vp,,rm
Anak-anak bermain di tenda pengungsian di kawasan Cijendil, Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (23/11/2022). Anak-anak menjadi salah satu korban terbanyak pada bencana gempa bumi berkekuatan 5,6 SR. Tercatat dari 271 korban jiwa pada bencana te | Republika/Putra M. Akbar

Kabar Utama

Percepat Distribusi Bantuan Korban Gempa Cianjur

Reruntuhan bangunan menjadi salah satu hambatan dalam pendistribusian bantuan.

CIANJUR – Warga korban gempa Cianjur berharap distribusi bantuan makanan dan minuman dipercepat. Persediaan di lokasi pengungsian kini semakin menipis setelah memasuki hari ketiga pascagempa.

Selain makanan, pengungsi juga membutuhkan pakaian layak karena sebagian besar hanya mengenakan baju yang melekat saat gempa mengguncang dan merobohkan rumah mereka.

Mimin (50 tahun), warga Kampung Banjar Pinang, Desa Cijedil, Cugenang, yang mengungsi tak jauh dari rumahnya yang kini hancur, mengaku sangat trauma karena saat kejadian ia melihat rumahnya dan rumah tetangganya roboh. Ia kini bersama anak dan cucunya bertahan di lokasi pengungsian dengan pakaian seadanya. “(Butuh) baju, selimut, pakaian bayi,” kata Mimin di lokasi pengungsian, Rabu (23/11).

Pengungsi lainnya, Iyam (67), mengaku tak terpikir untuk membawa pakaian ketika gempa terjadi. Saat itu ia panik dan hanya berusaha menyelematkan diri. Iyam pun membutuhkan pakaian layak pakai. “Sarana toilet umum juga hanya satu dan harus antre,” kata Iyam.

photo
Sejumlah warga beraktivitas di dalam tenda pengungsian di Lapang Sepak Bola Cariu, Mangunkerta, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Rabu (23/11/2022). - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Di lokasi pengungsian lainnya, di Kampung Gunung Lanjung, Desa Cijedil, Dea Indriani (20) mengatakan, pasokan makanan juga belum merata disalurkan. Dea berharap ada pasokan makanan dan minuman kepada para pengungsi lebih cepat. Sebab, untuk mencari bahan makanan pada kondisi sekarang dinilai masih kesulitan. “Kami hanya mendapatkan bantuan dari saudara atau teman dari luar daerah,” kata dia.

Di lokasi lain, enam tenda ukuran sedang hingga besar berdiri di atas tanah pemakaman umum (TPU) Kampung Rawa Cina, Kecamatan Nagrak, Cianjur. Tenda itu didirikan warga secara mandiri sebagai tempat pengungsian karena tidak memiliki tempat yang memadai. Lokasi tersebut berada di Jalan Kampung Rawacina Kaler. Sepanjang jalan tersebut, rumah warga terlihat banyak yang ambruk.

“Sudah nggak ada tempat lagi, ini satu-satunya tempat yang bisa digunakan mengungsi,” kata Omay (54), Ketua RT02 RW16 Kampung Rawa Cina.

Pantauan di lokasi, warga penyintas gempa memanfaatkan lahan kosong di tanah kuburan itu untuk mendirikan tenda pengungsian seadanya dengan beralaskan terpal membentang di atas tanah kuburan. Di samping tenda-tenda pengungsian itu terdapat kuburan-kuburan yang bernisan, hingga kuburan baru yang masih basah tanahnya.

Omay mengatakan, 11 warga korban gempa yang meninggal dunia juga dimakamkan di lokasi tersebut. Ada sekitar 200 jiwa warganya dan warga dari RT03 yang mengungsi di sana. Menurutnya, posko pengungsian yang didirikan oleh Polri, relawan, hingga Kementerian Sosial terlalu jauh untuk dijangkau. Di sisi lain, warga juga masih khawatir dengan harta bendanya yang berada di rumah. “Susah kalau di posko itu, enggak ada kamar mandinya juga,” kata Omay.

Omay dan warganya sudah berada di tenda pengungsian itu selama tiga hari sejak gempa Senin (21/11). Kondisi di tenda minim dengan penerangan, karena aliran listrik di wilayah tersebut belum menyala.

photo
Relawan memberikan cemilan untuk anak-anak di kawasan Cijendil, Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (23/11/2022). - (Republika/Putra M. Akbar)

Terhambat akses

Reruntuhan bangunan rumah milik warga menjadi salah satu hambatan dalam pendistribusian bantuan. Truk dari Polres Garut yang membawa bantuan menuju Kampung Babakan Renyom, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, beberapa terhenti karena terhambat material bangunan rumah warga yang ambruk ke arah jalan.

Jarak tempuh dari Jalan Raya Nagrak menuju Kampung Babakan Renyom harus ditempuh dengan waktu satu jam lebih. Pada Rabu (23/11), material bangunan rumah warga yang ambruk masih terlihat terbengkalai. Selain reruntuhan material bangunan yang ambruk, tantangan lainnya adalah ruas jalan yang retak dan longsor, sehingga kendaraan pengangkut logistik harus lebih berhati-hati melintas.

Korban meninggal dunia pun terus bertambah. Per Rabu (23/11) sore, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 271 orang meninggal dunia. Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, sebanyak dari 271 jenazah itu sudah teridentifikasi berdasarkan nama dan alamatnya.

Sebanyak 2.043 orang mengalami luka-luka dan sekitar 61 ribu orang mengungsi. “Yang hilang 40 orang, 39 di Cugenang, satu di Warung Kondang,” ujarnya.

Suharyanto mengatakan, upaya pencarian korban tertimbun masih akan terus dilanjutkan. Pencarian akan difokuskan di empat titik, yakni di Kampung Cugenang RT02 Kecamatan Cugenang, Kampung Rawa Cina Desa Nagrak Kecamatan Cianjur, Kampung Selakawung, Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, dan di Jalan Raya Cipanas (Warung Sate Shinta).

Selain pencarian korban, lanjut Suharyanto, semua titik pengungsian juga dipastikan akan mendapatkan dukungan logistik. Khususnya di lokasi pengungsian yang terpusat di 14 titik yang tersebar di 12 kecamatan terdampak.

Pendistribusian logistik akan dilakukan melalui jalur darat maupun udara. Pendistribusian logistik melalui udara disiapkan helikopter sebanyak tiga unit. Rinciannya, sebanyak dua unit dari Basarnas dan satu unit dari BNPB.

Untuk wilayah yang terisolasi, kata Suharyanto, datanya masih simpang siur. Untuk memastikannya, kepala desa, babinsa, dan bhabinkamtibmas akan dilibatkan lantaran lebih mengetahui kondisi wilayah. Masing-masing kepala desa melaporkan seandainya ada desa-desa yang masih terisolasi. Ia berharap hari ini tidak ada lagi keluhan dari masyarakat yang merasa belum mendapatkan bantuan.

photo
Relawan mengevakuasi warga yang sakit di area tenda pengungsian di Perkebunan Gedeh, Sukamulya, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Rabu (23/11/2022). - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Cari bantuan ke jalan

Sejumlah warga penyintas gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, meminta bantuan di jalan karena belum mendapatkan pasokan logistik. Mereka mendatangi mobil-mobil pembawa logistik bantuan yang melintas, salah satunya truk Polri yang dibawa oleh Polres Garut Polda Jawa Barat.

Berdasarkan pantauan pada Rabu (23/11), saat truk tim Polres Garut hendak mengantarkan bantuan logistik ke Kampung Babakan Renyom, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, sejumlah pemuda ataupun warga mendatangi truk untuk meminta bantuan. Mereka meminta bahan makanan dan minuman, termasuk tenda dan terpal untuk warga yang mengungsi di beberapa titik. 

Sepanjang perjalanan menuju Kampung Babakan Renyom dari Jalan Raya Nagrak, lebih dari lima kali truk didatangi warga, baik itu pemuda maupun orang dewasa.

photo
Warga berada diluar rumah untuk mengantisipasi gempa susulan di Kampung Kadudampit, Rancagoong, Cianjur, Jawa Barat, Selasa (22/11/2022). - (Republika/Putra M. Akbar)

Bahkan, ada beberapa warga yang mengungsi di pinggir jalan menuju Kampung Babakan, menanyakan ke mana bantuan tersebut disalurkan, karena mereka kekurangan bahan makanan. 

Dengan penuh kesabaran, tim bantuan Polri dari Polres Garut menyampaikan kepada warga bahwa bantuan tersebut akan dipusatkan di posko induk. Warga tersebut diminta untuk mengambilnya di posko. 

"Karena kalau kami bagikan di jalan begini, nanti memancing yang lain datang," kata Bripda Faisal, Rabu (23/11). 

Sesuai arahan dari posko utama bantuan Polri di Polres Cianjur, personel Polri ditugaskan mendistribusikan bantuan ke titik pengungsian agar selanjutnya didistribusikan oleh RT dan RW. 

Aiptu Dede Mulyana Buldan, perwira Tim SAR Polres Garut mengatakan, personel bantuan dari polres-polres se-Jawa Barat ditugaskan mendistribusikan bantuan ke wilayah terdampak gempa.

Wilayah terdampak kerusakan parah tersebar di 12 kecamatan, yakni Kecamatan Cugenang, Kecamatan Cianjur, Warung Kondang, Kecamatan Cilaku, Kecamatan Sukaresmi, Kecamatan Cipanas dan Kecamatan Pacet, Kecamatan Karang Tengah, Kecamatan Gekbrong, Kecamatan Cibeber, Kecamatan Sukaluyu, Kecamatan Bojong Picung, dan Kecamatan Cikalong Kulon. 

"Hari pertama kami fokus melakukan evakuasi, sedangkan pada Rabu ini tugasnya mendistribusikan bantuan ke masyarakat," kata Aiptu Buldan.

Pemprov Jawa Barat melalui Dinas Sosial (Dinsos) Jabar menyatakan, telah bergerak mengirim bantuan logistik untuk korban bencana gempa Cianjur. Menurut Kepala Dinsos Jabar Dodo Suhendar, bantuan tersebut berupa pangan dan sandang. 

"Hingga Senin pukul 16.00 WIB, dikirim logistik dari APBN berupa sandang dewasa 30 setel, makanan siap saji 2.600 paket, makanan anak 650 paket, selimut 350 lembar, family kit A 130 paket, kids wear A 150 paket," ujar Dodo, Rabu (23/11).

photo
Seorang warga membawa bantuan dari kepolisian di kawasan Cijendil, Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (23/11/2022). - (Republika/Putra M. Akbar)

Selain itu, menurut Dodo, dikirimkan juga logistik dari APBD berupa matras gulung 250 lembar dan tenda gulung 100 lembar. "Total nilai bantuan sekitar  Rp 451 miliar. Bantuan sebesar Ro 386 miliar berasal dari APBN, sedangkan dari APBD sebesar Rp 55,3 miliar,” ujar dia. 

Dodo mengatakan, selain bantuan logistik yang bersumber dari APBN dan APBD, Tagana dari sejumlah daerah di Jabar pun akan mengirimkan bantuan logistik kepada korban gempa Cianjur.

"Sejumlah Tagana dari daerah selain Cianjur juga telah bersiap untuk dikirimkan ke lokasi bencana, seperti Garut, Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, dan Bogor," katanya.

Menurut dia, kebutuhan yang saat ini mendesak untuk membantu korban gempa, yaitu tenda gulung, selimut, matras, dan makanan.

"Tenda gulung kita perlu 10 ribu lembar, selimut 10 ribu lembar, matras 5 ribu lembar, sarden 10 ribu kaleng, dan kornet 10 ribu kaleng," katanya.

Berdasarkan data BNPB per Rabu (23/11) sore, jumlah pengungsi gempa bumi mencapai 61 ribu orang. Hingga kemarin, gempa bumi susulan masih terjadi. 

BMKG menginformasikan gempa susulan Cianjur dengan magnitudo 3,9 terjadi pada Rabu pukul 11.41 WIB, dengan kedalaman 1 km. Gempa susulan tersebut menyebabkan jalan utama Kampung Cisarua, Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, kembali ambles.

Sebelum gempa susulan, jalanan tersebut tidak rata sehingga aspal yang rusak harus dipecah menggunakan ekskavator agar jalanan dapat dilalui. Jalanan tersebut memiliki kontur yang cenderung miring.

Setelah gempa susulan terjadi, jalanan yang semula sudah diratakan, kembali ambles dan curam untuk dilalui. Tanah menjadi sangat lembek akibat derasnya hujan.

Hal itu membuat warga sekitar mengaku takut untuk melewati jalan terputus tersebut. Tidak hanya itu, kejadian gempa susulan membuat warga Kampung Cisarua menjadi sangat emosional dan syok saat mengevakuasi diri dari rumah-rumah, yang sudah terlihat hampir roboh. Sedikitnya tiga orang mengalami luka ringan akibat kejatuhan material bangunan dan dibawa ke posko pengungsian untuk mendapat pertolongan medis.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Prioritaskan Evakuasi Korban Gempa

Masyarakat diminta tidak resah dengan gempa susulan karena terus melemah.

SELENGKAPNYA

Terobos Longsor Demi Selamatkan Anak

RSUD Sayang merawat 420 korban gempa hingga Selasa (22/11) pagi.

SELENGKAPNYA

Malaysia Masih Buntu

Malaysia menanti keputusan raja untuk menentukan pemimpin Malaysia.

SELENGKAPNYA