Petugas Tempat Pemakaman Umum (TPU) mengikuti lomba gali kubur di TPU Pondok Rajeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (29/3/2022). Manusia yang menggunakan akal dengan sebaik-baiknya akan berpikir tentang betapa singkat dirinya tinggal di dunia. | ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Kitab

Terapi Hati dan Jiwa

Barangsiapa yang terjangkit penyakit tamak, niscaya ia binasa di tengah sahara kerakusan.

 

OLEH MUHYIDDIN

 

Ujian adalah bagian dari kehidupan seluruh insan. Bagi kaum Muslimin, cobaan sering kali merupakan cara dari Allah untuk mengungkapkan kualitas iman dan Islam. “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” (QS al-Ankabut: 2).

Walaupun demikian, daya tahan setiap orang berbeda-beda. Kadang, ada suatu kondisi yang mengguncang batin seseorang. Hatinya lelah sehingga mudah kehilangan harapan. Pada momen itu, mentalnya perlu dikuatkan agar tidak berputus asa.

Imam Ibnu al-Jauzi (508-597 H) menulis sebuah buku yang bertajuk Al-Thibb ar-Ruhani. Sebelumnya, ulama keturunan sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar ash-Shiddiq, itu telah menghasilkan Luqat al-Manafi’. Karya terawal itu dimaksudkannya sebagai terapi jasmani, sedangkan yang belakangan sebagai metode penyembuhan rohani.

 
Panduan dalam melaksanakan aturan kebenaran melalui batin, mencegah kekuatan hawa nafsu yang merugikan.
 
 

Dalam kalam pembuka, Ibnu al-Jauzi berbicara tentang Al-Thibb ar-Ruhani, “Buku ini disusun agar menjadi panduan dalam melaksanakan aturan kebenaran melalui batin, mencegah kekuatan hawa nafsu yang merugikan, dan mengatasi penyimpangan dari aturan yang benar akibat mengikuti hawa nafsu.”

Kitab terapi mental itu telah hadir dalam beragam bahasa. Edisi bahasa Indonesia diterbitkan, antara lain, oleh Mirqat. Judulnya adalah Mengobati Jiwa yang Lelah: Pesan-pesan Ruhani Ibnu al-Jauzy untuk Jiwa yang Sakit (2007).

Penulis karya itu bernama lengkap Jamaluddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Ubaidillah bin Abdulllah bin Hummadiy bin Ahmad bin Muhammad bin Ja’far al-Jauzi. Sejarah mencatatnya sebagai seorang fakih mazhab Hambali. Dirinya pernah menjadi kadi utama di Kekhalifahan Abbasiyah. Sebutan al-Jauzi dinisbahkan kepada suatu majelis tempatnya dahulu biasa belajar di Basrah, yaitu Mahalla al-Jauzi.

Sang imam dikenal sebagai ulama yang nyaris menguasai semua ranah ilmu dalam Islam. Tidak hanya itu, wasiat dan ceramahnya sangat diminati oleh orang-orang yang hidup pada masanya. Dakwah yang dilakukannya tidak melalui lisan saja, melainkan juga tulisan.

Di sepanjang hayatnya, Ibnu al-Jauzi menulis belasan kitab, termasuk Al-Thibb ar-Ruhani. Sekurang-kurangnya, terdapat 30 tema yang disorot sang penulis di dalam karyanya tersebut. Topik-topik itu berkisar mulai dari keutamaan akal; anjuran menghindari sifat-sifat tercela; tips melepas kebiasaan berpikir yang berlebihan (overthinking); serta metode melatih diri dan keluarga supaya lebih taat kepada Allah.

 
Akal berfungsi sebagai alat bagi setiap orang untuk mengetahui adanya Allah Ta’ala dan kebenaran risalah yang dibawa para nabi.
 
 

Saat membahas kehebatan akal manusia, Ibnu al-Jauzi mengingatkan para pembaca akan fungsi utama organ tersebut. Menurut dia, akal berfungsi sebagai alat bagi setiap orang untuk mengetahui adanya Allah Ta’ala dan kebenaran risalah yang dibawa para nabi.

Akal pun dapat mendorong seorang Mukmin untuk selalu takut dan taat kepada-Nya. “Dengan akal pula, manusia bisa sampai kepada tujuan pokok, yaitu ilmu dan amal yang dapat mengantarkannya kepada kebahagiaan, di dunia maupun akhirat,” tulis ulama kelahiran Baghdad itu.

Ibnu al-Jauzi mengawali bukunya dengan pembahasan terkait akal. Tampaknya, hal itu dilakukannya sebagai pengingat kepada sidang pembaca. Betapapun berat situasi kehidupan yang sedang dilalui, seorang Mukmin hendaknya tidak kehilangan akal sehat. Pikiran mesti tetap dingin sehingga ikhtiar terus berlanjut dan sekaligus tetap berada dalam ketakwaan. “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat” (QS al-Baqarah: 45).

Tiga ketamakan

Dalam membahas keutamaan menghindari sifat-sifat tercela, Ibnu al-Jauzi menyoroti tabiat serakah. Menurut dia, ketamakan dapat meliputi tiga hal dalam kehidupan manusia, yakni seks, harta, dan materi. Sikap loba terhadap hubungan badan sesungguhnya dibahas pula dalam buku Luqat al-Manafi’.

Sebagai contoh, ia menyebutkan, jika seseorang terlalu sering melakukan hubungan suami-istri, maka vitalitasnya akan menolak karena terlalu dipaksakan. Kemudian, saripati makanan yang belum diserap seluruhnya akan ditarik ke pemenuhan nafsu berahi dalam tubuh. Kekuatan organ-organ utama, semisal otak, jantung, dan hati, pun akan “terampas".

“Sehingga mengakibatkan suhu normal tubuh menurun. Hal ini pada akhirnya dapat mempercepat kematian,” tulis Ibnu al-Jauzi.

Tentunya, tidak hanya dalam urusan seks. Ketamakan pun terjadi dalam hal menumpuk-numpuk harta. Menurut Ibnu al-Jauzi, kegemaran mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya sehingga melampaui kebutuhan pribadi adalah suatu kebodohan.

Sebab, pada hakikatnya harta tersebut tidak akan bermuara pada si serakah sendiri, melainkan juga orang lain. Maka dari itu, Ibnu al-Jauzi tidak menyalahkan orang yang mengumpulkan harta demi memenuhi kebutuhan diri. Dalam arti, hal itu dilakukannya supaya tidak bergantung kepada orang lain atau memiliki kemampuan menafkahi keluarganya.

 
Ketamakan yang sesungguhnya adalah kepandiran itu kemudian menjadi sumber kegelisahan jiwa.
 
 

Ketamakan yang sesungguhnya adalah kepandiran itu kemudian menjadi sumber kegelisahan jiwa. Karena itu, Ibnu al-Jauzi mengajak pembaca sekalian untuk memiliki sifat cukup akan apa-apa yang ada (qana’ah).

Dengan mengejar harta secukupnya, seseorang tidak akan menyia-nyiakan waktunya yang sangat berharga di dunia ini. Sejatinya, kehidupan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya, bukan malah menjadi budak uang.

“Barangsiapa menghabiskan waktunya demi menjadi hartawan karena takut papa (sengsara), maka tindakannya adalah kesengsaraan,” tulis Ibnu al-Jauzi, menirukan perkataan seorang penyair.

“Maka barangsiapa yang bermusyawarah dengan akalnya, niscaya akan memahami tujuannya. Dan barangsiapa yang terjangkit penyakit tamak, niscaya ia binasa di tengah sahara kerakusan,” katanya menambahkan.

Sang fakih meneruskan, ketamakan juga terjadi dalam rupa-rupa kesenangan materi. Misalnya, kepemilikan atas bangunan-bangunan mewah, kuda-kuda yang gagah, pakaian-pakaian yang mahal, dan lain-lain. Menurut dia, akar sifat loba berasal dari kehilangan kendali akal. Pada akhirnya, diri seseorang menjadi begitu mudah dalam mengikuti hawa nafsu.

photo
Dalam karyanya ini, Ibnu al-Jauzi memberikan nasihat-nasihat yang menggugah kesadaran. - (DOK IST)

Perenungan

Secara keseluruhan, Al-Thibb ar-Ruhani mengajak para pembaca untuk banyak-banyak merenung. Akal pikiran hendaknya digunakan untuk memikirkan hakikat kehidupan manusia di dunia yang fana ini. Jangan sampai, penyesalan terjadi begitu diri sudah melalui alam barzakh hingga ke negeri akhirat.

Ibnu al-Jauzi mengingatkan kaum Muslimin terhadap perhitungan yang akan ditampakkan kepada setiap insan pada hari kiamat. Di Yaum al-Hisab, Allah menimbang amal perbuatan manusia. Pada momen itulah, mereka yang tamak akan menyesal. Untuk apa menghambur-hamburkan harta? Untuk apa mengejar rezeki dalam jalan yang haram? Mengapa tidak banyak-banyak bersedekah?

Ibnu al-Jauzi mengatakan, manusia yang menggunakan akal dengan sebaik-baiknya akan berpikir tentang betapa singkat dirinya tinggal di dunia. Keterbatasan usia akan membuatnya menyadari, dunia hanyalah sekejap, bagaikan rumah persinggahan. Karena itu, seorang Mukmin akan tetap puas dan bersyukur dalam keadaan serba berkecukupan. Kemewahan tidak menyilaukan mata hatinya.

 
Manusia yang menggunakan akal dengan sebaik-baiknya akan berpikir tentang betapa singkat dirinya tinggal di dunia.
 
 

Bahkan, banyak teladan ditunjukkan para utusan Allah. Nabi Nuh AS, misalnya. Salah seorang Ulul Azmi itu diketahui tinggal dalam rumah usang selama 950 tahun. Nabi Muhammad SAW juga menetap di kediaman yang sederhana. Contoh itulah yang kemudian ditiru generasi sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin.

Sikap bersahaja akan memudahkan seseorang untuk hidup dengan orientasi akhirat. Bila sudah demikian, jiwanya tidak mudah goyah akan cobaan-cobaan di dunia. Hatinya cenderung bersabar. Pikirannya tenang karena percaya, Allah telah menetapkan rezeki bagi setiap makhluk-Nya.

Sangat banyak pesan-pesan rohani yang disampaikan Ibnu al-Jauzi dalam buku ini. Di antaranya adalah nasihat untuk mewaspadai jabatan, rasa malas, serta amarah yang tidak terkontrol. Ia pun membahas cara-cara mendidik istri dan anak agar tetap dalam jalan ketakwaan. Gaya bahasa yang bernas menjadi salah satu kelebihan Al-Thibb ar-Ruhani--begitu pun edisi terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Dengan membaca buku setebal 100 halaman ini, Anda insya Allah akan menemukan banyak hikmah. Inilah terapi jiwa yang patut dicoba.

DATA BUKU

Judul: Mengobati Jiwa yang Lelah (terjemahan atas (Al-Thibb ar-Ruhani)

Penulis: Imam Ibnu al-Jauzi

Penerjemah: Wawan Hermawan

Penerbit: Mirqat Publishing

Tebal: 100 halaman

Mahasiswa dan Pandangan Dunia Islam

Pandangan-dunia Islam itu berarti cara pandang seorang yang terbentuk oleh totalitas ajaran Islam.

SELENGKAPNYA

Hatta dan Kawan-Kawan Ditangkap karena Dianggap Tiru Komunis

Penangkapan Hatta dan kawan-kawan itu rupanya ulah licik dan ngawur dari Westenink.

SELENGKAPNYA

Siapkan Dana Kuliah Buah Hati

Mulai siapkan dana kuliah meski anak masih kecil.

SELENGKAPNYA