Pasukan Israel mengambil posisi siap menembak di blokade jalan di Nablus, Tepi Barat, Sabtu (24/9/2022). | AP/Majdi Mohammed

Internasional

Israel Izinkan Drone untuk Serang Warga

KAN menyebut instruksi baru itu belum pernah terjadi dalam aktivitas tentara Israel.

YERUSALEM -- Tentara Israel memberikan lampu hijau penggunaan drone bersenjata untuk menyerang dan membunuh warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat. Persetujuan itu diberikan oleh Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel, Aviv Kochavi.

Media Israel, KAN, menyebut instruksi baru itu sebagai eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam aktivitas tentara Israel. The Jerusalem Post edisi Kamis (29/9) melaporkan, Kochavi mengizinkan penggunaan drone bersenjata untuk menyerang jika terjadi ancaman pada pasukan Israel, terutama jika ada ancaman dari kelompok bersenjata Palestina.

"Perintah itu datang ketika pasukan keamanan Israel mengalami peningkatan yang signifikan dalam serangan penembakan besar-besaran selama serangan penangkapan, khususnya di Kota Jenin dan Nablus di Tepi Barat utara," ujar laporan the Jerusalem Post.

Pada Rabu (28/9), Kochavi mengatakan, tentara Israel telah mengevaluasi situasi di Tepi Barat. Dia menambahkan, militer akan terus mempersiapkan setiap skenario untuk memastikan keamanan Israel.

Empat warga Palestina tewas dan puluhan orang lainnya terluka oleh tembakan tentara Israel selama protes di Kota Jenin, Tepi Barat, Rabu. Hampir setiap hari pasukan militer Israel melakukan serangan malam di wilayah pendudukan Tepi Barat.

photo
Anggota keluarga Mohammed Abu Kafieh berpose dengan fotonya di Beit Ijza, Tepi Barat, Ahad (25/9/2022). Abu Kafieh yang merupakan seorang guru dan ayah beranak tiga itu gugur ditembak tentara Israel dengan tudingan sengaja menabrak kendaraan militer Israel. - (AP/Mahmoud Illean)

Israel mengeklaim bahwa operasi itu sangat penting untuk tujuan intelijen. Namun, sejumlah kelompok hak asasi manusia mengecam praktik tersebut. Kelompok hak asasi manusia berkeras tujuan operasi malam Israel adalah untuk menindas dan mengintimidasi penduduk Palestina serta meningkatkan kontrol negara. Menurut para pengkritik, penggerebekan adalah bagian dari praktik negara apartheid.

Dilansir Middle East Monitor, Jumat (30/9), drone bersenjata banyak digunakan selama serangan terbaru Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Salah satunya dalam serangan militer yang berlangsung pada 5-8 Agustus. Serangan itu menewaskan 49 warga Palestina, termasuk 17 anak-anak dan empat wanita. Sementara itu, 360 orang lainnya terluka. 

Tinjau operasi militer

Perdana Menteri Israel Yair Lapid pada 7 September lalu menolak seruan Amerika Serikat (AS) untuk meninjau kembali aturan operasi militer Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat. Seruan itu menyusul penembakan yang menewaskan jurnalis veteran Palestina Shireen Abu Akleh oleh militer Israel di Kota Jenin, Tepi Barat, pada Mei lalu.

“Tidak ada yang akan mendikte kebijakan tembakan terbuka kami ketika kami berjuang untuk hidup. Tentara kami mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Israel dan rakyat Israel,” kata Lapid.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan, mereka akan menekan Israel untuk meninjau kebijakannya setelah kematian Abu Akleh. "Kami akan terus menekan Israel untuk meninjau dengan cermat kebijakan dan praktiknya tentang aturan operasi (militer), mempertimbangkan langkah-langkah tambahan untuk mengurangi risiko kerugian sipil, melindungi jurnalis, dan mencegah tragedi serupa di masa depan,” kata Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Vedant Patel.

Israel telah melakukan serangan malam di wilayah pendudukan Tepi Barat menyusul serangkaian serangan mematikan oleh warga Palestina pada musim semi lalu yang menewaskan 19 orang. Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 90 warga Palestina telah tewas oleh tembakan Israel tahun ini dan menjadi tahun paling mematikan di wilayah pendudukan Tepi Barat sejak 2016.

Israel mengatakan, militernya memerangi kelompok bersenjata Palestina yang menargetkan warga sipil dan harus membuat keputusan sepersekian detik di medan perang. Namun, kelompok hak asasi Israel mengatakan, tentara sering menggunakan kekuatan berlebihan. Pelaku juga jarang dimintai pertanggungjawaban setelah mereka bersalah menembak warga sipil.

Ade Irma Suryani: Anak Periang Korban G30S

Walaupun Ade luka parah, tapi dia tidak pingsan sama sekali.

SELENGKAPNYA

Misteri Cakra Madura pada G30S

Mengapa Kompi Pasopati yang dipimpin Lettu Dul Arief yang ditugaskan menculik para jenderal?

SELENGKAPNYA

Kekejaman PKI dari Masa ke Masa

Penyiksaan sebelum pembunuhan juga terjadi terhadap sejumlah orang di Solo pada 1965.

SELENGKAPNYA