Petugas medis menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada pengunjung di obyek wisata Dermaga Kereng Bangkirai Sebangau, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (3/5/2022). | ANTARA FOTO/Makna Zaezar/nym.

Nasional

07 May 2022, 03:45 WIB

Dampak Mudik pada Kasus Covid Bisa Dideteksi dalam Dua Pekan

Terdapat daerah-daerah di wilayah Indonesia yang cakupan vaksinasinya masih rendah.

JAKARTA -- Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menilai, dampak dari mudik Lebaran pada tahun ini terhadap peningkatan kasus Covid-19, sebenarnya bisa dideteksi dalam waktu dua pekan. Hal ini karena varian omikron yang mendominasi kasus Covid-19 beberapa waktu terakhir, jenis yang penularannya cepat.

"Dua pekan pun bisa terdeteksi karena di era omikron ini orang terinfeksi itu cepat, enggak menunggu satu hingga dua pekan, bisa tiga hingga empat hari terdeteksi," ujar Dicky, Jumat (6/5).

Namun, cepatnya penularan Covid-19 ini harus didukung dengan kemampuan deteksi ataupun inisiatif masyarakat, untuk mendeteksi Covid-19. Sebab, saat ini kecenderungan masyarakat untuk melakukan testing menurun.

"Jangankan di Indonesia, di belahan dunia ini menurun, di tengah euforia, di tengah rasa percaya diri terhadap efektivitas imunitas yang terbentuk," katanya.

Menurut dia, jika berlebihan, kondisi ini akan berbahaya karena tidak bisa mendeteksi, baik pergerakan virus Covid-19 maupun perubahan karakter virus. Khususnya, kepada kelompok rawan dan yang belum memiliki imunitas.

Karena itu, kesadaran untuk peduli terhadap kesehatan masih sangat penting di tengah pandemi yang belum berakhir. Sebab, dalam jangka panjang akan menimbulkan masalah baru seperti fenomena hepatitis, yang terjadi pada kelompok anak yang belum mendapat vaksinasi.

"Sekarang ini dampak dari peningkatan kasus pascamudik dan balik, tidaklah secepat ketika dua Lebaran sebelumnya, tetapi bukan berarti pandemi telah berakhir. Itu karena //bariernya// sekarang sudah bertambah dengan cakupan imunitas yang lebih banyak," ujar dia.

Ia mengingatkan, terdapat daerah-daerah di wilayah Indonesia yang cakupan vaksinasinya masih rendah. Meskipun, gejala varian Covid-19 saat ini tidak separah seperti awal-awal kemunculannya, tetapi perlu diwaspadai bagi kelompok rawan.

photo
Petugas kesehatan Puskesmas Kabupaten Lampung Selatan memeriksa kesehatan pemudik yang akan di vaksin Covid-19 dosis ketiga (booster) di terminal keberangkatan Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Lampung, Sabtu (30/4/2022). - ( ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Sebab, menurut dia, tingkat keparahan Covid-19 menurun jika menginfeksi seseorang yang telah terinfeksi ataupun memiliki imunitas. Namun, ada kecenderungan berkembangnya varian-varian menimbulkan keparahan bagi kelompok rawan, baik yang belum terinfeksi maupun mendapat imunitas.

"Tapi yang harus diwaspadai, dia cenderung pada kelompok yang belum mendapat vaksinasi yang memadai, bisa repot, lansia, anak di bawah lima tahun, mereka bisa terdampak," kata dia menambahkan.

Sementara itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil berharap, adanya mobilitas dan aktivitas para pemudik, tidak akan menyebabkan peningkatan kasus Covid-19 seperti tahun-tahun sebelumnya. Jadi, skenario pandemi menjadi endemi tetap berjalan di jalur. Namun, menurut Ridwan Kamil, hingga hari ini berdasarkan data yang ada, penyebaran Covid-19 masih terkendali.

"Sampai hari ini saja berdasarkan data (BOR) di rumah sakit hanya 0,8 persen, kasus per hari hanya di bawah 40-an. Mudah-mudahan jika setelah arus balik nanti datanya relatif sama dengan hari ini, itu menunjukkan pandemi sudah berubah menjadi endemi," ujar Ridwan Kamil, Jumat.

photo
Petugas kesehatan melakukan skrining terhadap wisatawan yang akan divaksin dosis ketiga saat vaksinasi booster di kawasan objek wisata Tanah Lot, Tabanan, Bali, Rabu (4/5/2022). - (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)

Dia mengatakan, vaksinasi ketiga atau booster di Jabar sudah sesuai target yang direncanakan. Namun, begitu tak boleh ada perlambatan bahkan harus lebih cepat. “Vaksinasi terutama vaksin booster terus digenjot. Hingga kini di Jabar, booster sudah di atas 30 persen, sesuai target,” kata dia.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, juga meminta seluruh daerah kembali mempercepat vaksinasi Covid-19 setelah libur dan cuti bersama Lebaran Idul Fitri 1443 H. Khofifah mengatakan, percepatan vaksinasi perlu digenjot guna mencapai target seluruh kabupaten/kota di Jatim bisa masuk PPKM Level 1.

Dari 38 kabupaten/kota di Jatim, baru 12 daerah yang berstatus PPKM Level 1. Kemudian ada 25 kabupaten/ kota masuk kategori PPKM Level 2, dan satu daerah menyandang status PPKM Level 3.

"Kita berharap seluruh daerah di Jatim bisa mencapai Level 1 dan vaksinasinya bisa segera menyeluruh. Dengan begitu, harapannya kasus semakin terkendali, masyarakat semakin sehat dan nyaman beraktivitas agar ekonomi semakin cepat pulih," kata Khofifah. ';

One Way Arus Mudik Tol Trans Jawa Bisa 24 Jam

Puncak arus balik diprediksi masih akan terjadi hingga Ahad (6/5).

SELENGKAPNYA

Timnas Garuda Belum Padu 

Sebelum laga perdana kemarin, pelatih Shin Tae-yong sempat mengakui bahwa kualitas permainan Vietnam lebih baik.

SELENGKAPNYA

WHO: Kematian Terkait Covid-19 Capai 14,9 Juta Jiwa

Jumlah kematian yang sebenarnya hampir tiga kali lipat yang dilaporkan pada saat itu.

SELENGKAPNYA
×