Syekh Abdullah al-Harari. | DOK NU

Mujadid

Syekh Abdullah al-Harari, Sang Alim dari Lebanon

Syekh al-Harari, tokoh Tarekat al-Ahbasy ini menjadi rujukan aswaja dalam fikih maupun tasawuf.

 

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

Di kawasan Syam, ada banyak ulama yang meninggalkan legasi penting bagi umat Islam pada umumnya. Dari Lebanon, ada seorang tokoh yang dikenal akan pandangannya yang moderat serta selalu membela ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja).

Dialah Syekh Abdullah al-Harari. Meskipun tidak lahir di Beirut, sang alim cenderung dikenang terkait banyak kiprahnya selama menetap di kota tersebut.

Oleh para pengagumnya, ia mendapatkan berbagai julukan. Misalnya, al-hafidz (pakar ilmu agama), al-muhaddits (ilmuwan hadis), atau pendekar aswaja. Pendiri gerakan Tarekat al-Ahbasy itu berpulang ke rahmatullah pada 2008 lalu dalam usia 105 tahun.

Seperti tampak pada gelarnya, ulama besar ini berasal dari kelompok etnis Harari. Nama suku itu merujuk pada Harari, sebuah daerah yang dikenal sebagai Kota Para Wali (Madinat al-Awliya') di Etiopia. Saat berumur belasan tahun, tokoh ini pernah menjadi salah seorang mufti setempat.

 
Saat berumur belasan tahun, Syekh al-Harari pernah menjadi salah seorang mufti setempat.
 
 

Menurut catatan dokumen resmi, Syekh Abdullah al-Harari lahir di Harar pada tahun 1910 M atau 1328 H. Beberapa sejarawan menduga, ulama tersebut lahir lebih awal daripada tahun yang tercatat. Sejak kecil, dirinya mendapatkan pendidikan keislaman dengan amat baik dari kedua orang tuanya.

Saat masih berusia tujuh tahun, ia sudah bisa menghafalkan Alquran 30 juz. Abdullah kecil juga memiliki kemampuan yang memadai dalam ilmu hadis dan fikih. Bapaknya yang merupakan tokoh setempat dengan penuh disiplin mengajarkannya. Secara rutin, ayahnya membacakan beberapa kitab di hadapannya, semisal Al-Muqaddimah al-Hadhramiah atau Al-Mukhtasar as-Saghir.

Abdullah muda sangat menyukai belajar ilmu hadis. Remaja tersebut menghafalkan isi kitab hadis yang enam (kutubus sittah), termasuk dengan sanad-sanadnya. Maka dari itu, dalam usia kurang dari 18 tahun, dirinya telah menerima sejumlah ijazah. Hal itu sebagai tanda bahwa anak muda ini telah meriwayatkan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW.

Dengan penuh semangat, Abdullah belajar agama Islam kepada para guru di daerah tempat tinggalnya. Bahkan, ia melakukan rihlah ke luar negeri untuk menuntut ilmu. Dari satu ulama ke ulama lainnya, dirinya menerima pengajaran. Semangatnya pantang menyerah sehingga sanggup mengatasi kesusahan dan kepayahan.

 
Dalam usia kurang dari 18 tahun, dirinya telah menerima sejumlah ijazah.
 
 

Dalam menimba ilmu, Abdullah berupaya untuk terus memperluas cakrawala pengetahuannya tanpa kehilangan fokus spesialisasi. Sebagai contoh, saat menekuni fikih Imam Syafii sebagai mazhab yang dipilihnya, ia tetap mencari tahu bagaimana pandangan mazhab-mazhab lainnya dalam aswaja.

Begitu kembali ke tanah airnya, Abdullah disambut suka cita masyarakat Muslim setempat. Mereka menjadikannya rujukan dan tempat bertanya serta meminta fatwa mengenai perkara-perkara syariat. Dari waktu ke waktu, reputasinya kian berkibar di tengah umat. Bagaimanapun, sifatnya selalu tawadhu. Zuhud tidak pernah lepas dari kesehariannya.

Banyak berguru

Dalam perjalanannya sebagai seorang penuntut ilmu, Abdullah belajar kepada banyak guru. Dalam fikih, ia menimba ilmu dari Syekh Muhammad Abdul Salam al-Harari, Syekh Muhammad Umar Jama’i al-Harari, dan Syekh Muhammad Rasyad al-Habasyi.

Di samping itu, ia pun mendapatkan pengetahuan tentang ilmu bahasa Arab dari Syekh Ibrahim Abil Gaish, Syekh Yunus al-Habasyi, dan Syekh Muhammad Siradj al-Jabruty. Guru-gurunya yang lain dalam hal ini adalah Syekh Sholeh Ahmad al-Basir dan Syekh Ahmad bin Muhammad al-Habasyi.

Untuk mempertajam analisisnya dalam bidang fikih dan ushul, Abdullah mendapatkan ilmu tentang mazhab-mazhab Maliki, Hambali, dan Hanafi dari sejumlah gurunya. Di antaranya adalah Syekh Muhammad al-Araby al-Fasy dan Syekh Abdurrahman al-Habasy. Ilmu tafsir Alquran diperolehnya dari Syekh Syarif al-Habasyi.

Saat berkelana ke Jazirah Arab, dirinya juga menimba ilmu membaca Alquran (qiraat) dari sejumlah pakar. Mereka antara lain adalah Syekh Ahmad Abdul Muttalib al-Jabruty, Syekh Dawud al-Jabruty al-Qari, dan Syekh Muqri Mahmud Faiz ad-Dair. Sosok yang disebut awal itu merupakan sesepuhnya para ahli qiraat di Masjidil Haram pada masanya.

 
Saat berkelana ke Jazirah Arab, dirinya juga menimba ilmu membaca Alquran (qiraat) dari sejumlah pakar.
 
 

Ketika tinggal di Makkah al-Mukarramah, Abdullah berkenalan dan bersahabat dengan banyak ahli ilmu, baik yang sebaya maupun lintas generasi. Di antara kawan-kawannya adalah Syekh Said Alawi al-Maliki, Syekh Amin al-Kitbi, Syekh Muhammad al-Araby, dan Syekh Muhammad Yasin al-Fadani. Sosok yang disebut akhir itu merupakan seorang alim dari Sumatra Barat, Indonesia.

Di Madinah al-Munawwarah, Abdullah menerima hadis-hadis dari para muhaddits. Seorang di antaranya adalah Syekh Muhammad bin Ali ash-Shiddiq. Ulama yang bermazhab Hanafi itu juga memberikan ijazah hadis kepadanya. Kemudian, ada pula Syekh Ibrahim al-Khattani, murid Syekh Abdul Qadir Syalbi. Darinya, Abdullah mendapatkan banyak riwayat hadis.

Di Kota Nabi, dirinya juga sempat mengkaji ilmu-ilmu agama pada Maktabah Arif Hikmat dan Maktabah al-Mahmudiyah. Dikisahkan, ia mampu menghafal nyaris semua kitab di dalam lembaga-lembaga tersebut.

Dari dua kota suci, langkah kakinya beranjak ke arah utara. Abdullah pergi menuju Baitul Makdis. Usai beribadah di Masjid al-Aqsha, dirinya hendak mendatangi Syam. Sebab, seorang yang sangat alim tinggal di sana. Namanya adalah Syekh Badruddin al-Hasani. Sayangnya, ulama besar itu sudah terlebih dahulu wafat sebelum Syekh Abdullah al-Harari tiba.

 
Ia pun menetap di Damaskus. Lambat laun, masyarakat setempat mengenalnya sebagai seorang yang memiliki kepakaran dalam ilmu-ilmu agama.
 
 

Ia pun menetap di Damaskus. Lambat laun, masyarakat setempat mengenalnya sebagai seorang yang memiliki kepakaran dalam ilmu-ilmu agama. Ia pun dipersilakan tinggal di sebuah tempat bernama Khaimuriah. Majelis yang diadakannya selalu ramai oleh jamaah. Orang-orang mengenalnya sebagai seorang ulama aswaja yang dapat menjadi rujukan.

Dalam periode ini, Abdullah kerap melakukan perjalanan keliling kota-kota di Syam. Dari Damaskus, dia menyambangi Beirut, Himsh, Hamah, Halab (Aleppo), dan lain-lain. Safari dakwah itu dilakukannya dengan penuh keikhlasan. Niatnya semata-mata untuk meraih ridha Allah SWT melalui penyebaran ilmu-ilmu agama di tengah umat.

Pribadinya menarik perhatian banyak orang, termasuk kalangan alim ulama Syam. Bahkan, mereka bersyukur bahwa Abdullah telah datang jauh-jauh dari Etiopia. Bagi mereka, dialah sosok yang pantas menggantikan posisi Syekh Badruddin al-Hasani dari segi keilmuan. Lantas, ia pun digelari sebagai “al-Muhaddits ad-Diyar asy-Syamiyyah".

Tidak hanya menguasai ilmu-ilmu fikih, Abdullah juga mulai memasuki ranah tasawuf. Sebelum tiba di Syam, dirinya pernah mengambil ijazah amalan zikir dari seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Abdul Ghafur al-Afghani. Kemudian, ia pun menemui Syekh Abdul Rahman al-Sabsabi al-Hamawy sehingga menerima ijazah Tarekat al-Rifa’iyah. Dari Syekh Ahmad al-Arbiny dan Syekh at-Thayyib ad-Dimasyqi, lelaki keturunan Bani Harari itu memperoleh ijazah Tarekat Qadiriyah.

Ulama Beirut

Pada 1950 M/1370 H, Syekh Abdullah al-Harari melakukan hijrah ke Beirut, Lebanon. Waktu itu, usianya telah mencapai 45 tahun. Kedatangannya disambut para ulama setempat, termasuk Syekh Taufiq al-Hibry. Pada akhirnya, ia pun menjadikan kota tersebut sebagai tempat tinggalnya secara permanen.

Pada 1960-an, Universitas al-Azhar Kairo telah membuka cabang di sejumlah negeri Islam, termasuk Lebanon. Pada 1969 M, rektor kampus tersebut mengirimkan undangan kepada Syekh Abdullah. Ulama itu diminta menjadi guru pada cabang al-Azhar di Beirut.

Pada 1980-an, Syekh Abdullah diminta oleh para salik Tarekat Jam’iyyah al-Masyaari’ al-Khairiyah al-Islamiyah untuk menjadi mursyid. Permintaan itu kemudian disanggupinya. Dalam bahasa Inggris, nama jalan tasawuf itu adalah The Association of Islamic Charitable Projects atau AICP.

Tarekat itu didirikan pada 1930-an oleh seorang alim bernama Syekh Ahmad al-Ajuz, yang pada 1950-an mulai menetap di Beirut. Beberapa tahun kemudian, perintis AICP itu wafat. Dalam waktu cukup lama, tarekat ini tidak mengangkat seorang pemimpin walaupun masih eksis.

Sejak dipimpin Syekh Abdullah, AICP lebih dikenal sebagai al-Ahbasy, yakni “pengikut tokoh Habasyi atau Etiopia". Bahkan, hingga kini pun organisasi religius itu dinamakan demikian.

 
Sejak dipimpin Syekh Abdullah, AICP lebih dikenal sebagai al-Ahbasy, yakni “pengikut tokoh Habasyi atau Etiopia".
 
 

Meskipun menjangkau banyak negeri di penjuru dunia, mereka tetap menjadikan Lebanon sebagai pusat kegiatan. Al-Ahbasy menyebar di banyak negara, semisal Yordania, Mesir, Arab Saudi, dan Etiopia. Di sejumlah kawasan minoritas Muslim—semisal Ukraina, Prancis, dan Australia— para pengamal tarekat ini juga berjumlah signifikan.

Mengikuti Syekh Abdullah, umumnya salik al-Ahbasy menganut mazhab Syafii dan teologi Asy’ari. Pandangan-dunianya adalah moderat dan menghargai kemajemukan. Dalam beberapa hal, ajarannya dekat dengan Tarekat Rifa’iyyah.

Ulama ini mencurahkan seluruh dirinya untuk kepentingan dakwah dan syiar Islam. Akhirnya, pada 2 Ramadhan 1429 H—bertepatan dengan 2 September 2008 M—dirinya berpulang ke rahmatullah. Syekh Abdullah wafat dalam usia yang lebih dari satu abad. Almarhum dishalatkan jutaan Muslimin. Jenazahnya dimakamkan di Beirut, tidak jauh dari masjid tempatnya dahulu mengajar.

 

Pancaran Keteladanan

 

Syekh Abdullah al-Harari adalah seorang alim yang mengamalkan zuhud dalam kesehariannya. Rutinitasnya dihabiskan untuk belajar, mengajar, menyampaikan nasihat-nasihat, dan berzikir. Semua itu diniatkannya sebagai ibadah demi meraih ridha Allah Ta’ala.

Di antara petuah-petuah yang pernah diberikannya adalah sebagai berikut. “Mukmin yang sempurna adalah orang yang mencintai kebaikan bagi orang lain; menginginkan kebaikan bagi seluruh manusia sebagaimana ia menginginkan kebaikan bagi dirinya sendiri.”

Mengenai tema kepasrahan kepada Allah, ia memberikan nasihat, “Di antara perkara-perkara yang membantu tawakal kepada-Nya adalah memperbanyak ketaatan yang disertai ketundukan kepada Allah.”

Sang syekh pun mengingatkan para muridnya akan hadis Nabi SAW, “Sungguh, Allah memberikan harta duniawi kepada orang yang dicintai-Nya dan yang tidak dicintai-Nya. Adapun Allah tidaklah memberikan iman kecuali hanya kepada orang-orang yang dicintai-Nya” (HR Ahmad).

Ulama tersebut pun berkata, “Barangsiapa diberi harta dunia, tetapi tidak dianugerahi iman, maka ia seakan-akan tidak diberi apa pun. Barangsiapa dianugerahi iman, tetapi tidak diberi harta duniawi, ia seakan-akan tidak terhalangi dengan apa pun (untuk mendapatkan cinta Allah).”

Keteladanan lainnya dari Syekh Abdullah adalah kegigihannya dalam membela aswaja. Menukil blog pribadi Prof Nadirsyah Hosen, sang alim suatu kali menuturkan kisah.

Ada seorang Lebanon yang berziarah ke makam Rasulullah SAW. Pria itu lalu memasukkan jari-jarinya yang terserang penyakit ke sela-sela bilik Nabi SAW. Ternyata, jemari lelaki itu langsung sembuh.

Menurut Nadirsyah, Syekh Abdullah dalam hal ini mengkritik pemahaman Wahabi, yang menjadi acuan penguasa administratif wilayah Tanah Suci. Aparat yang pro-Wahabi cenderung menghalau jamaah yang mendekati makam Nabi SAW karena mengira mereka mau “menyembah” atau mengultuskan beliau. Padahal, dalam pemahaman aswaja, boleh jadi para peziarah itu hanya ingin mendapatkan keberkahan dari bilik Rasul SAW.

Syekh yang berasal dari Bani Hariri, Habasyah, itu selalu bersemangat tinggi dalam amar ma’ruf nahi munkar. Pengikutnya berjumlah banyak dan tersebar di mancanegara. Betapapun demikian, musuh-musuh yang kerap memfitnahnya pun tidak sedikit.

Sebenarnya, Syekh Abdullah sangat sibuk dalam mengajar dan berdakwah sehingga kurang memiliki waktu untuk menulis. Bagaimanapun, banyak pula karya-karya yang lahir dari penanya.

Di antaranya adalah At-Ta'aqqub Al-Hatsits, yang kata pengantarnya—atas permintaan sang penulis—dibuat oleh dua orang Indonesia, yakni Prof KH Ibrahim Hosen dan KH Syafii Hadzami.

Siapkan Dana Kuliah Buah Hati

Mulai siapkan dana kuliah meski anak masih kecil.

SELENGKAPNYA

Menumbuhkan Kesadaran Bermedia Sosial yang Beradab

Maraknya konten destruktif tak lepas dari lemahnya kesadaran masyarakat terhadap aturan bermedia sosial

SELENGKAPNYA

Shalat Berdua dengan Lelaki Bukan Muhrim, Sahkah?

Bagaimana hukum bagi perempuan yang shalat berdua dengan laki-laki yang bukan mahram?

SELENGKAPNYA