Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Kisah Dalam Negeri

Kisah Hatta, Agus Salim, Abdoel Moeis Diserang Tokoh Jawa

Kasus-kasus itu memperlihatkan serangan tokoh-tokoh Jawa terhadap tokoh-tokoh luar Jawa.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Abdoel Moeis mendapat serangan dari Semaoen dan kawan-kawan pada 1917, sedangkan Agus Salim mendapat serangan dari Singgih pada 1926-1927. Hatta berkonflik dengan Sartono yang membentuk Partai Indonesia (Partindo) setelah membubarkan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1931.

Kasus-kasus itu memperlihatkan serangan tokoh-tokoh Jawa terhadap tokoh-tokoh luar Jawa. Perselisihan itu muncul sejak paruh kedua dekade 1910-an. Menurut Abdul Rivai, perselisihan terjadi karena yang ada bukan nasionalisme Indonesia, melainkan nasionalisme Jawa.

Abdul Rivai yang ada di Frankfurt menulis di Het Vaderland pada 25 Agustus 1931. “Ciri nasionalisme Jawa adalah tidak mau tahu apa pun tentang orang Indonesia dari luar Jawa. Ini telah ditunjukkan berulang kali.”

Pada Kongres Sarekat Islam 1917, Abdoel Moeis --wakil ketua Sarekat Islam-- menyinggung internasionalisme ketika membahas kerja sama di antara orang-orang Hindia. Ia menegaskan, yang lebih penting adalah nasionalisme Hindia.

Tanpa nasionalisme Hindia, tak akan terbentuk pemerintahan sendiri. Rupanya, Semaoen tersinggung, menganggap Abdoel Moeis menuduhnya melakukan propaganda internasionalisme dan melupakan nasionalisme.

 
Rupanya, Semaoen tersinggung, menganggap Abdoel Moeis menuduhnya melakukan propaganda internasionalisme dan melupakan nasionalisme.
 
 

Abdoel Moeis membantahnya. Seperti dilaporkan De Locomotief (23 Oktober 1917), Semaoen lantas menyebut tulisan-tulisan Abdoel Moeis di koran yang menuduhnya itu. Di kemudian hari, menurut De Locomotief (4 Mei 1918), serangan kepada Abdoel Moeis dari Semaoen dan kawan-kawan datang bertubi-tubi --termasuk juga dari Sneevliet-- sehingga Abdoel Moeis memilih mundur dari kepengurusan Central Sarekat Islam (CSI).

Kasus serangan Singgih kepada Agus Salim berawal dari kritik Salim kepada Singgih, tokoh nonkooperasi di Indonesische Studieclub yang bergabung dengan dr Radjiman, tokoh kooperasi. Menurut De Locomotief (10 Mei 1927), Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie (10 Mei 1927), dan De Sumatra Post (17 Mei 1927), kritik itu ditulis Salim bukannya tanpa dasar.

Sebelumnya, Sarekat Islam dan Partai Sarekat Islam (PSI) kecewa dengan pernyataan Ketua Indonesische Studieclub dr Soetomo yang mendukung Komunis melakukan pemberontakan 1926.

Soetomo yang dikenal sebagai tokoh kooperatif itu menyatakan, jika pemerintah kolonial memang bermaksud memajukan rakyat Indonesia, sudah tentu memberi orang Indonesia pangkat dalam posisi pemimpin. Sarekat Islam Cabang Surabaya, menurut AK Pringgodigdo di buku Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, lantas menilai sikap kooperasi Soetomo tidak dijalankan dengan keyakinan yang kokoh karena hanya menginginkan jabatan dan gaji besar.

Sarekat Islam pun, menurut De Indische Courant (15 Maret 1927), membatalkan kerja sama dengan Studieclub untuk aksi persatuan Hindia. Sarekat Islam, kata Pringgodigdo, juga melarang anggotanya bergabung di Studieclub.

Perselisihan Sarekat Islam dengan Studieclub terkait konflik panjang dengan orang-orang komunis. Orang-orang komunis di Sarekat Islam tak setuju dengan jalur kooperasi Sarekat Islam.

 
Perselisihan Sarekat Islam dengan Studieclub terkait konflik dengan orang-orang komunis. Orang-orang komunis di Sarekat Islam tak setuju jalur kooperasi Sarekat Islam.
 
 

Setelah Tjokroaminoto panjang lebar menyebutkan syarat-syarat untuk menjadi wakil di Volksraad pada Kongres Sarekat Islam 1917, Semaoen menolak untuk mengirim wakil ke Volksraad. Bagi Semaoen, seperti dilaporkan De Locomotief (23 Oktober 1917), Volksraad hanyalah main komedie sadja. Padahal, Sarekat Islam menganggap Volksraad sarana untuk memiliki pemerintahan sendiri.

Bukannya menjawab kritik, Singgih malah menyerang pribadi Agus Salim. Agus Salim disebut sebagai petualang politik, mata-mata Belanda yang membocorkan rencana pertemuan Konsentrasi Radikal pada 1919 dengan bayaran 700 gulden.

Konsentrasi Radikal diadakan oleh panitia yang terdiri atas Notoadmodjo dan Alimin dari Sarekat Islam, Agus Salim dari Sumatranenbond, PF Dahler dari Insulinde, Tjakradibrata dari Boedi Oetomo, dan Iskandardibrata dari Pasoendan.

Bergabungnya Salim di kelompok teosofi dan di ISDP juga diungkit Singgih, termasuk pula pernyataan Salim yang menuntut kesetaraan pribumi dengan orang Eropa sebagai warga negara Hindia. Keinginannya mendapat beasiswa belajar di Belanda juga dipersoalkan, sehingga dia disebut “orang Belanda 1,5 gulden”.

Propaganda negatif ini rupanya berpengaruh. Ketika mediasi diadakan di Yogyakarta pada Mei 1927 yang dihadiri ribuan orang, Salim disambut dingin. Salim datang dengan setelan hujau zaitun, celana panjang, dan jas Norfolk berkancing tinggi. Sedangkan, Singgih disambut meriah.

Salim dengan tenang membantah semua tuduhan Singgih. Upah 700 gulden ia dapat untuk jasa menerjemahkan 800 ratus halaman sejarah dunia sastra untuk Volkslectuur. Sebagai penerjemah, Salim boleh menjadi anggota kelompok teosofi yang keanggotaannya tidak membatasi agama yang dianut.

Karena pengurus teosofi ini juga pengurus Indischen Vrijzinnigen Bond, Salim pun menjadi anggota Indischen Vrijzinnigen Bond. Salim boleh juga menjadi anggota Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDP).

 
Penggunaan bahasa Indonesia membuat Salim cukup cekatan menyampaikan bantahannya. Singgih terbatas kosakata bahasa Indonesianya.
 
 

Penggunaan bahasa Indonesia membuat Salim cukup cekatan menyampaikan bantahannya. Singgih terbatas kosakata bahasa Indonesianya. Setelah tuduhan-tuduhannya dibantah Salim, ia berbicara sangat tidak teratur.

Berulang kali membolak-balik berkas-berkas yang ia bawa, terkesan bimbang. Dalam kesempatan ini, Semaoen juga ikut menyerang Salim. Ia tidak percaya keterangan Salim.

Juri tidak membuat keputusan, tapi menyatakan, Singgih gagal membuktikan tuduhannya, sekaligus menyayangkan sikap Salim yang tidak menuntut Singgih ke pengadilan. Salim menyebut, tuduhan Singgih adalah hal yang ringan.

Untuk kasus Hatta-Sartono, Hatta mendapat nasihat dari Abdoel Moeis agar pulang ke pantai barat Sumatra saja untuk memulai bisnis. “Serahkan pada nasionalisme Jawa untuk mendidik orang Jawa untuk mencapai ‘kemerdekaan’ Indonesia. Orang Sumatra tidak cocok untuk ‘karya nasional yang besar’ ini,” tulis Abdoel Moeis bernada nyinyir sekaligus frustrasi menghadapi sikap-sikap tokoh-tokoh Jawa.

Namun, Hatta tidak memenuhi saran itu. Ia ke Jawa karena di pantai barat Sumatra tak ada tempat bagi pemimpin politik rakyat. Abdoel Moeis lantas mengingatkan Hatta, jika ia tidak bergabung dengan Sartono di Partindo, ia akan tersingkir seperti halnya Tabrani, pendiri Partai Rakjat Indonesia.

Serbuan Mongol dan Kejatuhan Baghdad Kota 1.001 Malam

Pasukan Hulagu Khan dapat menembus benteng Kota Baghdad pada 10 Februari 1258.

SELENGKAPNYA

Ketika Mongol ‘Menyapu’ Dunia

Wilayah kekuasaan Imperium Mongol setara 17,81 persen dari seluruh dataran Bumi.

SELENGKAPNYA