Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

27 Jun 2022, 03:30 WIB

Akar Segala Kerusakan

Dalam catatan sejarah, hawa nafsu telah menjadi akar dari segala kerusakan.

 

OLEH IMAM NAWAWI

Manusia memang makhluk yang mulia, terutama jika dibandingkan dengan seluruh makhluk Allah lainnya, seperti hewan dan tumbuhan. Namun, status kemuliaan itu sangat bergantung pada kesadaran manusia untuk lebih mengutamakan akal dalam iman dan takwa daripada memperturutkan hawa nafsu. Dalam catatan sejarah, hawa nafsu telah menjadi akar dari segala kerusakan.

Hawa nafsu berasal dari bahasa Arab. Hawa artinya keinginan. Al-nafs artinya diri manusia. Jadi, hawa nafsu adalah kecenderungan dalam diri manusia untuk selalu melakukan hal buruk dan membangkang. Memandang ringan perbuatan dosa serta merugikan orang lain. 

Manusia seperti itu selalu ada dari masa ke masa kehidupan umat manusia. Seperti Firaun pada masa Nabi Musa. Begitu juga dengan Qarun. Keduanya hidup dengan menuhankan hawa nafsu. Kemudian, muncul manusia seperti kaum Nabi Luth yang melakukan perkawinan dengan sesama jenis (homoseksual). Kaum Tsamud, umat Nabi Saleh, yang membunuh unta betina, padahal mereka dilarang melakukannya.

Demikian juga dengan kaum Madyan, umat Nabi Syu'aib, yang demi keuntungan harta mereka melakukan penipuan dan kecurangan dalam berdagang. Mereka selalu mengurangi timbangan dan takaran dari yang semestinya. Akhirnya, Allah menimpakan azab kepada mereka semua dan Allah abadikan dalam Alquran agar menjadi pelajaran bagi manusia masa berikutnya.

Menarik kita renungkan apa yang Jalaludin Rumi gubah dalam satu syairnya. "Ini semua bukan manusia, hanya wajah-wajah manusia yang mereka miliki. Budak-budak perut, korban-korban hawa nafsu."

Jangan sampai kita hidup sebagai manusia hanya fisik belaka, tapi pikiran dan perilaku telah menjadi hamba hawa nafsu. Ibn Athailah dalam al-Hikam menerangkan bahwa hawa nafsu selalu ingin melawan kebaikan dan kebenaran. Kehidupan yang rusuh, kisruh dan gaduh, itu adalah selalu karena hawa nafsu yang diperturutkan.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS al-Jatsiyah [45]: 23).

Jadi, hawa nafsu memiliki daya rusak besar, bahkan setan dan tiran (diktator) pun tak mampu menandingi kerusakan yang disebabkan oleh hawa nafsu (QS al-Mu’minun [23]: 71). Oleh karena itu, manusia membutuhkan Alquran. Tujuannya jelas, yaitu agar tidak tertipu oleh hawa nafsu. 

Imam Ghazali menjelaskan, hawa nafsu adalah musuh yang tidak biasa. Pertama, hawa nafsu adalah musuh dalam diri. Kedua, hawa nafsu merupakan musuh, tapi dicintai


Bank ASI, Bagaimana Pandangan Fikih?

Manfaat dari ASI yang lebih sedikit itu tidak tampak jika dibandingkan dengan ASI yang lebih banyak.

SELENGKAPNYA

Mengelola Sampah Jadi ‘Permata’

Khilda Baiti Rohmah dihadapkan pada rentetan peristiwa yang menyayat hati.

SELENGKAPNYA

Paulina Fitriani Temukan Jalan Berislam

Mualaf ini meraih hidayah Illahi tatkala masih berusia muda.

SELENGKAPNYA
×