vp,,rm
Mursyid Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah KH Abdul Ghufron Al-Bantani memberikan tausiyah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh PBNU di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (8/12). Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut me | Republika/Putra M. Akbar

Kitab

Risalah Hukum Perayaan Maulid Nabi

Maulid bukan tujuan utama, melainkan sekadar media berharga guna menyukseskan misi yang mulia

Hukum merayakan peringatan Maulid Nabi SAW kerap menjadi polemik hangat yang berulang dari masa ke masa. Bahkan, konon perdebatan tentang hukum perayaan Maulid Nabi telah menempati satu dari sekian diskusi di kalangan cendekiawan Muslim yang eksis pada era salaf.

Baik kubu pro dan kontra berusaha menyajikan sejumlah dalil yang dikutip dari Alquran, Sunah, ataupun berbagai pendapat para sahabat, tabi’in ataupun tabi’tabi’in. Bagi para penentang maulid, muara utama perdebatannya karena ritual tersebut masuk ke dalam kategori bidah, memunculkan hal baru, dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Hal serupa juga berusaha ditampilkan oleh pihak pendukung maulid. Deratan dalil dirangkum dalam ragam karangan yang telah ditulis oleh para ulama salaf ataupun khalaf terkemuka. Di antara tokoh yang pernah mengarang kitab khusus tentang hal ihwal Maulid Nabi SAW antara lain Ibnu Nashir Ad Din Ad-Dimasyqi (842 H).

Tulisan tentang maulid secara khusus yang ditulis ad-Dimasyqi cukup banyak, antara lain, Jami’ Al Atsar fi Maulid An Nabi Al Mukhtar, Al Lafhdu Ar Raiq fi Maulid Khair Al Khalaiq, dan kitab Maurid Ash-Shadiq fi Maulid Al Hadi. Al Hafidh Al Iraqi (808 H) pun mengarang kitab di topik yang sama dengan tajuk Al Maulid Al Hanni fi Al Maulid As-Sunni.

Imam Mala Ali Qari bin Sulthan bin Muhammad Al Harawi (1014) turut menuangkan pendapatnya terkait hukum maulid dalam sebuah kitab yang berjudul Al Maurid Ar Rawi fi Al Maulid An Nabawi.

photo
ILUSTRASI Maulid Nabi sudah menjadi tradisi bagi sebagian masyarakat Muslim, baik global maupun di Tanah Air. Bagaimanapun, para ulama berlainan pendapat tentang hukum merayakan maulid. - (DOK FLICKR)

Kini, arah perkembangan polemik hukum maulid justru dirasa kontraproduktif. Bagaimana tidak? Polemik tentang Maulid Nabi hampir terulang tiap tahunnya bersamaan dengan perayaan maulid itu sendiri. Kondisi tersebut disadari atau tidak memiliki efek terhadap dinamika pemikiran para ulama.

Pada saat bersamaan, polemik yang berkepanjangan itu tampaknya telah mengalihkan perhatian dan kepekaan para ulama terhadap beragam masalah yang pada prinsipnya jauh lebih penting, ataupun bahkan memiliki skala prioritas yang lebih mendesak.

Keprihatinan inilah yang menjadi bahan pertimbangan penting mengapa seorang ulama Hijaz modern, Sayyed Muhammad bin Alawi bin Abbas Al Maliki Al Hasani yang wafat pada tanggal 29 Oktober 2004, sempat berpikir panjang dan urung turut berkontribusi menyumbangkan buah pemikiran dan pendapat terkait maulid.

Bagi ulama yang akrab dikenal dengan panggilan Syekh Maliki tersebut, masalah boleh ataupun tidaknya peringatan Maulid Nabi adalah persoalan khilafiyah dan tidak termasuk kategori perkara prinsipil (ushul) dalam agama. Namun demikian, atas desakan dan permintaan dari berbagai koleganya, ia pun lantas tergerak mengarang sebuah risalah yang diberi judul Haula Al Ikhtifal Bidzikra Al Maulid An Nabawi As Syarif.

Meski karya tersebut sederhana, buah karya seorang alim yang merupakan guru dari banyak ulama asal Afrika, Asia Tenggara, dan tanpa terkecuali Indonesia itu begitu berharga, terutama guna memberikan pemahaman dan informasi yang proporsional berkenaan tentang hukum dan perayaan Maulid Nabi.

"Tak sedikit yang penasaran dengan pendapat saya perihal maulid, maka saya pun akhirnya menulis risalah ini," ujar Syekh Maliki dalam mukadimah risalahnya. 

 

 

Tak sedikit yang penasaran dengan pendapat saya perihal maulid, maka saya pun akhirnya menulis risalah ini

 

SAYED MUHAMMAD BIN ALAWI BIN ABBAS AL MALIKI AL HASANI
 

 

Dasar perayaan maulid

Sebelum menguraikan tentang beberapa dalil yang memperkuat hukum perayaan maulid nabi, terdapat beberapa poin penting yang digarisbawahi oleh Syeikh. Menurutnya, poin-poin itu yang kerap disalahpahami, baik oleh pihak pro maupun kontra.

Menurut Syek Maliki, mereka yang pro perayaan maulid sering kali menggelarnya secara berlebihan yang justru menghilangkan esensi maulid itu sendiri, sedangkan bagi kalangan yang kontra, papar dia, bentuk perayaan yang dilakukan oleh sejumlah pihak dan dinilai berlebihan itu sering digeneralisasi lalu membuat kesimpulan yang jauh dari objektivitas.

Beberapa poin penting tentang peringatan Maulid Nabi SAW itu, antara lain, pertama, penegasan bahwasanya hukum merayakan maulid diperbolehkan dengan ragam ritual yang sarat dengan nilai, yaitu berkumpul untuk mendengarkan sirah Nabi, pujian-pujian atas keagungannya, memberikan makanan dan berbagi kebahagian kepada sesama umat.

Kedua, sekalipun hukum maulid diperbolehkan, tidak ada ketentuan yang mengharuskan waktu perayaan bersifat temporal terbatas pada satu waktu. Artinya, semestinya peringatan maulid pada dasarnya tidak dilakukan secara terbatas pada tahun, bulan, ataupun hari tertentu saja.

Sebab, menurut Syekh Maliki, keharusan mengenang dan mencintai Rasulullah adalah sepanjang zaman. Maka, di sinilah—jika ditelusuri lebih jauh lagi —adalah satu dari sekian titik kesepakatan Syeikh dengan kubu yang kontra terhadap peringatan maulid Nabi.

Dengan demikian, jika ada yang berpendapat peringatan maulid hanya diperuntukkan di satu waktu, tindakan tersebut dikategorikan sebagai bidah. Meskipun memang tidak bisa dinafikan, bulan Rabiul Awal mempunyai daya magnet yang cukup tinggi guna menghadirkan massa.  Selain itu, kesan dan nilai yang ditangkap dari perayaan maulid di bulan kelahiran Rasullah tersebut lebih terasa.

photo
KENDARI, 15/2 - PEMBACAAN BARZANJI. Sejumlah ibu-ibu memakai baju adat Buton menyanyikan syair-syair barzanji di Kendari, Senin (14/2). Pembacaan syair barzanji dengan cara menyanyikan merupakan sala satu ritual Maludu (Maulid nabi Muhammad SAW) adat suku Buton Sulawesi Tenggara. FOTO ANTARA/Zabur Karuru/ed/nz/11. - (ANTARA)

Ketiga, menurut Syeikh Maliki, perayaan maulid nabi adalah momentum berharga dan kesempatan emas bagi para ulama dan dai, terutama guna mengajak umat kembali meneladani Sunah Rasulullah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya mengatasi berbagai persoalan.

Maulid bukan tujuan utama, melainkan sekadar media berharga guna menyukseskan misi yang mulia, ujar Syeikh. Ulama terkemuka itu menyebutkan sebanyak 21 poin argumentasi yang memperkuat pendapatnya tentang hukum diperbolehkannya maulid.

Di antara dalil yang dipaparkan Syeikh pertama adalah sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim dalam kitab Shahih-nya. Hadis dari Abu Qatadah itu menegaskan bahwa latar belakang puasa yang dijalani Rasulullah setiap hari Senin adalah ungkapan rasa syukur Rasulullah.

Nabi SAW bersabda, "Hari itulah (Senin) saya dilahirkan dan diutus." Mengomentari hadis ini, Syekh mengatakan teks ini bermakna merayakan maulid sekalipun bentuk dan modelnya, seperti berkumpul untuk bershalawat atas Nabi, mendengarkan pujian, dan saling berbagi, tetapi inti dan maksudnya sama, yaitu memperingati maulid.

 

 

Nabi SAW bersabda, Hari itulah (Senin) saya dilahirkan dan diutus.

HR MUSLIM
 

 

Argemen kedua yang digunakan Syeikh Maliki yaitu anjuran mengungkapkan rasa kebahagiaan terhadap kedatangan Rasulullah seperti yang diajarkan dalam Alquran surah Yunus ayat 58, "Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."

Menurut analisis Syeikh Maliki, Allah menyerukan umat manusia agar bergembira dengan rahmat yang telah diberikan. Dan, kehadiran Rasulullah ke muka bumi adalah rahmat yang terbesar bagi seluruh alam. Karenanya, dalam surah lain dijelaskan bahwa Rasulullah diutus tak lain sebagai rahmat bagi seluruh alam.

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS al-Anbiyaa [21] : 107)

Dalam dalil berikutnya, menurut Syekh Maliki, Rasulullah memperingati beberapa peristiwa yang berkaitan dengan agama di masa silam. Salah satunya adalah peringatan hari Asyura’. Sebuah hadis sahih menyebutkan tatkala Rasulullah sampai di Madinah dan melihat kaum Yahudi berpuasa Asyura, Rasulullah bertanya tentang alasan mereka melaksanakan puasa itu.

Setelah memperoleh penjelasan bahwa maksud berpuasa di hari Asyura adalah sebagai tanda syukur karena Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan musuhnya pada hari Asyura, Rasulullah pun mengatakan: "Kita lebih berhak atas (mengenang Musa) daripada kalian. Rasulullah lantas berpuasa Asyura dan menganjurkan umatnya turut berpuasa pula."

Sukarno: Ini Gerakan Keblinger!

Setelah mendengar laporan itu, Presiden Sukarno memerintahkan agar gerakan G-30-S dihentikan.

SELENGKAPNYA

Husnul Khatimah

Ada banyak orang-orang saleh yang mati husnul khatimah yang dapat kita jadikan motivasi.

SELENGKAPNYA

Saat Jenderal Jadi Tumbal

TNI-AD telah kehilangan putra-putra terbaiknya di pagi buta awal Oktober 1965.

SELENGKAPNYA