Sutradara, Produser, dan para pemain film Tegar, dalam gala premiere yang digelar di XXI Epicentrum Jakarta, Jumat (18/11/2022). | Rahma Sulistya/Republika

Filantropi

Dukungan Bagi Kaum Difabel Lewat Film

Film ini menjadi momentum dimulainya program membangun awareness terhadap penyandang disabilitas.

OLEH RAHMA SULISTYA

Sebuah film berjudul Tegar, menjadi film dengan pemeran utama seorang anak penyandang disabilitas yang tidak memiliki dua tangan dan satu kaki. Kehidupannya sehari-hari hanya bergantung pada satu kakinya saja. Dompet Dhuafa menjadi lembaga filantropi yang mendukung film yang diperankan oleh anak usia 10 tahun penyandang disabilitas bernama M Aldifi Tegarajasa ini.

Dukungan ini memang sejalan dengan program Dompet Dhuafa yang akan berjalan hingga 2023 mendatang. “Gerakan Dompet Dhuafa Volunteer tahun ini (hingga sepanjang 2023) dalam gerakan inklusi. Kaum inklusi ini ada lansia, ODGJ (orang dengan gangguan jiwa), dan disabilitas,” ujar Ketua Dompet Dhuafa Volunteer, Fajar Firmansyah, saat ditemui Republika dalam Gala Premiere Tegar di XXI Epicentrum Jakarta, Jumat (18/11).

Film Tegar menjadi momentum gerbang dimulainya program Dompet Dhuafa Volunteer, untuk membangun awareness masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Apalagi film Tegar memberi ruang bagi pemain dan kru penyandang disabilitas untuk berkarya.

“Kita dukung film baik ini untuk ada di layar Indonesia, dengan mengadakan pemutaran film di 20 kota di seluruh Indonesia, bersama 1.000 relawan dan 2.000 anak yatim, dhuafa, dan penyandang disabilitas, untuk menonton film baik ini,” kata Fajar lagi.

 

Dompet Dhuafa Volunteer akan membayarkan tiket mereka untuk menonton. Saat rilis pada 24 November 2022, pemutaran keliling itu pun akan dimulai juga.

Per akhir 2022 ini, Dompet Dhuafa Volunteer juga ingin membuat gerakan kerelawanan Dompet Dhuafa untuk peduli dengan kaum penyandang disabilitas, mereka yang memiliki gangguan kesehatan mental, serta kakek nenek yang sudah lansia.

Selain menjadi teman dalam kegiatan kerelawanan, Dompet Dhuafa Volunteer akan mengangkat potensi-potensi kaum inklusi. Karena sekitar Agustus 2022 di Lampung, ada semacam festival untuk melatih anak-anak penyandang disabilitas untuk bisa pentas.

“Banyak yang melihat teman-teman disabilitas ini sebagai objek, jadi mereka adalah orang yang harus dikasihani. Padahal mereka ini adalah orang-orang yang berbeda yang punya potensi yang mungkin kita tidak punya. Kita ingin coba angkat itu, dan itu cocok banget sama film ini,” ujar Fajar.

Tegar memperlihatkan penyandang disabilitas pun mampu berenang, memasak, menjahit, dan aktivitas lain yang bisa dilakukan manusia normal. Bahkan sang pemeran utama telah menjadi seorang aktor yang meraih dua penghargaan internasional.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Film Tegar (24 Nov di Bioskop) (film_tegar)

“Jadi kita berikan ruang pada mereka untuk muncul, tidak sebagai objek tapi sebagai subjek. Kerelawanan kita akan fokus ke awareness dulu, dan pelatihan Dompet Dhuafa ada di Institut Kemandirian,” papar dia.

Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, juga hadir dalam Gala Premiere film Tegar untuk mendukung kesuksesan film tersebut. Ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia agar beramai-ramai menonton Tegar.

“Saya sampaikan ke seluruh masyarakat Indonesia untuk melihat film ini. Karena film ini berkaitan dengan kemanusiaan, agar kita tidak menjadi manusia sombong,” ujar Moeldoko dalam Gala Premiere Tegar di XXI Epicentrum Jakarta, Jumat (18/11/2022).

Negara juga telah melindungi para penyandang disabilitas lewat pengesahan Undang-Undang No. 8 tahun 2016, serta dua perpres dan tiga Permen. “Negara selalu hadir untuk kalian, kalian tidak pernah ditinggalkan,” ucap Moeldoko.

Adegan yang membuat Moeldoko terkesan adalah ketika Tegar (M Aldifi Tegarajasa) menaiki anak tangga yang melingkar. Dengan keterbatasannya, Tegar mampu melakukannya walaupun mungkin ada orang-orang yang tidak bisa melakukannya.

“Film ini membangun optimisme, siapapun dari kita harus selalu optimis. Teman-teman kita yang memiliki perbedaan saja memiliki rasa optimistis yang tinggi, apalagi kita,” papar Moeldoko lagi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Film Tegar (24 Nov di Bioskop) (film_tegar)

Yang mudah bagi kita, belum tentu mudah bagi orang lain. Dan yang sulit bagi kita, belum tentu sulit bagi orang lain. “Jangan tinggalkan kami di belakang hanya karena kami berbeda,” ujar M Aldifi Tegarajasa.

Ungkapan tersebut menggambarkan kisah seorang anak penyandang disabilitas yang tidak memiliki kedua tangan dan tidak memiliki satu kaki. Karakter utama dalam film Tegar adalah anak dari keluarga berada, namun ibunya ‘mengurung’ Tegar hingga 10 tahun lamanya.

Tegar (M Aldifi Tegarajasa) hanya bermain di rumah bersama sang kakek (Deddy Mizwar) dan baby sitter Teh Isy (Joanita Chatarine). Tegar juga tidak disekolahkan, tetapi ia mendalami dunia lukis sehingga lukisannya sangat bagus.

Film ini memperlihatkan hal yang sulit dilakukan seorang penyandang disabilitas, tetapi mampu dilakukan dengan baik. Semisal, ketika Tegar mengompol dan tidak ada orang di rumah, ia berusaha dengan keras membuka baju dan celananya yang basah.

Ia juga sangat bersusah payah mengambil baju dengan satu kakinya saja yang ada di lemari, dan kemudian memakainya. Banyak manusia yang tidak bersyukur dengan hidup mereka, sementara ada orang-orang yang memiliki mimpi sederhana untuk sekadar bisa melakukan hal-hal normal.

 
Film ini memperlihatkan hal yang sulit dilakukan seorang penyandang disabilitas, tetapi mampu dilakukan dengan baik.
 
 

“Film ini tentang kesederhanaan cita-cita, anak yang punya mimpi sederhana, ingin sekolah dan ingin punya teman,” ujar Sutradara Anggi Frisca dalam kesempatan yang sama.

Keadaan Tegar dengan kondisinya yang serba kesulitan, juga digambarkan dengan sangat jelas sehingga penonton ikut terbawa. Diproduksi oleh Aksa Bumi Langit, film Tegar diharapkan bisa menginspirasi banyak orang.

Menonton Tegar, akan menyentuh sisi kemanusiaan diri kita apalagi masih sangat jarang melihat sebuah film yang menjadikan penyandang disabilitas sebagai karakter utama. Bahkan, aktor Tegar masih berusia 10 tahun tapi sudah memiliki berbagai bakat. 

Membersamai Inklusi dari Segala Sisi

Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) selalu menjalankan program bantuan untuk para kaum penyandang disabilitas, tetapi semua ditentukan pada kemampuan orang tersebut. Beberapa orang mungkin ada yang memiliki bakat, tapi ada yang justru merasa dunianya hancur.

“Kondisi difabel cukup beragam, begitu pula latar belakang kesehatan, kondisi ekonomi, juga kemampuannya untuk bisa mandiri secara ekonomi,” ujar Direktur Akademizi IZI, Nana Sudiana, Selasa (22/11).

Misalnya saja bantuan yang diberikan lewat program Layanan Pendampingan Orang Sakit (Lapors) oleh IZI Sulawesi Selatan, yang merupakan bantuan kesehatan bagi lansia yang tinggal sebatang kara. Salah satunya adalah Alwi (63) yang tinggal di Desa Tugondeng, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba. Ia menderita saraf terjepit yang mengakibatkan kaki sebelah kanannya tidak bisa digerakkan atau mati rasa.

Penanggung jawab program, Muhammad Ichsan, mengatakan bahwa duda yang tinggal sebatang kara itu telah menderita penyakit tersebut sekitar tiga tahun. Untuk melakukan aktivitas sehari-hari, ia hanya menggunakan kaki kiri dibantu tongkat.

"Bapak Alwi tidak melanjutkan pengobatan karena terkendala biaya. Untuk kebutuhan dasar pun bapak Alwi hanya mendapatkan dari tetangganya," kata Ichsan.

Sementara itu, penyandang disabilitas yang memiliki kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari diberikan bantuan penunjang. Seperti yang dilakukan IZI Jawa Tengah bersama YBM PT PLN (Persero) UP3 Demak.

photo
Dua orang guru honorer Agus Sarmantake (kiri) dan Sujono (kanan) berjalan pulang usai mengajar di Yayasan SLB Kusuma Bangsa di Kelurahan Anggoya, Poasia, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (2/8/2022). - (ANTARA FOTO/Jojon)

IZI dan YBM PLN memberikan bantuan motor roda tiga untuk Arif Yudianto atau biasa dipanggil Yahya. Harapannya, bantuan motor modifikasi ini, bisa semakin membangkitkan semangat Yahya dalam berjuang menafkahi keluarga di tengah keterbatasan kondisinya.

Menurut Kabid Pendayagunaan IZI Jawa Tengah, Eko Mulyono, penyerahan motor roda tiga tersebut dilakukan setelah melalui proses panjang untuk modifikasi sesuai dengan kebutuhan khusus dari Yahya, yaitu untuk kebutuhan aktivitas harian dan untuk berjualan.

“Mereka memang bukan untuk dikasihani, tapi dibersamai untuk terus bisa tumbuh dan bisa mandiri, termasuk untuk mengelola kehidupannya sendiri, juga untuk mampu menghidupi diri dan keluarganya,” ungkap Nana lagi.

Di sisi lain, ada sejumlah difabel yang memerlukan bantuan orang lain untuk beraktivitas normal Ini menjadi tugas seluruh stakeholder untuk selalu memahami kondisi mereka, dan mendukung mereka yang memang membutuhkannya.

“Tugas kita semua, untuk memastikan bahwa difabel adalah bagian dari kita, bagian dari orang-orang yang harus kita dorong untuk bisa mandiri. Bahkan mereka juga harus mampu menjadi //role model// bagi kalangan mereka yang ada di negeri ini,” kata Nana mengakhiri. n rahma sulistya. ed: satya festiani

Musibah Buka Peluang Pahala

SELENGKAPNYA

Bencana Alam, Azab atau Musibah?

Apa yang belum lama ini dialami masyarakat Cianjur dan sekitarnya adalah musibah.

SELENGKAPNYA

Eduardo Alves Dos Anjos Menemukan Bahagia Dalam Islam

Sebelum menjadi mualaf, pria asal Kanada ini sempat membenci Islam pascakejadian 9/11.

SELENGKAPNYA