vp,,rm
Suasana Masjidil Haram | republika

Tuntunan

Di Balik Hikmah Islam Diturunkan di Makkah

Meski diturunkan di tempat yang kering kerontang, Islam bisa menciptakan peradaban.

OLEH UMAR MUKHTAR

Mengapa Islam diturunkan di Makkah? Mungkin pertanyaan itu pernah tebersit di benak seorang Muslim. Tentu ada banyak hikmah yang dapat direnungkan sekaligus dipetik dari ketetapan Allah SWT itu. Pakar ilmu Alquran KH Ahsin Sakho Muhammad menyampaikan pemaparan tentang hal tersebut. Dia menuturkan, maksud Islam dalam penjelasan di sini adalah Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

"Ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi renungan bersama. Dalam hal ini, ada ranah yang menyangkut ketauhidan. Sebelum masa Nabi Muhammad, nabi-nabi itu dari bani Israil," kata pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Qur'an, Kebon Baru, Arjawinangun, Cirebon, itu, dikutip dari kanal Youtube Ahsin Sakho Center, Senin (14/11).

 
Sebelum masa Nabi Muhammad, nabi-nabi itu dari bani Israil
KH AHSIN SAKHO
 

Nabi-nabi dari bani Israil merupakan keturunan dari Nabi Ishak. Di antaranya Yakub, Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, dan Isa. Berdasarkan Alquran, bani Israil tidak mau bersyukur kepada Allah SWT yang telah mengutus banyak nabi kepada bangsanya. Mereka justru melakukan hal-hal yang tidak terpuji dan enggan bersyukur, bahkan membunuh nabinya sendiri, seperti Nabi Sya'ya, Nabi Zakaria, dan Nabi Yahya. Nabi Isa ingin dibunuh oleh orang-orang bani Israil, tetapi tidak berhasil.

Allah SWT, demikian dipaparkan Kiai Ahsin, sudah memberikan kesempatan kepada bani Israil untuk kembali ke jalan yang benar, tetapi mereka tidak demikian. Karena itu, Allah SWT ingin mengalihkan kenabian kepada keturunan Nabi Ismail yang tak lain adalah kakak Nabi Ishak dari satu bapak (Nabi Ibrahim) lain ibu.

photo
PAKAR ILMU AL-QURAN, Muhammad Ahsin Sakho, Dialog Jumat edisi 24 Juni 2011 - (Republika/Agung)

Kiai Ahsin melanjutkan, faktor lain pemilihan Makkah sebagai tempat diturunkannya Islam kemungkinan karena Makkah saat itu adalah daerah yang sangat tandus. Allah SWT menurunkan Islam di Makkah untuk merepresentasikan bahwa, meski diturunkan di tempat yang kering kerontang, Islam bisa menciptakan peradaban.

Dahulu, Nabi Ibrahim melakukan dakwahnya di Kota Ur (sekarang Irak), tetapi di kota tersebut tidak subur untuk kegiatan tauhid. Berbeda dengan Makkah yang walaupun daerahnya kering kerontang, Islam bisa berkembang dengan kegiatan tauhidnya. Allah SWT tidak ingin peradaban Islam menumpang pada peradaban yang sudah ada. Seandainya Islam diturunkan di Persia, berarti Islam menumpang pada peradaban Persia. Begitu pun jika Islam diturunkan di Romawi. Namun, Islam dimulai di Makkah, yang artinya dimulai dari awal.

Dengan pengalihan kenabian itu, menurut Kiai Ahsin, Allah SWT ingin agar Nabi Ismail menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar hingga kemudian bisa berkeluarga bersama istri yang berasal dari suku Jurhum. Dari peranakan Nabi Ismail dan wanita suku Jurhum ini muncul bangsa Arab yang muta'aarif, yaitu bangsa Arab yang campuran. Bangsa Arab campuran itu menghasilkan keturunan sampai kepada Adnan, kakek Nabi Muhammad SAW dari beberapa generasi.

photo
Raja Arab Saudi Raja Salman (EPA/SAUDI ROYAL COURT)

Kiai Ahsin menjelaskan, ada bangsa Arab yang sudah punah (ba'idah), dan bangsa Arab yang tersisa (baqiyah). Bangsa Arab yang tersisa ini ada dua, pertama adalah Qahtaniyah yang merupakan keturunan dari Ya'rub bin Yashjub bin Qahtan. Ini bangsa Arab yang asli, keturunannya sampai pada Nabi Adam.

Ada pula bangsa Arab yang muta'arribah, bangsa Arab yang campuran. Nabi Ismail adalah keturunan Nabi Ibrahim yang berasal dari bangsa Ur Kildan di Irak selatan, sehingga, menurut Kiai Ahsin, ada unsur Asianya. Nabi Ismail juga keturunan Siti Hajar, yang bukan berasal dari suku asli Arab.

Kemudian, Nabi Ismail menikah dengan wanita dari suku Jurhum yang merupakan suku Arab asli."Dari campuran-campuran inilah, akhirnya muncul satu kabilah baru, yaitu bani Adnaniyah. Dari keturunan bani Adnan inilah sampai kepada nabi kita, Nabi Muhammad SAW," paparnya.

Kiai Ahsin berpandangan, hal tersebut adalah cara Allah SWT membagi peran keagamaan dari keturunan Nabi Ishak kepada keturunan Nabi Ismail. Allah SWT ingin memisahkan keturunan Nabi Ishak dan Nabi Ismail. Artinya, Allah SWT ingin membiarkan ada keturunan Nabi Ismail yang membawa pesan-pesan-Nya sebagai seorang nabi untuk penduduk Makkah.

Pohon Puncak Peradaban Kota

Pohon telah lama memberikan jasa lingkungan bagi kehidupan kita dan kota.

SELENGKAPNYA

Mentalitas Aspal

Dari orang-orang inilah, akhirnya muncul berbagai bencana aspal di dalam negeri.

SELENGKAPNYA

Korut Tembakkan ICBM

Wapres AS menggelar pertemuan darurat dengan pemimpin Korsel, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Kanada.

SELENGKAPNYA