vp,,rm
Suasana Masjidil Haram | republika

Kabar Tanah Suci

Araftu Ya Allah 

Keberadaan seseorang di Arafah pada tanggal dan hari itu walau sejenak, hukumnya sah.

OLEH ALI YUSUF dari Makkah

Saya batalkan rencana ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Makkah demi bisa Jumatan di depan Ka'bah. Karena mengulur waktu dan saling menunggu berangkat barengan, akhirnya kami tak bisa masuk ke Masjidil Haram.

Saat kami sampai pukul 10.53 Waktu Arab Saudi (WAS), petugas pengamanan sudah menutup rapat pintu masuk Masjidil Haram di seluruh arah penjuru mata angin, termasuk Arah Barat terminal Syeib Amir tempat kami masuk pintu Marwah nomor 104.

Tadinya, mobil ambulans yang membawa kami masuk arah timur pintu masuk nomor 79. Namun, petugas keamanan sekitar Masjidil Haram sudah menutup dan mengarahkan kami ke Terminal Syeib Amir dan ternyata sudah ditutup juga.

Semua jamaah haji dari seluruh dunia, laki-laki dan perempuan terlihat berduyun-duyun menuju pintu Marwah. Namun, jarak masih 1 kilometer ke pintu Marwah, petugas sudah menutup rapat akses masuk dengan menggunakan pembatas dari plastik. 

 
Semua jamaah haji dari seluruh dunia, laki-laki dan perempuan terlihat berduyun-duyun menuju pintu Marwah.
 
 

Agar pembatas plastik tidak diutak-atik, petugas mengikat ujung pembatas satu dengan ujung border lainnya. Di tengah massa, jika pembatas tak diikat pasti dijebol demi bisa masuk Masjidil Haram.

Waktu semakin mendekati azan Jumat. Jamaah terus berdatangan dalam waktu bersamaan. Langkahnya terhenti ketika ribuan orang tak bisa melanjutkan masuk ke dalam Masjidil Haram karena tertahan di depan border yang sudah diikat ketat. 

Cuaca panas menyengat membuat jamaah mulai jenuh dan mulai mengekspresikan kekesalannya dengan berkali-kali meneriakkan takbir, sebagai isyarat agar pembatas segera dibuka. 

Namun, hal demikian tak membuat petugas keamanan sekitar Masjidil Haram yang menggunakan seragam militer sadar dan mau membuka pembatas. Satu setengah jam menunggu, akhirnya kami mundur, menyusul empat orang yang berangkat bareng kami menggunakan ambulans sudah lebih dulu mundur mencari tempat lain untuk melaksanakan shalat Jumat. 

"Yang penting niatnya sudah dicatat. Kita cari tempat lain saja," begitu kata salah satu di antara mereka. 

 
Cuaca panas menyengat membuat jamaah mulai jenuh dan mulai mengekspresikan kekesalannya dengan berkali-kali meneriakkan takbir, sebagai isyarat agar pembatas segera dibuka.
 
 

Namun, ketika mereka mengajak mencari tempat lain, saya menyemangati dua temannya untuk tetap bertahan. Saya datang bersama lima orang dokter KKHI Makkah. Mudah-mudahan ada keajaiban pembatas jalan dibuka. 

"Saya punya firasat pasti segera dibuka. Allah tergantung prasangka hambanya," begitu kata saya kepada dua orang dokter Asep dan Zakir Chohan. 

Karena disemangati keduanya tetap mau bertahan, panas-panasan terjepit di antara manusia yang ingin Jumatan di Masjidil Haram, tapi tertahan petugas keamanan Masjidil Haram. Sudah satu jam bertahan, dokter Asep dan Zakir menyerah dan mengajak saya transit di Sektor Khusus (Seksus). 

Seksus ini merupakan posko pelayanan kesehatan untuk melayani jamaah haji yang datang dari sektor 4, 3, dan 2. Sektor 4  berlokasi di daerah Jarwal, Sektor 3 di daerah Raudhah dan sektor tiga di daerah Shisa. 

"Kita di seksus aja yuk, di sana ada pendingin dan banyak makanan," ajak Zakir merayu.  

Karena tak ada teman, meski masih semangat menunggu, akhirnya saya ikut sarannya. Cukup sulit juga saya mundur ke belakang karena sudah banyak orang tertahan. Pelan-pelan kami langkahi kepala orang yang duduk menunggu pembatas dibuka, akhirnya sampai posko juga. 

 
Sepanjang perjalanan mencari tempat saya tobat, beristighfar, karena telah mengulur-ngulur waktu shalat Jumat di Masjidil Haram.
 
 

Sekitar 45 menit berada di Posko, azan Jumat berkumandang. Kami yang ada di Posko keluar mencari tempat teduh untuk shalat Jumat. Namun sejauh mata memandang tak ada tempat longgar, terutama di tempat-tempat teduh yang sudah terisi penuh jamaah. 

Sepanjang perjalanan mencari tempat saya tobat, beristighfar, karena telah mengulur-ngulur waktu shalat Jumat di Masjidil Haram. Saya sadar sebelum shalat Jumat saya melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa dikerjakan setelah selesai Jumatan.

Saya berpikir rasanya tak tahan shalat di bawah terik matahari yang mencapai 45 derajat. Setelah sadar akan dosa dan bertobat di dalam dada, akhirnya saya menemukan tempat teduh pas satu untuk saya saja. Alhamdulillah atas karunia Allah saya bisa shalat di bawah naungan-Nya.

Keadaan ini membuat saya sadar, mengerti jangan pernah mengulur-ngulur waktu, terutama untuk sesuatu kebaikan. Kerjakan segera mungkin karena waktu terus berjalan tanpa pernah kembali.

Sejatinya saya sudah melaksanakan wukuf di Arafah, harus cepat mengerti, sadar dosa apa yang telah diperbuat sehingga sampai telat masuk shalat Jumat di Masjidil Haram. Karena Arafah artinya mengerti, paham, dan sadar.

"Araftu ya Allah. Karena dosa, saya batal Jumaatan di depan Ka'bah." 

 
Dalam versi lain disebutkan bahwa kawasan ini dinamai Arafah karena Nabi Adam dan Siti Hawa ta'arafa bertemu kembali di tempat itu setelah keduanya diturunkan dari surga.
 
 

Seperti ditulis KH Ahmad Chodri Romli dalam bukunya Ensiklopedi Haji dan Umrah bahwa Malaikat Jibril pernah mengajari Nabi Ibrahim tentang apa itu arti Arafah."Di kawasan Arafah sekarang ini Malaikat Jibril menanyakan Nabi Ibrahim dengan mengatakan "Arafta (apakah engkau sudah mengerti), wahai Ibrahim?"

Lalu beliau menjawab, "Na'am, Araftu (ya, saya telah mengerti)." Maka tempat itu dinamakan Arafah, yang maknanya mengerti, mengetahui.

KH Ahmad mengatakan, dalam versi lain disebutkan bahwa kawasan ini dinamai Arafah karena Nabi Adam dan Siti Hawa ta'arafa saling mengetahui bertemu kembali di tempat itu setelah keduanya diturunkan dari surga secara terpisah. Nabi Adam diturunkan di bumi al-hindi India, sedangkan Siti Hawa di Jeddah, atau tempat lain.

Di kawasan Arafah, ada beberapa tempat yang mempunyai nilai sejarah, yaitu Lembah Urunan, Masjid An-Namiroh Jabal Rahmah. Dalam konteks haji, Arafah adalah tempat para jamaah haji melakukan salah satu rukun haji yang paling pokok, yaitu pada 9 Dzulhijah mulai sejak tergelincirnya matahari sampai terbitnya fajar tanggal 10 Dzulhijah keesokan harinya.

 
Keberadaan seseorang di Arafah pada tanggal dan hari itu walaupun sejenak, sudah dipandang cukup dan hukumnya sah.
 
 

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Puncak ibadah haji itu dengan melakukan wukuf di Arafah. Barang siapa yang wukuf sebelum terbit fajar tanggal 10 Dzulhijah maka hukumnya dianggap sah." (HR Tirmidzi Abu Daud dan Ibnu Majah).

"Itu adalah rentang waktu wukuf, tetapi bukan berarti bahwa orang yang berwukuf harus berada di sana sepanjang hari dan malam itu," katanya.

Sebab, keberadaan seseorang di Arafah pada tanggal dan hari itu walaupun sejenak, sudah dipandang cukup dan hukumnya sah. Wukuf harus dilaksanakan dalam wilayah Arafah di tempat mana pun asalkan masih di bagian padang Arafah. 

Jika di luar itu, termasuk dalam hal ini lembah Ururunah, maka wukufnya tidak sah. Tempat yang afdal adalah di Shakharat di kaki Bukit Jabal Rohmah. Sebab di sanalah Rasulullah SAW wukuf seraya bersabda, "Aku wukuf di sini Shakharat dan seluruh Arafah adalah tempat wukuf." 

Tingkatkan Kompetensi Amil

Pers punya porsi untuk mengawal pengelolaan dana-dana filantropi.

SELENGKAPNYA

Kiat Menghidupkan Syiar Dzulhijah

Cara mengisi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah dengan memperbanyak ibadah dan zikir

SELENGKAPNYA