan wartawan.
Pemuda ini dengan relatif cepat terkenal di tengah masyarakat. Sebab, tulisan-tulisannya cukup memikat dan komunikatif, serta sarat akan gagasan antikolonial. Sebagai jurnalis, Soewardi pernah bekerja pada surat-surat kabar antara lain Sediotomo, Midden Java, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, dan De Expres.
Seperti umumnya kaum Pribumi terpelajar di Indonesia pada awal abad ke-20, Soewardi menginsafi kuatnya pengaruh media massa cetak untuk menyebarkan gagasan kebangsaan. Dengan piawai, ia menjadikan tulisan-tulisannya sebagai medium pembangkit kesadaran rakyat.
Ia (Ki Hadjar Dewantara) menjadikan tulisan-tulisannya sebagai medium pembangkit kesadaran rakyat.
Sebuah momentum datang pada 1913. Ketika itu, pemerintah kolonial bersiap menyambut peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis.
Menjelang hari perayaan itu, 15 November 1913, pemerintah Hindia Belanda berencana akan mengumpulkan "sumbangan" dari rakyat, termasuk orang-orang Pribumi Indonesia. Uang yang ditarik paksa itu dikumpulkan untuk ikut membiayai acara peringatan 100 hari kemerdekaan Belanda tersebut.
RM Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara sangat geram pada kebijakan pemerintah kolonial itu. Bagaimana mungkin suatu entitas penjajah memungut uang dari rakyat yang dijajahnya demi merayakan kemerdekaan negerinya dari penjajahan negara lain?
Maka Ki Hadjar Dewantara pun mengkritik langkah pemerintah Hindia Belanda itu melalui artikelnya yang dimuat dalam koran De Expres. Judulnya, "Als Ik Eens Nederlander Was." Dalam bahasa Indonesia, itu berarti “Andai Aku Sekejap Saja Menjadi Seorang Belanda.”
Seperti dijelaskan Fernanda Prasky Hartono dalam laman Ensiklopedia Sejarah Indonesia terbitan Kemendikbud RI, pada mulanya "Als Ik Eens Nederlander Was" muncul dalam brosur. Kemudian, artikel itu diperbanyak di percetakan NV Eerste Bandoengsche Publicatie Maatschappij dan dikirimkan ke kantor-kantor surat kabar dengan tanggung jawab dari Komite Bumiputra.
Barulah pada 13 Juli 1913, tulisan Ki Hadjar Dewantara itu dimuat secara utuh pada surat kabar De Expres. Waktu itu, koran tersebut dipimpin EFE Douwes Dekker (populer dengan nama Setiabudi) dan redakturnya adalah Tjipto Mangoenkoesoemo. Belakangan, ketiga sosok itu--Ki Hadjar Dewantara, Setiabudi, dan Tjipto Mangoenkoesoemo--dikenang sebagai "Tiga Serangkai."
Isi tulisan
Dengan jitu, "Als Ik Eens Nederlander Was" menyindir keras rencana perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas penjajahan Prancis yang akan digelar pada 15 November 1913. Melalui artikelnya itu, Ki Hadjar Dewantara mengungkapkan kritiknya, betapa pemerintah kolonial mengalami defisit nurani karena merayakan kemerdekaan negerinya di Indonesia, yakni negeri yang sedang dijajahnya. Bahkan, rezim penjajah ini pun sampai terpikir untuk memungut uang rakyat Indonesia demi perayaan itu.
Berikut petikan tulisannya yang bernada sarkasme.
“Betapa senangnya bisa memperingati hari nasional yang begitu besar. Saya berharap saya bisa menjadi orang Belanda sejenak... Betapa saya akan bersukacita ketika hari-hari yang ditunggu-tunggu datang pada bulan November, hari perayaan kebebasan...”
“...Tidak! Jika saya orang Belanda, saya belum bisa melakukan semuanya…”
“...menurut saya sangat tidak tahu malu, sangat tidak pantas, jika saya membiarkan penduduk asli (Pribumi) mengikuti perayaan kemerdekaan kita... Jika saya orang Belanda, maka saya tidak akan merayakan pesta kemerdekaan di negara dimana kita menyangkal kemerdekaan rakyatnya...” (dikutip dari De Expres).
Menurut Hartono, penerbitan "Als Ik Eens Nederlander Was" di media massa membuat pemerintah Hindia Belanda murka. Tulisan itu dianggap sebagai penghinaan terhadap ratu Belanda. Semua media yang berani menerbitkan tulisan itu pun dibreidel oleh penguasa.
Bagaimanapun, Ki Hadjar Dewantara tak gentar sedikit pun. Intelektual muda itu (waktu "Als Ik Eens Nederlander Was" terbit, ia masih berusia 24 tahun) bahkan membuat lagi tulisan baru, dengan kritik yang tak kurang tajamnya, pada 28 Juli 1913.
Judul artikel itu adalah "Een voor Allen, Mar Ook Allen voor Een" (Satu untuk Semua, Semua untuk Satu) (Tasen, 2015: 33). Isinya kembali menegaskan gagasan pada "Als Ik Eens Nederlander Was", yakni sesungguhnya semua penduduk pribumi memiliki pemikiran dan perasaan yang sama dengan dirinya. Mereka semua mengecam apatisme pemerintah kolonial yang merayakan kemerdekaan Belanda di negeri yang sedang dijajah Belanda.
Akhirnya, dua hari sesudah terbitnya artikel itu, Ki Hadjar Dewantara ditangkap aparat kepolisian di Bandung. Turut ditahan pula, Tjipto Mangoenkoesoemo. Mereka dituding telah menggangu keamanan dan ketertiban (rust en orde) di tengah masyarakat.
Sebelum penangkapan itu dilakukan, pengaruh "Als Ik Eens Nederlander Was" benar-benar meluas di kalangan intelektual pribumi, khususnya di Jawa. Dua kawan baik Ki Hadjar Dewantara di Indische Partij, yakni Tjipto Mangoenkoesoemo dan Setiabudi, juga membuat artikel-artikel yang mendukung gagasannya.
Tjipto menulis "Kracht of Vrees" (Kekuatan atau Ketakutan), terbit pada 26 Juli 1913. Adapun EFE Douwes Dekker menulis "Onze Helden: Tjipto Mangoenkoesoemo en RM Soewardi Soerjaningrat" (Pahlawan-Pahlawan Kami: Tjipto Mangoenkoesoemo dan RM Soewardi Soerjaningrat) usai kedua kawannya itu ditangkap.
Masih saja pemerintah kolonial cemas akan dampak tulisan mereka. Akhirnya, para Tiga Serangkai itu diasingkan ke Belanda pada September 1913.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
Terjadi Eskalasi, Pasukan Gabungan Segera Dikerahkan ke Intan Jaya Papua
OPM menyerang dengan menembaki Polsek Homeyo hingga menewaskan seorang warga sipil.
SELENGKAPNYADi Tengah Banjir Protes terhadap Israel, DPR AS Loloskan RUU Antisemitisme
Ekspresi antisemit termasuk membandingkan kebijakan Israel dengan Nazi Jerman.
SELENGKAPNYAMenyoal Jaminan Perlindungan Guru
Guru menyadari sepenuhnya bahwa perlu kode etik sebagai pedoman dalam bersikap.
SELENGKAPNYA
