Agus Salim muda. Pahlawan nasional ini lahir dengan nama Mashudul Haq, yang berarti pembela kebenaran | DOK WIKIPEDIA

Mujadid

Masa Muda Haji Agus Salim

Mashudul Haq alias Haji Agus Salim telah merantau ke luar negeri sejak usia muda.

Pahlawan nasional ini lahir dengan nama yang begitu indah, Mashudul Haq. Artinya, 'Sang pembela kebenaran.' Kelak, dirinya lebih dikenal sebagai Haji Agus Salim.

The Grand Old Man”--demikian julukannya--merupakan anak keempat dari pasangan Sutan Muhammad Salim dan Siti Zaenab. Lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, pada 8 Oktober 1884. Lika-liku kehidupannya ikut mewarnai perjuangan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya, terutama dalam ikhtiar Indonesia Merdeka.

Sutan Muhammad Salim menaruh perhatian besar terhadap pendidikan anak-anak. Baginya tidak menjadi soal apakah penyelenggara suatu sekolah itu pemerintah kolonial atau bukan. Yang penting, bagaimana agar anak-anaknya dapat mereguk lautan ilmu seluas-luasnya.

Walaupun sempat ditentang sanak saudara, pria yang pernah menjadi jaksa-kepala pada Pengadilan Tinggi Riau itu memasukkan anaknya ke sekolah dasar untuk orang-orang Eropa (Europeesche Lagere School/ELS).

Pada 1891, Mashudul Haq terdaftar di ELS Riau. Meskipun sekelas dengan anak-anak kulit putih, tidak pernah dia merasa inferior. Malahan, prestasi akademisnya terbilang amat memuaskan.

Dia menaruh minat yang tinggi pada rupa-rupa pelajaran. Mengutip uraian Kustiniyati Mochtar dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim, kecerdasan anak ini memukau salah seorang gurunya, Brouwer.

photo
ILUSTRASI Sekolah formal yang didirikan pemerintah kolonial Belanda. - (DOK WIKIPEDIA)

Orang Eropa ini sempat meminta Sutan Muhammad agar mengizinkan murid kesayangannya itu tinggal bersamanya. Izin yang akhirnya diperoleh hanya sebatas bahwa si anak mengunjungi gurunya itu setiap usai makan malam. Setelah tuntas belajar, dia harus pulang dan tidur di rumah sendiri.

Tidak seperti anak-anak umumnya, Mashudul Haq sudah sampai taraf “menggilai” belajar. Pernah suatu ketika, Mochtar menuturkan, bocah lelaki ini kesal karena jam-jam belajarnya kerap diselingi instruksi untuk ikut membersihkan rumah. Bukannya ikut teman-temannya bermain di luar—suatu masalah lain menurut si genius cilik ini—dia malah bersembunyi.

Caranya dengan naik ke atap seusai makan siang. Perlahan-lahan, beberapa genting digesernya supaya sinar matahari dan udara segar dapat masuk. Dengan begitu, dirinya dapat membaca buku-buku pelajaran dengan tenang sambil duduk bersila di atas plafon.

Kebiasaan ini dilakukannya terus selama berhari-hari. Sampai akhirnya, dia lupa menutup kembali genting ke posisi semula. Suatu sore, hujan deras mengguyur. Air lalu merembes dari langit-langit dan membasahi seluruh kamar di bawahnya. Seisi rumah heboh mencari tersangka.

Mashudul Haq tidak dapat mengelak lagi. Sambil tersenyum kecut dia berkata, “Makanya jangan suka menyuruh-nyuruh terus kalau saya lagi belajar!”

 
Ketekunannya tampak sangat kuat saat mempelajari penguasaan bahasa-bahasa asing.
   

Ketekunannya tampak sangat kuat saat mempelajari penguasaan bahasa-bahasa asing. Dia amat menyukai beragam bahasa luar, mulai dari Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Turki, Arab, hingga Jepang. Rasa penasaran yang tinggi sejak dini akan bahasa-bahasa itu kelak memudahkannya untuk menjadi seorang poliglot.

Sekurang-kurangnya, "The Grand Old Man" menguasai sembilan bahasa internasional. Apalagi, suratan takdir menggariskan perjuangannya pada ranah yang memerlukan kepandaian berkomunikasi lintas bahasa, yakni diplomasi.

Mulanya nama 'Agus'

Enam tahun berlalu, Mashudul Haq akhirnya lulus dari ELS. Soal perubahan nama hingga menjadi Agus Salim, Mochtar mengungkapkan alasan yang sederhana.

Pihak keluarga Sutan Muhammad Salim mempekerjakan seorang perempuan asisten rumah tangga dari Jawa. Anak-anak tuan rumah kerap dipanggilnya dengan sapaan sayang “Den Bagus” atau disingkat “Gus”.

Tanpa terasa, orang-orang dewasa dan bahkan para guru di sekolah ikut-ikutan memanggilnya “Gus.” Mengikuti lidah orang Belanda, sebutan “Gus” ditambahkan menjadi “August” alias Agus.

Orang tua Agus Salim memberangkatkannya ke Batavia (Jakarta) untuk meneruskan sekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) yang lagi-lagi diisi mayoritas anak-anak Eropa. Di tanah rantau, dia indekos di rumah keluarga Tuan Koks, seorang Belanda. Kepintarannya juga mengesankan orang-orang di sekitarnya. Lima tahun berselang, dia lulus dengan predikat tertinggi tidak hanya di sekolahnya, tetapi juga seluruh HBS di Hindia Belanda (Indonesia).

 
Dia (Agus Salim) lulus dengan predikat tertinggi tidak hanya di sekolahnya, tetapi juga seluruh HBS di Hindia Belanda.
   

Berita ini cukup menggemparkan para pejabat kolonial, khususnya yang berfokus pada pendidikan dan Politik Asosiasi. Orientalis Snouck Hurgronje (1857-1936) merupakan pemrakarsa kebijakan tersebut.

Tujuannya untuk menjauhkan generasi Pribumi dari akar budaya dan agamanya sendiri, tetapi sambil mendekatkan mereka pada kebudayaan Barat. Harapannya, Hindia (Indonesia) dapat dibelandakan baik secara politik maupun kultural.

Kisah beasiswa

Dorongan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya membuat pemuda 19 tahun itu begitu bersemangat. Dia ingin melanjutkan sekolah tinggi di luar negeri, terutama pada bidang ilmu kedokteran. Sayang, hasrat ini terbentur pelbagai persoalan.

Satu kisah yang santer kemudian, Raden Ajeng Kartini mengetahui berita tentang Agus Salim. Perempuan yang lima tahun lebih tua daripadanya itu sebelumnya mendapatkan besluit pada 7 Juli 1903. Isi surat tersebut menjamin biaya pendidikannya selama menempuh pendidikan di Belanda.

Putri kelahiran Jepara itu tentu saja gembira karena impiannya selangkah lagi terwujud. Akan tetapi, orang tuanya enggan mengizinkannya. Alih-alih meneruskan sekolah, dia mesti menikah dengan pria yang dijodohkan kepadanya.

Maka dari itu, Kartini merasa tersentuh akan perjuangan Agus Salim. Walaupun belum pernah bertemu langsung dengan putra Minangkabau tersebut, pada 24 Juli 1903 Kartini menulis sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, istri pejabat tinggi kolonial bidang pendidikan.

Secara garis besar, isinya meminta agar beasiswa untuknya dapat dialihkan kepada Agus Salim. “Banyak sekali yang dapat dilakukan Salim sebagai dokter untuk rakyatnya. Dan sesungguhnyalah, adalah idaman Salim untuk bekerja untuk rakyat kita!” tulisnya dalam bahasa Belanda.

Hanya saja, Agus Salim tidak pernah memeroleh beasiswa. Alasannya tidak terlalu berkaitan dengan tawaran Kartini. Malahan, dia sendiri baru tahu belakangan bahwa istri bupati Rembang itu menulis surat tentangnya.

photo
ILUSTRASI Makkah pada awal abad ke-20 M. - (DOK WIKIPEDIA)

Merantau ke Arab

Pada 1905, permohonan Sutan Salim kepada pemerintah kolonial, agar dua anaknya—Agus dan Jacob Salim—mendapatkan persamaan status (gelijkgesteld) dengan orang kelahiran Eropa, dikabulkan. Namun, Snouck Hurgronje menasihati Agus agar tidak usah bercita-cita menjadi dokter karena pekerjaan ini bergaji kecil.

“Mungkin ia lupa bahwa imbalan yang dikatakan rendah menurut ukuran orang Eropa itu bagaimanapun tentu termasuk tinggi untuk orang Pribumi,” kenang Agus Salim dalam tulisannya pada 1953.

Dia pertama kali bertemu orientalis tersebut pada 1880, dengan mengetahui besarnya pengaruh orang ini terkait Politik Asosiasi. Setelah menerima gelijkgesteld, pulanglah dia ke kampung halaman. Ternyata, ibundanya kurang berkenan bila anaknya itu menuntut ilmu ke Eropa.

Siti Zaenab lebih berbesar hati bila Agus Salim menerima tawaran terbaru Snouck Hurgronje, yakni bekerja pada perwakilan Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Apalagi, tempat itu dekat dengan Masjidil Haram, Makkah. Pamannya, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, diketahui sedang mengajar di sana.

photo
Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. - (Dok ist)

Ternyata, Agus masih bimbang antara melanjutkan studi ke Belanda atau bekerja di Arab. Sampai akhirnya, Siti Zaenab menghembuskan nafas terakhir. Untuk menghormati pesan terakhir sang ibu, dia pun meninggalkan opsi pergi ke Negeri Tanah Rendah.

“Aku langsung membeli sebuah buku kecil, mulai belajar bahasa Arab dan berangkat ke Jeddah.” Saat itu, usianya sekitar 21 tahun.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Kebiasaan Buruk yang Berujung Gangguan Kecemasan

Menyaksikan peristiwa yang terungkap dalam berita, dapat membawa keadaan kewaspadaan tinggi yang konstan

SELENGKAPNYA

Teman Korban Kapal Jelajah Titanic: 'Setiap Menit Terasa Seperti Berjam-jam'

Ekspedisi wisata tersebut menelan biaya sekitar Rp 3,7 miliar per orang.

SELENGKAPNYA

KPK Minta Maaf

KPK berjanji bakal mengusut tuntas kasus dugaan pungli di Rutan KPK.

SELENGKAPNYA