Sejumlah anggota tim forensik meninggalkan lokasi usai melakukan autopsi menyeluruh pada jenazah AM santri Pondok Modern Darussalam Gontor 1 di TPU Sei Selayur Kalidoni Palembang, Sumsel. Kamis (8/9/2022). Tim ahli forensik Rumah Sakit Bhayangkara M Hasan | AANTARA FOTO/Feny Selly

Fatwa

Hukum Autopsi Mayat dalam Islam

Tidak ada dalil tegas tentang autopsi mayat baik dalam Alquran maupun hadis

Bedah mayat atau autopsi (jirahah at tasyrih) merupakan pemeriksaan tubuh mayat dengan jalan pembedahan untuk mengetahui penyebab kematian, penyakit, dan sebagainya. Namun, bagaimana hukum autopsi dalam Islam?

 

Pakar fikih yang juga pendiri Rumah Fiqih Indonesia Ustaz Ahmad Sarwat mengatakan, dilihat dari kepentingannya, secara umum autopsi terbagi menjadi tiga macam. Pertama, autopsi forensik, yaitu proses yang dilakukan oleh penegak hukum terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal tidak wajar. 

 

Tujuan autopsi forensik adalah untuk memastikan sebab pasti kematian. Tujuan lainnya adalah untuk mengumpulkan dan memeriksa tanda bukti untuk penentuan identitas benda penyebab dan pelaku kejahatan, serta untuk membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk visum et repertum. 

 

photo
Sejumlah anggota tim forensik meninggalkan lokasi usai melakukan autopsi menyeluruh pada jenazah AM santri Pondok Modern Darussalam Gontor 1 di TPU Sei Selayur Kalidoni Palembang, Sumsel. Kamis (8/9/2022). Tim ahli forensik Rumah Sakit Bhayangkara M Hasan Palembang dan forensik Rumah Sakit Umum Pusat Moh Hoesin Palembang melakukan utopsi sebagai upaya pemenuhan barang bukti secara ilmiah untuk pengungkapan kasus meninggalnya AM santri Pondok Modern Darussalam Gontor 1 korban dugaan penganiayaan pada 22 Agustus lalu. - (ANTARA FOTO/Feny Selly)

 

Kedua, autopsi klinis, yaitu autopsi yang dilakukan untuk mengetahui berbagai hal yang terkait dengan penyakit. Misalnya, jenis penyakit sebelum mayat meninggal. Ketiga, autopsi anatomis, yaitu autopsi yang dilakukan oleh mahasiswa kedokteran untuk mempelajari ilmu anatomi. Tujuannya semata-mata untuk ilmu pengetahuan. Biasanya mayat yang dipakai adalah mayat yang dikirim ke rumah sakit dan tidak ada ahli waris yang mengakuinya.

 

Setelah diawetkan di laboratorium anatomi, mayat disimpan sekurang-kurangnya satu tahun sebelum digunakan untuk praktikum anatomi sebagaimana hukum di Indonesia. Namun, terkadang seseorang juga dapat mewariskan mayatnya setelah meninggal untuk kepentingan ilmu pengetahuan. 

 

Ustaz Sarwat menjelaskan tidak ditemukan dalil yang tegas (sharih), baik di dalam Alquran maupun hadis, tentang autopsi mayat. Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama tentang hukum membedah perut mayat. 

 

Para ulama di kalangan mazhab Hanafi menuliskan dalam kitab mereka tentang kebolehan membedah perut seseorang yang telah wafat dan diyakini di dalam perutnya ada harta benda. Dengan syarat harta di dalam perut mayat itu milik orang lain, sedangkan mayat itu tidak punya harta yang ditinggalkan untuk mengganti harta milik orang lain. Maka usaha mengeluarkan harta dari perutnya untuk melunasi hak orang lain dibolehkan.

 

Ulama mazhab Syafi'i bahkan berpendapat kebolehan membedah perut mayat dan mengambil harta di dalamnya tidak harus dengan syarat untuk mengembalikan hak orang lain. Sekalipun bila harta itu milik si mayat, hukumnya boleh dibedah dan diambil. Pendapat ulama Malikiyah juga tidak jauh berbeda. Namun, ulama mazhab Imam Ahmad menolaknya. 

 

Lebih lanjut, para ulama juga berpendapat tentang membedah perut wanita hamil yang meninggal. Mazhab Hanafiyah dan Syafi'iyah mengatakan boleh membedah perut wanita hamil yang meninggal asalkan diyakini janin yang ada di dalam perutnya masih hidup. Namun, mazhab Malikiyah dan Hanabilah tidak membolehkannya. Dari dalil dan ijtihad para ulama terdahulu tentang bedah mayat, para ulama modern mengambil kesamaan illat tentang bedah mayat.

 

"Ketika menetapkan hukum kebolehan untuk melakukan autopsi, sebagian besar ulama dan umumnya membolehkannyaa asalkan terpenuhi semua syarat dan ketentuannya. Namun, ada juga sebagian lain yang mengharamkannya. Para ulama yang membolehkan autopsi beralasan bahwa alasan autopsi diperlukan secara nyata, antara lain untuk mewujudkan kemaslahatan di bidang keamanan, keadilan, dan kesehatan," kata Ustaz Satwat dalam kajian fikih kontemporer Sekolah Fiqih-Rumah Fiqih Indonesia beberapa hari lalu.

 

 

 

Sebagian besar ulama dan umumnya membolehkannyaa asalkan terpenuhi semua syarat dan ketentuannya

 

USTAZ AHMAD SARWAT Rumah Fiqih Indonesia
 

 

Sementara itu, beberapa lembaga fatwa yang telah mengeluarkan fatwa bolehnya autopsi yaitu Haiat Kibaril Ulama Kerajaan Arab Saudi, Majma' Fiqih Islami Makkah, Lajnah Al Ifta' Jordan, Lajnah Al Ifta' Jordan al-Azhar Mesir. Sedangkan, ulama yang memfatwakan haram terhadap autopsi beralasan bahwa autopsi melanggar kehormatan mayat berdasarkan hadis Nabi tentang larangan merusak tulang mayat seorang Muslim.

 

photo
Kerabat memegang foto almarhum Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J saat pemakaman kembali jenazah setelah autopsi ulang di Sungai Bahar, Muarojambi, Jambi, Rabu (27/7/2022). Autopsi ulang yang berlangsung selama enam jam itu dilakukan atas permintaan keluarga dalam mencari keadilan dan pengungkapan kasus. - (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/nym.)

 

Bahasa Radikal Tokoh-Tokoh Pergerakan Nasional

Sukarno dituduh sedang menghasut rakyat dengan kata-kata yang radikal.

SELENGKAPNYA

Optimalkan Potensi Si Kecil

Lakukan langkah tepat sepanjang periode penting buah hati.

SELENGKAPNYA

Tragedi Berdarah di Kanjuruhan

Tiga ribu dari total 40 ribu penonton turun ke lapangan

SELENGKAPNYA