Warga melihat foto arsip Bung Karno yang dipajang pada pameran buku Bung Karno di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu (8/6/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Opini

01 Jul 2022, 10:39 WIB

Meraih Sukses Berlimpah dengan Falsafah Trisakti Bung Karno

Pemikiran Bung Karno itu akan menyusun kekuatan dan pembangunan bangsa sekaligus membangun karakter rakyat.

BARATADEWA SAKTI PERDANA, Praktisi Keuangan Keluarga dan Pendamping Bisnis UMKM

Menjadi manusia yang sukses berkelimpahan di zaman modern ini dapat dimaknai beragam. Misalnya adalah Kak Harto, seorang pengusaha milenial asal Batang, Jawa Tengah.

Kak Harto memaknai filosofi sukses berkelimpahan (berdikari secara ekonomi) dengan cara mendirikan wadah atau sarana pengembangan tanaman hortikultura. Sarana bernama Creative Farm ini untuk petani serta masyarakat yang ingin belajar berkebun dengan balutan konsep wisata edukasi. 

Sedangkan Bung Karno sebagai The Founding Fathers Indonesia dalam buku berjudul Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno berkata bahwa yang disebut dengan Trisakti adalah berdaulat secara politik, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. 

Timbul Hamonangan Simanjutak, pengurus Divisi Litbang Yayasan Bung Karno, juga berkata bahwa menurut Sukarno, yang dimaksud berdikari secara ekonomi, yaitu ekonomi kita buat atas kemampuan sendiri, dengan modal sendiri, dengan tenaga sendiri, dan kepandaian kita sendiri. 

Maulwi sebagai saksi sejarah yang bercerita dalam buku itu berpendapat, pemikiran Bung Karno itu akan menyusun kekuatan dan pembangunan bangsa sekaligus membangun karakter rakyat. Pemikiran ini sangat relevan untuk menjawab dan memecahkan problematika sosial bangsa Indonesia.

 
Pemikiran ini sangat relevan untuk menjawab dan memecahkan problematika sosial bangsa Indonesia.
 
 

Staf ahli Bidang Relevansi dan Produktivitas Kemenristekdikti Agus Puji Prasetyono berpendapat, berdikari secara ekonomi berarti harus dimaknai bahwa bangsa Indonesia mampu memenuhi kebutuhan dasar bangsa, yaitu sandang, papan, dan pangan dengan menjamin kepastian dan keberlanjutannya. 

Suatu negara yang kondisi perekonomiannya disebut berdikari tentu sangat bergantung dari seberapa baik berdikarinya ekonomi keluarga sebagai unit terkecil masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan memberi kebermanfaatan yang semakin luas untuk orang banyak di sekelilingnya. 

Maka dalam usaha mencapai sukses berkelimpahan yang secara ekonomi disebut mampu berdiri di atas kaki sendiri sesuai falsafah Trisakti Bung Karno, terdapat tiga syarat utama yang harus dipenuhi segenap keluarga sebagai unit terkecil masyarakat Indonesia. Berikut penjelasannya.

1. Kemandirian dalam Berpenghasilan

Kemandirian dalam berpenghasilan yang dimaksud adalah dapat memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari dan tidak lagi mengharapkan bantuan dari orang lain. Kebutuhan dasar yang dimaksud, antara lain, membayar tagihan listrik, tagihan PDAM, tagihan BPJS, bayar sewa rumah/kamar kos, membeli beras, kebutuhan dapur, memenuhi biaya transportasi, biaya sekolah anak, membayar utang, dan bersedekah.

Agar keluarga dapat mencapai kemandirian dalam berpenghasilan, maka sang pencari nafkah sudah selayaknya dapat mengenali serta mengembangkan potensi diri sehingga membantunya mencapai hasil maksimal dan meraih banyak hal di dalam kehidupannya. 

Menemukan dan menyadari bakat memang bukan hal mudah, Rama Royani penemu metode talents mapping menyatakan, selama ini masyarakat menganggap bakat hanyalah kelebihan pancaindra; seperti jago memasak, olahraga, menari, dan lainnya. Padahal, ada dua sumber bakat manusia, yaitu pancaindra dan sifat.

 
Ada dua sumber bakat manusia, yaitu pancaindra dan sifat.
 
 

Bakat berupa sifat positif (teratur, senang meneliti, pekerja keras, penyayang, dan lainnya) dengan penanganan yang benar akan berubah menjadi potensi kekuatan untuk dioptimalkan. Ketika bakat telah dapat dioptimalkan, maka gairah (passion) dalam bekerja pun akan menjadi sepenuh hati. 

Ketika seseorang telah menemukan passion-nya dalam usaha mencari nafkah, maka ia berpotensi tinggi untuk meraih kompetensi yang diperlukan guna mendapatkan penghasilan yang mampu memenuhi kebutuhan dasar diri dan keluarganya secara berkelanjutan.

2. Amanah Menjaga Harta

Harta yang telah diraih tentu harus dapat dijaga dengan baik. Oleh karena itu, sesuai gagasan Trisakti Bung Karno yang menekankan pada pembangunan karakter bangsa, setiap pencari nafkah dituntut memiliki karakter fundamental, yakni integritas yang kokoh agar tak mudah tergoda bisikan keinginan yang menyesatkan.

3. Adab yang Membudaya

Sukses berkelimpahan tak cukup diraih hanya dengan berbekal kemandirian berpenghasilan dan amanah menjaga harta. Namun perlu bekal penting lain, yakni memiliki adab yang menjadi budaya dalam rutinitas keseharian. 

Budaya adalah hasil cipta, karya, dan karsa setiap individu. Koentjaraningrat sebagai ilmuwan antropologi menegaskan, kebudayaan mencakup seluruh sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar.

Dari definisi kebudayaan tersebut, maka hasil karya manusia yang baik, sangat bergantung dari kepribadiannya. Sedangkan kepribadian yang dimaksud adalah adabnya. Soegarda Poerbakawatja seorang tokoh pendidikan yang telah diusulkan sebagai Pahlawan Nasional mendefinisikan adab sebagai budi pekerti, kesusilaan, atau watak. Yaitu tingkah laku baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap pencipta dan sesama manusia.

Betapapun tingginya ilmu seseorang, bila tak dibungkus dengan adab yang baik, maka ilmunya akan sulit memancarkan kebaikan. Adab yang buruk menjadikan seseorang yang berilmu tinggi arogan, bahkan sesat lagi menyesatkan.

 
Adab yang buruk menjadikan seseorang yang berilmu tinggi arogan, bahkan sesat lagi menyesatkan.
 
 

Sebaliknya dengan adab yang baik, betapapun sedikit ilmu seseorang, ia tetap akan memancarkan pesona di dalam dirinya yang membuatnya dimuliakan. Terlebih jika ketinggian adabnya mencerminkan kedalaman ilmunya.

Dalam usaha memenuhi kompetensi yang diperlukan untuk meraih kemandirian berpenghasilan beserta karakter yang kokoh dalam pengelolaan harta dan adab yang baik sehingga tercapai sukses berkelimpahan, tentu membutuhkan proses yang tidak sebentar, harus dilatih dengan benar dan diukur hasilnya. 

Sebuah kebiasaan, tidak hanya menyangkut aktivitas fisik, aktivitas jiwa/hati/mental pun menunjukkan gejala sama. Apa yang kita pikirkan dan rasakan secara berulang-ulang selanjutnya akan berubah menjadi kebiasaan. 

Kebiasaan ini akan menimbulkan respons otomatis dalam berbagai kesempatan. Jika kita terbiasa berpikir positif, kejadian apa pun yang kita hadapi, pikiran positiflah yang akan muncul lebih dominan. 

Jadi kehidupan ini sebetulnya dapat pula dianggap sebagai kumpulan kebiasaan. Segala karakter dan sikap kita saat ini adalah hasil dari kebiasaan yang telah kita lakukan setiap hari di setiap kesempatan. Maka kebiasaan yang kita lakukan haruslah berdasarkan pemahaman yang benar, dan pemahaman tersebut terbentuk oleh niat yang diwujudkan dalam pemikiran yang matang. 

Bila ingin membangun kompetensi yang tinggi, karakter diri yang kokoh, yakni amanah dalam menjaga harta dan memiliki adab yang baik, kita harus mulai melatih diri, membuat kebiasaan, dan hal ini harus dilakukan dengan perencanaan yang matang.

Kompetensi seseorang akan membantunya mengambil keputusan strategis bukan berdasarkan imajinasinya, melainkan karena pengetahuan dengan data-data yang spesifik, terukur, dan realistis sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarganya secara berkelanjutan. 

Sedangkan integritas yang kokoh akan membuat sang kepala keluarga tak lagi mudah tergoda atas bisikan keinginan yang menyesatkan. Dan juga menjadi tak kalah penting yakni adab yang baik akan membuat seseorang mampu menjaga kerendahan hati serta menempatkan dirinya untuk mengetahui batasan perilaku yang berlebihan dan meremehkan orang lain. ';

Tenda Kesehatan di Mina Diperbaiki

Segala persiapan menghadapi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina terus dilakukan.

SELENGKAPNYA

Apa Itu Haji Akbar?

Bila wukufnya hari Jumat, pada tahun tersebut adalah haji akbar.

SELENGKAPNYA

Pembelian Pertalite Belum Dibatasi

Pertamina membuka pendaftaran uji coba konsumsi Pertalite selama sebulan.

SELENGKAPNYA
×