Cover Islam Digest edisi Ahad 5 Juni 2022. Era Taifa di Andalusia. | Islam Digest/Republika

Tema Utama

Era Taifa di Andalusia

Pudarnya pengaruh Kekhalifahan Umayyah di Spanyol abad ke-11 mengawali babak sejarah kelam.

OLEH HASANUL RIZQA

Pudarnya pengaruh Kekhalifahan Umayyah di Spanyol abad ke-11 mengawali babak sejarah kelam. Muslimin sempat terpecah-belah. Negeri yang tadinya besar dan disegani, menjadi kecil dan lemah.

Senja Kala Umayyah

Pada akhir abad ke-10 M, kekuasaan khalifah Bani Umayyah di Kordoba cenderung melemah. Bahkan, fungsinya menjadi simbolis belaka. Sebaliknya, para perdana menteri atau yang disebut sebagai al-hajib lebih berkuasa.

Kekhalifahan Kordoba sejak tahun 976 M memasuki masa Amiriyah. Nama itu berasal dari sosok al-hajib yang pertama, yaitu Ibnu Abi Amir. Lengkapnya adalah Muhammad bin Abi Amir. Tokoh yang disebut orang-orang Eropa sebagai Almanzor itu menjabat perdana menteri, sementara khalifahnya adalah Hisyam II al-Mu`ayyad Billah.

Hisyam II baru berusia 10 tahun saat menduduki takhta. Tidak mengherankan bila dirinya sangat bergantung pada al-Manshur, bukan hanya dalam menjalankan pemerintahan, tetapi juga memulihkan ketertiban. Di Andalusia utara, misalnya, kerusuhan sempat terjadi akibat pemberontakan yang dipicu para pendukung al-Mughirah bin Abdurrahman, yakni paman Hisyam.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Para perusuh itu tidak terima bila Hisyam yang masih belia menjadi penguasa Kekhalifahan. Muhammad bin Abi Amir lantas memimpin pengiriman balatentara ke sana. Tujuannya tidak hanya memadamkan kekacauan yang disebabkan simpatisan al-Mughirah.

Ia pun sukses mengusir pasukan Kerajaan Leon, yang sebelumnya menyerang perbatasan Andalusia utara. Sejak saat itu, Muhammad bergelar “sang peraih kemenangan” atau al-Manshur.

Kembali ke Kordoba, ia mengukuhkan posisinya sebagai perdana menteri. Kekuasaannya secara eksekutif tidak tertandingi siapapun kala itu. Hisyam “terkurung” dalam istana Madinah az-Zahra yang megah, tidak mengendalikan pemerintahan sedikit pun.

Al-Manshur wafat pada 1002 M. Penerusnya adalah putranya sendiri yang bernama Abdul Malik al-Muzhaffar. Selama enam tahun memimpin, ia meneruskan kebijakan-kebijakan ayahnya. Termasuk mengakui wibawa Hisyam II sebagai khalifah dan berjihad di jalan Allah. Pada 20 Oktober 1008, sosok yang berjulukan “pedang negeri” (syaf ad-daulah) itu meninggal saat menyiapkan pasukan untuk memerangi Kerajaan Kastila.

Posisi al-hajib kemudian diisi oleh saudara al-Muzhaffar, yakni Abdurrahman. Orang-orang Eropa menyebutnya Sanchol atau Sanchuelo. Julukan itu merujuk pada kakek Abdurrahman dari garis ibu: Raja Sancho II.

Pada 981, Almanzor menikah dengan putri raja Kristen itu. Pernikahan tersebut merupakan bentuk permohonan kesepakatan damai yang diajukan Kerajaan Pamplona kepada Kekhalifahan Kordoba.

photo
ILUSTRASI Lukisan pasukan perang di Andalusia. Kondisi umat Islam di Andalusia mengalami perpecahan yang dahsyat pada awal abad ke-11. - (DOK WIKIPEDIA)

Di mata rakyat, Abdurrahman tidak sepopuler al-Muzhaffar, apatah lagi Almanzor. Sejarawan mencatat, masa kecilnya diisi dengan bermalas-malasan. Tidak seperti saudaranya, Sanchol tidak peduli pada persatuan Muslimin di Andalusia. Yang diutamakannya hanyalah ambisi pribadi belaka.

Sebagai contoh, penggemar minuman keras tersebut dengan lancang mengaku diri sebagai khalifah. Padahal, para pendahulunya menganggap hal itu sangat tabu. Sebab, mereka memandang kursi khalifah di daulah Islam—termasuk Andalusia—hanya bisa diduduki lelaki dari kalangan Quraisy.

Wajar apabila daerah-daerah Muslimin di Semenanjung Iberia, khususnya yang dihuni para pendukung Bani Umayyah, memberontak padanya. Salah seorang trah Umayyah yang keras memberikan perlawanan adalah Muhammad al-Mahdi bin Hisyam bin Abdul Jabbar. Cicit deklarator Kekhalifahan, Abdurrahman III an-Nashir Li Diinillah, itu memimpin pasukan untuk mengepung Kordoba.

Saat pengepungan terjadi, Sanchol sedang berada di Toledo. Begitu menguasai istana Madinah az-Zahra, Muhammad al-Mahdi memakzulkan Hisyam II. Ia pun langsung mengeklaim dirinya sendiri sebagai khalifah baru.

Setelah mendapatkan kabar itu, Sanchol bergegas kembali ke Kordoba. Dalam pertempuran dengan kelompok-kelompok pro-Umayyah, dia tewas terbunuh pada 3 Maret 1009. Sejak saat itu, Kekhalifahan kembali berada di tangan langsung Dinasti Umayyah.

Turbulensi

Walaupun memiliki banyak pendukung, Muhammad al-Mahdi bukanlah figur yang cakap dalam memimpin. Ia acap kali serampangan dalam mengambil kebijakan, khususnya pada bidang politik. Umpamanya, keputusannya untuk memburu sisa-sisa keturunan Ibnu Abi Amir. Mereka yang berhasil ditangkapnya kemudian diasingkan ke pelosok-pelosok negeri.

Bukannya memperbanyak kawan, yang dilakukannya justru menimbulkan musuh-musuh yang tak perlu. Ia memperlakukan orang-orang Suku Berber dengan buruk. Ribuan prajurit juga dipecatnya dari dinas kemiliteran dengan alasan yang tidak berdasar. Lebih aneh lagi, Madinah az-Zahra juga dihancurkannya.

Para tokoh Berber yang tidak terima dengan diskriminasi kemudian mengadakan pertemuan dengan seorang cicit lainnya dari trah Abdurrahman III. Dialah Sulaiman bin al-Hakam. Tokoh yang mengambil gelar al-Musta’in Billah itu lantas setuju untuk memimpin pemberontakan besar-besaran terhadap khalifah.

Untuk berhadapan langsung, rasanya kekuatan persenjataan belum mencukupi. Karena itu, Sulaiman meminta bantuan kepada Kerajaan Kastila. Negeri Kristen itu tentunya antusias dalam menyambut keretakan politik di internal daulah Muslimin.

Mengetahui intrik tersebut, al-Mahdi seperti “tidak mau kalah". Khalifah Kordoba itu lalu meminta bantuan kerajaan Kristen lainnya, Aragon, di Barcelona. Raja Aragon saat itu, Ramon Borrell, mengajukan syarat-syarat yang berat.

Di antaranya adalah pasokan 200 dinar emas per hari selama masa konflik dengan Sulaiman. Di samping itu, Kordoba wajib menyerahkan Salim (Salem), sebuah daerah strategis di Valencia, kepada Aragon apabila Sulaiman berhasil dikalahkan.

 
Dalam perang itu, aliansi Sulaiman-Kastila mengalami kekalahan. Imbasnya, al-Mahdi berhasil mempertahankan takhta, tetapi dengan harga yang amat mahal: lepasnya Salem ke tangan Kristen.
 
 

Kedua belah pihak berhadap-hadapan di lembah Tourtosse. Dalam perang itu, aliansi Sulaiman-Kastila mengalami kekalahan. Imbasnya, al-Mahdi berhasil mempertahankan takhta, tetapi dengan harga yang amat mahal: lepasnya Salem ke tangan Kristen. Padahal, kota tersebut sangat penting perannya sebagai pangkalan militer.

Dengan meredanya perlawanan dari kelompok Berber dan Sulaiman bin al-Hakam, al-Mahdi merasa di atas angin. Yang tidak disangkanya, ternyata sisa-sisa kekuatan Amiriyah masih ada di Kordoba. Hanya beberapa bulan usai pertempuran di Tourtosse, khalifah tersebut dibunuh perdana menterinya sendiri, yakni Wadhih al-Amiri.

Sang wazir tidak berhasrat kekuasaan total. Dia hanya menginginkan pulihnya stabilitas politik—yang berarti wibawa Bani Umayyah. Maka, ia mendorong naiknya lagi Hisyam II, yang telah lebih dari tiga dekade “terbuang” dari istana, untuk menempati kursi khalifah.

Sampai di sini, turbulensi politik tampaknya usai. Bagaimanapun, terdapat kubu Sulaiman dan kaum Berber yang masih tidak puas karena merasa tidak mendapatkan apa-apa dari kematian Muhammad al-Mahdi.

photo
ILUSTRASI Reruntuhan Madinat az-Zahra di Kordoba, Spanyol. Bangunan ini dahulunya merupakan istana nan megah milik Dinasti Umayyah. Wangsa tersebut mengalami senja kala pada awal abad ke-11. - (DOK WIKIPEDIA)

Masa kelam

Prof Raghib as-Sirjani dalam Bangkit dan Runtuhnya Andalusia (2013) mengatakan, zaman konfrontasi antara Sulaiman bin al-Hakam dan khalifah (resmi) Umayyah di Kordoba merupakan salah satu babak sejarah yang kelam. Kala itu, sesama Muslimin berseteru, sedangkan kerajaan Kristen—yang seharusnya menjadi lawan bersama—malah dimintakan bantuannya.

Makar yang dilakukan Sulaiman terhadap Hisyam II dan juga cara sang khalifah mengatasinya, harus dibayar mahal dengan terpecah-belahnya Muslimin Iberia. Barangkali, seandainya Sulaiman merelakan dirinya untuk berbaiat kepada saudaranya itu, perpecahan tidak akan terjadi. Nyatanya, ia tetap fokus pada nafsunya, yaitu menjadi penguasa tunggal di Andalusia, walaupun untuk itu dia “harus” bekerja sama dengan kekuatan Kristen setempat.

Sulaiman, yang masih didukung orang-orang Berber, lagi-lagi menemui raja Kastila. Kalau dahulu, sasarannya adalah Muhammad al-Mahdi. Kini, target buruannya ialah al-hajib Wadhih al-Amiri. Wazir itulah yang dianggapnya sebagai penghalang utamanya merebut kekuasaan.

Pihak Kordoba lantas mengetahui rencana itu. Namun, langkah yang diambil justru tidak kalah parah. As-Sirjani menjelaskan, Hisyam menyerahkan 200 benteng di wilayah Andalusia utara kepada Kastila. Hal itu dengan harapan, kerajaan Kristen tersebut urung menyambut tawaran aliansi dengan Sulaiman.

“Sungguh sebuah bencana besar telah terjadi di bumi Islam. Semua peristiwa pembunuhan, makar, perseteruan, dan permintaan tolong kepada kaum Kristen … semua itu terjadi hanya dalam waktu tiga tahun saja,” tulis as-Sirjani mengomentari peristiwa-peristiwa sejak Perang Tourtosse hingga konflik Hisyam vs Sulaiman.

 
Bencana besar telah terjadi di bumi Islam. Pembunuhan, makar, perseteruan, dan permintaan tolong kepada kaum Kristen. Semua itu terjadi hanya dalam tiga tahun saja.
 
 

Akhirnya, Kordoba benar-benar digempur pasukan Sulaiman dan kawan-kawan. Sang khalifah tidak dapat membendung serbuan itu. Ketika kontak senjata usai, warga sipil setempat hanya terkulai, tak berdaya. Menurut as-Sirjani, yang terjadi kemudian adalah fenomena yang amat memilukan; sesuatu yang belum pernah dialami Muslimin sebelumnya dalam sejarah, bahkan hingga saat ini.

Sulaiman dan balatentaranya tanpa belas kasihan melakukan kerusakan dan pembunuhan terhadap umat di Kordoba. Tidak cukup itu, mereka pun memerkosa para wanita setempat. Hisyam sempat melarikan diri, tetapi kemudian dapat dibunuhnya. Begitu pula dengan nasib sang wazir, Wadhih al-Amiri.

Pada 1013 M, Sulaiman bin al-Hakam berhasil mendapatkan singgasana kekuasaan yang lama diidamkannya. Bagaimanapun, pengaruhnya hanya sampai pada Kordoba, bukan seluruh Andalusia. Karena itu, pemerintahannya amat rentan oleh persaingan dan ambisi lawan-lawan politik.

Hanya dua tahun sejak menjadi khalifah Kordoba, Sulaiman harus menghadapi perlawanan dari kaum pemberontak. Salah satunya justru datang dari kalangan Berber asal Ceuta, Maghribiyah. Mereka dipimpin Ali bin Hamud.

Gerakan Ali belakangan didukung para petinggi militer Berber yang sebelumnya membantu Sulaiman untuk merebut takhta dari Hisyam II. Pada 1016, kaum makar ini menyeberangi Selat Jabal Thariq. Usai mengonsolidasi kekuatan di Andalusia selatan, mereka berperang melawan pasukan Kordoba.

Dalam ajang ini, kaum Ali bin Hamud menang. Sulaiman—beserta sanak familinya—lalu ditangkap dan dieksekusi mati.

Hikmah Kehilangan

Belajar dari kehilangan dengan terus meningkatkan rasa syukur.

SELENGKAPNYA

Bersiap 2024

Kepentingan sebagai partai yang sedang berkuasa di pemerintahan sudah pasti akan dipelihara dan dijaga betul oleh PDIP.

SELENGKAPNYA

Gladys Greselda Gosal Terinspirasi Dahsyatnya al-Ikhlash

Gladys yang mualaf ini menyadari hakikat tauhid sehingga memutuskan untuk berislam.

SELENGKAPNYA