Ilustrasi Al-Quran dan Berdzikir COVID-19 | Republika/Thoudy Badai

Tuntunan

Kapan Harus Ingat Allah?

Ketergantungan kepada Tuhan diungkapkan dengan ungkapan sesuai tradisi orang

OLEH ERDY NASRUL

Suatu ketika, Presiden Uni Soviet Joseph Stalin menumpangi pesawat. Saat mengudara, pesawat tiba-tiba bergetar. Pemimpin yang ateis itu kaget, merasa dalam bahaya, dan tiba-tiba mengucap, "Ya Tuhan."

Dia ini tidak percaya Tuhan itu ada, tapi mendadak menyebut Sang Pencipta. Ada apa dengan orang anti-Tuhan ini? Masyarakat modern dihadapkan pada dinamika teologi yang human-sentris.

Di antara 'mantra' yang sering dirapal orang masa kini adalah 'Cogito ergo sum' (Rene Descartes/ 1596-1650) bahwa yang berpikir adalah yang diakui eksistensinya. Pemikiran manusia adalah tolok ukur utama. Keluarannya diyakini sebagai 'kebenaran'.

photo
Warga Rusia berkumpul sambil memegang gambar potret pemimpin Uni Soviet, Josef Stalin, di Red Square, Moskow, Rusia, Sabtu (4/12/20210. - (AP/Alexander Zemlianichenko)

Bagaimana dengan Tuhan? Nanti dulu. Orang modern meletakkan Tuhan di tempat tertentu, ruang yang menjadi tempat mereka sembahyang (menyembah Yang Mahaagung). Di luar area itu? Ya terserah yang bersangkutan, tapi kebanyakan mereka tidak membawa Tuhan keluar tempat ibadah.

Pemisahan seperti itu masih lebih baik bila dibandingkan dengan yang lain. Mereka adalah orang yang meyakini alam, rumah besar kehidupan sementara, tercipta dengan sendirinya, melalui proses yang alami dan berevolusi.

Manusia bergerak karena kehendak dan keinginannya sendiri, independen, alias terserah dia. Tapi, saat berada dalam situasi 'terjepit', entah mengapa, akhirnya menyebut Tuhan juga, seperti Stalin tadi.

William James dalam The Varieties of Religious Experiences menjelaskan bahwa ketergantungan manusia kepada Tuhan adalah suatu yang niscaya. Ini adalah kecenderungan alami (natural inclination). Dalam hati manusia, terlepas dia sekuler, atau bahkan ateis, pasti ada suara, bahkan keyakinan, Tuhan ada di sini.

Ketergantungan kepada Tuhan diungkapkan dengan ungkapan sesuai tradisi orang. Orang Arab pra-Islam menyebut bismi Latta (dengan nama Tuhan Latta) dan bismil 'Uzza (dengan nama Tuhan 'Uzza), seperti yang dijelaskan penafsir Alquran Prof Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah. Kalimat ini diungkapkan sebelum memulai suatu pekerjaan dan perbuatan.

Maksud lainnya adalah agar pekerjaan yang akan dilaksanakan berjalan lancar, smooth, dan berujung kesuksesan. Kok bisa begitu? Ya, dengan mengucapkan ungkapan tadi, mereka berharap Tuhan membukakan jalan, dan menggunakan kuasa-Nya untuk mewujudkan harapan si pengucap.

Ketika Islam hadir, ungkapan itu berubah menjadi bismillah. Artinya, adalah dengan nama atau tanda Allah sebagai Tuhan yang diimani. Setelah mengucapkan itu, orang kemudian bersedekah, maka amal kebajikan itu akan 'distempel' dengan tanda Allah. Orang menyusun buku, maka buku itu ditandai untuk Allah.

Orang memimpin kelompoknya dengan sukses, maka kepemimpinannya 'dicap' oleh Allah. "Titik tolaknya adalah Allah," kata Prof Quraish. Maksudnya, supaya Allah merestui amal kebajikan tadi, memberikan pahala, melimpahkan kebaikan, bahkan selalu mengingat dan membimbing si pengucap menuju kebaikan.

Tak hanya bismillah, ada juga ungkapan untuk orang lain dengan menyebut nama Allah, misalkan salamullah alaykum (kedamaian Allah untukmu). Sering diringkas menjadi assalamu alaykum. Sapaan yang mendoakan orang lain. Ungkapan yang dilontarkan sebagai pembuka diri untuk mengenal orang lain atau awal pembicaraan yang baik.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by AZ-ZIKRA MEDIA (@azzikramediaofficial)

Setelah itu, insya Allah, akan ada, bahkan banyak kebaikan datang, menyertai, dan membersamai segala gerak dan perkataan. Ada banyak ungkapan mulia yang disertai dengan penyebutan Allah.

Ada subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illa Allah, Allahu akbar, dan beragam ungkapan indah lainnya. Semua itu ada agar orang sering mengingat Allah, tidak hanya ketika merasa dalam bahaya semacam Stalin ketika naik pesawat dalam cerita awal.

Keteladanan Abuya Habib Hasan Baharun

Sosok Abuya sangat murah hati, dengan keindahan akhlak yang melekat.

SELENGKAPNYA

Benarkah Hawa Menyebabkan Adam Terusir dari Surga?

Sosok yang mendorong Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi adalah setan

SELENGKAPNYA

Bung Karno: Ambil Apinya, Tinggalkan Abunya

Sumbangan terbesar Bung Karno terhadap Islam di Indonesia adalah memacu orang Islam untuk tidak berpikiran beku.

SELENGKAPNYA