Petugas Puskesmas Kecamatan Menteng menunjukan cara mencuci tangan di sela pelaksanaan posyandu di Menteng, Jakarta, Rabu (18/5/2022). | Prayogi/Republika.

Sehat

Beradaptasi Hadapi Perubahan

Setelah pandemi adalah pentingnya pemulihan psikososial masyarakat.

OLEH SHELBI ASRIANTI

Efek dari pandemi Covid-19 memicu perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Selama lebih dari dua tahun, masyarakat mau tak mau harus menghadapi berbagai perubahan tersebut dan melakukan adaptasi.

Dokter umum Muhammad John Elang Lanang Sismadi berpendapat bahwa perubahan kehidupan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah berkaitan dengan perbaikan kesehatan. "Banyak orang lebih sering berolahraga, menjaga imunitas, memakai masker ke mana-mana. Lebih sering mencuci tangan dan membawa hand sanitizer," kata Lanang kepada Republika, Senin (3/10).

Menurut Lanang yang praktik di Klinik Sisma Medikal Warakas, kesadaran demikian kian terpupuk secara meluas setelah pandemi merebak. Namun, sisi lainnya adalah hal negatif dari kesehata mental. Lanang yang memiliki sertifikasi master hipnoterapis ini juga bertugas di yayasan rehabilitasi Sahabat Rekan Sebaya. Dia mendapati, sejumlah pasien yang sudah sembuh usai rehabilitasi, justru kembali menyalahgunakan narkoba semasa pandemi.

Ada beberapa alasan yang mendasari, seperti tidak ada kegiatan di rumah akibat pembatasan sosial. Ada pula pasien yang stres karena tidak ada penghasilan atau mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Beragam hal ini bisa terjadi selama pandemi yang dapat mengibas kesehatan mental. Contohnya, kata Lanang, kondisi rumah tangga bisa memanas akibat tekanan dan seringnya anggota keluarga berinteraksi di rumah akibat pandemi.

Ada pula yang menganggap dirinya tidak baik-baik saja hingga merasa sudah mengalami depresi. Hal ini, menurut Lanang, wajar, namun sebaiknya tidak melakukan diagnosis terhadap diri sendiri tanpa konsultasi dengan profesional medis. 

Masalah yang menjadi perhatian setelah pandemi berlangsung dua tahun ini, menurut Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Bagus Takwin, adalah pentingnya pemulihan psikososial masyarakat. "Seperti bencana alam lainnya, pandemi Covid-19 akan berdampak secara berkelanjutan pada kesehatan mental dan kesejahteraan," ujar Bagus pada webinar yang digelar Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, bulan lalu.

Dia menyoroti bahwa distress menjadi hal yang umum terjadi. Distress merupakan respons terhadap gangguan dan ketidakpastian, ditambah adanya tekanan dengan tingkat kesulitan yang parah. Walaupun banyak orang akan pulih seiring berjalannya waktu, ada pula orang-orang yang memerlukan penanganan khusus. 

Dalam pandangan Bagus, perlu adanya respons psikososial memadai untuk mencegah lonjakan tekanan mental dan konsekuensi negatif lebih lanjut bagi masyarakat. Dia merekomendasikan adanya rancangan dukungan psikososial yang mencakup berbagai intervensi kesehatan mental dan sosial masyarakat di berbagai tingkat. Tujuannya adalah agar masyarakat kembali tangguh menghadapi masalah.

photo
Penonton mencuci tangannya pada kegiatan simulasi kehadiran penonton saat pertandingan basket di Hall Basket Senayan, Jakarta, Jumat (7/1). - (Putra M Akbar/Republika)

Upaya psikososial yang terintegrasi mencakup remediasi (membangun harapan), restorasi (memperoleh kembali kompetensi), dan rekoneksi (membangun hubungan kembali dengan sekitar). Semua mengarah pada pemulihan, resiliensi (kebertahanan), dan inklusi sosial. Guna membangun ketahanan masyarakat dan menumbuhkan kemampuan warga merespons masa sulit, meningkatkan kerja sama jadi hal yang krusial.

Terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan secara konkret. Pertama, Bagus menyarankan peningkatan kualitas dan kuantitas layanan kesehatan mental. Pemerintah pun perlu menerapkan kebijakan perlindungan sosial yang kuat. Pada tingkat individu, bisa diupayakan pengelolaan tingkah laku seperti mengasah kreativitas, melatih fleksibilitas, dan menjaga stabilitas pola makan. 

Begitu juga, kata dia, penting untuk pengelolaan emosi dan pikiran, mengembangkan mindset untuk meningkatkan semangat dan ketahanan psikologis, serta upaya komunitas mempromosikan kebahagiaan psikologis. "Untuk bisa menjalankan itu semua, perlu komunikasi untuk menanamkan pola pikir adaptif yang difasilitasi komunitas atau pemerintah," tutur Bagus.

Habib Abdurrahman: Maulid Tambah Cinta kepada Rasulullah

Simthud ad-Duror lebih panjang daripada Diba' dan Barzanji

SELENGKAPNYA

Simthud ad-Duror, Kitab Maulid Nabi Bertabur Keindahan

Tulisan dalam kitab ini dirangkai dengan bahasa-bahasa pilihan dalam bentuk qasidah

SELENGKAPNYA

Siapakah Shahib Simthud ad-Duror?

Kitab Simthu ad-Duror ditulis oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi

SELENGKAPNYA