Warga berbelanja kebutuhan pokok, di Pasar Senen, Jakarta, Senin (5/9/2022). Menurut pedagang setempat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mengakibatkan ongkos kirim berbagai kebutuhan pokok mengalami kenaikan. | Prayogi/Republika.

Opini

Mewaspadai Kembali Ketidakpastian Ekonomi

Meningkatnya harga pangan dan energi bisa menyebabkan kerawanan pangan bahkan kerusuhan sosial.

RYAN KIRYANTO, Co-Founder dan Dewan Pakar Institute of Social, Economics and Digital (ISED)

Judul tulisan ini sengaja menggunakan diksi "mewaspadai kembali" karena sebenarnya hingga awal 2022 perekonomian global menunjukkan sinyal pemulihan kuat seiring melandainya kasus pandemi Covid-19 secara global.

Namun berubah seketika lantaran agresi militer Rusia ke Ukraina pada pertengahan Februari 2022. Perekonomian dunia kembali memasuki ketidakpastian baru sebagai rembetan dampak eskalatif perang.

Perang di Ukraina menyebabkan penghentian aliran gas dari Rusia ke kawasan Eropa. Akibatnya, inflasi melambung karena lonjakan harga energi. Lembaga internasional, salah satunya IMF, menilai prospek perekonomian global saat ini cenderung melemah.

Secara umum, meningkatnya harga pangan dan energi karena disrupsi rantai pasokan global sebagai ekses perang bisa menyebabkan kerawanan pangan bahkan kerusuhan sosial di berbagai negara.

 
Secara umum, meningkatnya harga pangan dan energi karena disrupsi rantai pasokan global sebagai ekses perang bisa menyebabkan kerawanan pangan bahkan kerusuhan sosial di berbagai negara.
 
 

Mendung tebal diyakini masih menyelimuti outlook perekonomian dunia. IMF kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini.  Dalam laporan terbaru edisi Juli 2022, dalam skenario moderat perekonomian dunia hanya tumbuh 3,2 persen.

Lebih rendah 0,4 persen dari perkiraan April 2022. Penurunan tajam setelah pada 2021 tumbuh 6,1 persen. Bila awan hitam masih menggelayuti, skenario terburuk IMF memperkirakan, ekonomi dunia tahun ini tumbuh 2,6 persen, melambat pada 2023 menjadi 2,0 persen.  

Penyesuaian kebijakan

Perlambatan ekonomi di sejumlah negara direspons dengan kebijakan cenderung ketat melalui kenaikan bunga acuan agresif yang sejatinya untuk meredam inflasi. Ini pilihan dilematis.

Di AS, The Fed diperkirakan melanjutkan penaikan bunga acuan (fed fund rate/FFR) hingga 3,50-3,75 persen pada Februari 2023 untuk  menjinakkan inflasi 9,1 persen (Juni) dan menurun ke 8,5 persen (Juli).

 
Di Jerman, pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat dari 1,2 ke 0,8 persen, Italia dari 3,5 ke 0,7 persen, Spanyol dari 4,0 ke 2,0 persen, dan Inggris dari 3,2 ke 0,5 persen.
 
 

Risiko ekonomi Eropa tampak ke arah resesi lebih dalam karena Rusia memutus aliran gas. Ini terlihat dari outlook pertumbuhan PDB Jerman, Italia, Spanyol, dan Inggris yang melemah dari 2022 ke 2023.

Di Jerman, pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat dari 1,2 ke 0,8 persen, Italia dari 3,5 ke 0,7 persen, Spanyol dari 4,0 ke 2,0 persen, dan Inggris dari 3,2 ke 0,5 persen.

Bank sentral Inggris, Bank of England (BoE) memperingatkan, Inggris  jatuh dalam resesi tahun ini karena menaikkan suku bunga (bank rate) terbesar dalam 27 tahun terakhir. Awal Agustus, BoE menaikkan bank rate 0,5 menjadi 1,75 persen, kenaikan terbesar sejak 1995.

BoE terus memerangi inflasi yang diperkirakan naik ke 13 persen pada kuartal keempat 2022 dan tetap pada level tinggi di 2023, sebelum turun ke target 2,0 persen dalam dua tahun ke depan.

Bagi negara berinflasi rendah dan tengah meniti momentum pertumbuhan (sebut saja Indonesia, Vietnam, dan India yang masing-masing tumbuh 5,2; 7,0; dan 7,4 persen), kebijakan moneter akomodatif masih tepat untuk diterapkan.

Kebijakan moneter antisipatif

Bagi Indonesia, penyesuaian arah kebijakan diperlukan baik fiskal maupun moneter.

 
Pemikiran makroekonomi dan mikroekonomi tetap diperlukan, tetapi diperkuat pemikiran lebih detail.
 
 

Pada pembukaan “Sarasehan 100 Ekonom Indonesia” oleh Indef (7/9/2022), Presiden Joko Widodo menekankan, saat ini lanskap perekonomian global berubah cepat sehingga Indonesia harus melakukan penyesuaian secara taktis, cepat, dan tepat.

Pemikiran makroekonomi dan mikroekonomi tetap diperlukan, tetapi diperkuat pemikiran lebih detail.

Tepat jika Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 Agustus 2022 menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate 25 bps menjadi 3,75 persen, suku bunga Deposit Facility 25 bps jadi 3,00 persen, dan suku bunga Lending Facility 25 bps jadi 4,50 persen.

Ini pre-emptive dan forward looking untuk memitigasi risiko peningkatan inflasi inti dan ekspektasi inflasi efek kenaikan harga BBM bersubsidi maupun tak bersubsidi dan inflasi volatile food, serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

 
Tekanan inflasi meningkat terutama karena tingginya harga komoditas pangan dan energi  global.
 
 

Tekanan inflasi meningkat terutama karena tingginya harga komoditas pangan dan energi  global. Inflasi Indeks Harga Konsumen Juli 2022 tercatat 4,94 persen (yoy), lebih tinggi daripada inflasi Juni, 4,35 persen (yoy).

Inflasi inti relatif rendah 2,86 persen (yoy) didukung konsistensi kebijakan BI menjaga ekspektasi inflasi. Namun, perkembangan terkini terkait kenaikan harga BBM hampir pasti mendorong inflasi pada 2022 dan 2023 yang berisiko melebihi batas atas sasaran 3,0±1 persen.

Banyak ekonom memperkirakan ekspektasi inflasi 6-7 persen. Maka, perlu sinergi kebijakan pemerintah pusat dan daerah dengan BI untuk pengendaliannya. Penyesuaian stance kebijakan harus dilakukan guna mengantisipasi berbagai kemungkinan ke depan. 

Rusia Tunda Kiriman Gas ke Jerman

Jerman adalah tulang punggung kekuatan ekonomi Eropa.

SELENGKAPNYA

Eropa Alami Kekeringan Terburuk dalam 500 Tahun

Di Cina, danau air tawar terbesarnya kini hanya terisi air 25 persen dari kapasitas normal.

SELENGKAPNYA

Menyikapi Dampak Konflik Rusia-Ukraina pada Presidensi G-20

Anggota G-20 semestinya bersikap adil dan proporsional terhadap sikap presidensi Indonesia.

SELENGKAPNYA