Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

Keharusan Sikap Teguh dalam Prinsip

Surah Ali Imran menegaskan keharusan seorang pemimpin bersikap teguh dalam memegang kebenaran.

 

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Surah Ali Imran menegaskan keharusan seorang pemimpin bersikap teguh dalam memegang kebenaran. Diturunkan setelah hijrah, surah Ali Imran tergolong Madaniyah dan terletak urutannya setelah surah al-Baqarah. Para ulama tafsir membagi surah Ali Imran dalam dua bagian.

Pertama, ayat 1-120, menggambarkan keteguhan prinsip seorang pemimpin dalam menghadapi tantangan eksternal. Yaitu, pembahasan tentang datangnya utusan kaum Nasrani Najran yang menantang Rasulullah SAW dan berujung dengan mubahalah (saling bersumpah bahwa siapa yang berbohong akan dilaknat oleh Allah). Namun, kaum Nasrani Najran tidak mau memenuhi mubahalah tersebut.

Adapun bagian kedua, ayat 121-200, menjelaskan keteguhan seorang pemimpin dalam menghadapi tantangan internal. Yaitu, peristiwa Uhud, yang saat itu ada sebagian kaum Muslimin yang melanggar perintah Nabi, sehingga kemenangan yang telah mereka raih pada putaran pertama dicabut oleh Allah SWT.

Dalam rangka ini, surah Ali Imran menyebutkan beberapa ayat tentang keteguhan prinsip, di antaranya kisah Perang Badar yang menguatkan pertolongan Allah bagi mereka yang berjuang di jalan Allah: “Wallahu yuayyidu binshrihii man yasyaa (Allah menguatkan dengan bantuannya siapa yang dikehendaki-Nya).”

Ini pelajaran bagi orang-orang beriman agar mereka selalu memegang prinsip dan tidak akan mundur sedikit pun dalam membela kebenaran, “Inna fii dzaalika la’ibratan liulil abshaar (Sesungguhnya yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati).” (QS Ali Imran: 13).

Kisah Nabi Isa juga disebutkan untuk menujukkan keteguhan sikap para hawariyun (murid-murid Nabi Isa) dalam membela agama Allah: “Falammaa ahassa isaa minhumul kufra qaala man anshaarii ilallahi qaalal hawaariyyuuna nahnu anshaaraullah (Ketika Nabi Isa mengetahui ada tanda-tanda pengingkaran dari Bani Israil, ia bertanya, ‘Siapa yang akan menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan agama Allah?’ Para hawariyun menjawab: ‘Kamilah para penolong agama Allah’).” (QS Ali Imran: 52).

Kisah para nabi dalam memegang janji setia juga direkam dalam surah Ali Imran: “Wa idz akhadznaa miitsaaqan nabiyyiin (Ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dengan para nabi).” (QS Ali Imran: 81).

Kata mitsaq (perjanjian) menunjukkan bahwa tugas yang dipikul oleh para nabi harus benar-benar dijaga sepenuh hati dengan keteguhan prinsip, bahwa mereka akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya: “Latu’munnana bihii wa latanshurannahu.”

Dalam masalah takwa ditegaskan harus haqqatuqaatih atau takwa yang sebenar-benar takwa (QS Ali Imran: 102). Mengenai persatuan harus “Wa’tashimuu bihablillaahi jamiiaw walaa tafarraquu (Berpegang teguhlah kepada tali Allah bersamasama, janganlah bercerai-berai).” (QS Ali Imran: 103).

Ketika para sahabat dikepung oleh pasukan koalisi al-Ahzab, mereka tidak gentar sedikit pun, justru iman mereka bertambah dan mereka berkata, “Hasbunallahu wa ni’mal wakil (cukuplah Allah sebagai penolongku dan sebaik-baik pelindung).” (QS Ali Imran: 173).