Cover Islam Digest edisi Ahad 20 Maret 2022. Dampak Perang Salib dari Dua Perspektif. | Islam Digest/Republika

Tema Utama

Dampak Perang Salib dari Dua Perspektif

Masyarakat Eropa semakin terbuka akan kekayaan budaya dan pengetahuan Muslimin.

OLEH HASANUL RIZQA

Fenomena Perang Salib memperhadapkan antara Barat dan dunia Islam, yang saat ini sedang unggul secara budaya. Bagaimana palagan nyaris dua abad lamanya itu dilihat dari sudut pandang masing-masing?

Barat dan Imbas Perang Salib

Perang Salib merupakan serangkaian pertempuran yang terjadi secara periodik antara tahun 1095 dan 1291 Masehi. Palagan yang memakan waktu nyaris dua abad itu dilatari ambisi para pemimpin agama dan politik Kristen Eropa Barat. Mereka berhasrat merebut Baitul Makdis atau Yerusalem dari tangan Muslimin.

Dengan durasi yang amat panjang itu, Perang Salib tidak hanya diwarnai konflik. Kontak antara Barat dan Islam lambat laun mengarah pada perjumpaan yang lebih humanistis, khususnya dalam bidang kebudayaan dan ekonomi.

Sebagai contoh, sebelum periode Perang Salib kebanyakan orang Eropa Barat tidak tahu apa-apa mengenai rumah sakit. Mereka baru mengenalnya begitu tinggal di daerah-daerah Palestina yang dikuasai tentara Salib.

Bimaristan, itulah nama fasilitas umum yang diberikan para penguasa Muslim. Di dalamnya, para dokter bekerja merawat dan menyembuhkan orang-orang sakit. Sesudah kembali ke negeri asalnya, beberapa kesatria dan bangsawan Kristen membangun rumah sakit dengan meniru konsep bimaristan yang mereka saksikan dahulu di Palestina.

Contoh lainnya adalah preferensi pada makanan atau minuman yang berasal dari olahan tanaman-tanaman tertentu. Philip K Hitti dalam History of the Arabs (1970) menjelaskan, dalam periode Perang Salib orang Eropa Barat mulai mengenal semangka, jeruk, aprikot, biji wijen, padi-padian, dan carob atau kacang locust (Ceratonia siliqua). Semua komoditas itu dibawa oleh para pedagang Italia dari Syam ke kota-kota pelabuhan, semisal Venesia atau Genoa.

Nama-nama buah dari timur itu juga diserap dalam bahasa lokal. Carob diadopsi dari bahasa Arab, Kharrub, yang aslinya pun dari bahasa Suriah. Adapun lemon dari bahasa Arab, laimun, yang diserap dari India atau Melayu. Scallion (daun bawang) diambil dari nama sebuah kota di Palestina, Askalon.

Rempah-rempah, seperti pala, cengkih, dan lada, memberikan cita rasa baru pada lidah orang Eropa Barat sejak abad ke-12. Bumbu-bumbu yang beraroma khas itu kemudian menyatu dalam masakan mereka. Mengikuti kebiasaan orang-orang Arab, tentara Salib juga menambah jahe hangat dalam menu malamnya.

 
Mengikuti kebiasaan orang-orang Arab, tentara Salib juga menambah jahe hangat dalam menu malamnya.
 
 

Ketika wabah pes merebak pada abad ke-14, masyarakat Eropa percaya, ramuan rempah-rempah efektif meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Maka jangan heran bila komoditas yang tumbuh di Nusantara itu sangat dicari walaupun dengan harga yang amat tinggi. Dalam bahasa Belanda abad ke-15, terdapat ungkapan peperduur, yang secara harfiah berarti 'semahal lada'.

Gula menjadi salah satu komoditas yang paling dikagumi orang-orang Barat sejak era Perang Salib. Sebelum mengenal gula, mereka hanya mengetahui madu sebagai satu-satunya bahan pemanis.

Seorang uskup yang juga penulis kronik dari Kerajaan Latin Yerusalem, Willelmus Tyrensis (1130-1186), mencatat serba-serbi budidaya tebu dan produksi gula yang dilakukan penduduk lokal Arab. Catatan itu kemudian dibaca luas sehingga menjadi rujukan bagi para perintis industri gula di Sisilia.

 
Kopi mulai dikenal orang-orang Barat berkat interaksi mereka dengan Muslimin selama periode Perang Salib.
 
 

Kopi mulai dikenal orang-orang Barat berkat interaksi mereka dengan Muslimin selama periode Perang Salib. Demikian menurut Jeanette M Fregulia dalam A Rich and Tantalizing Brew (2019). Sejarawan dari Carroll College itu mengatakan, Leonhard Rauwolf (1535-1596) adalah orang Eropa pertama yang menulis tentang kopi. Ahli botani asal Jerman itu mengadakan perjalanan dari Syam, Palestina, hingga Irak selama dua tahun.

Di Tripoli, Lebanon, Rauwolf pertama kali mencicipi kopi. Kesannya dituliskan dalam bukunya, Aigentliche Beschreibung der Raiß inn die Morgenländerin (1582). “Mereka (penduduk Tripoli) menyebut minuman yang enak ini Chaube. Warnanya hitam seperti tinta. Khasiatnya bagus untuk (menyembuhkan) penyakit, terutama yang terasa di perut,” tulis Rauwolf.

Ia juga mencatat kebiasaan warga lokal meminum kopi (Chaube) setiap pagi di kedai-kedai terbuka.

‘Mengonsumsi’ Timur

Memasuki abad ke-14, semakin banyak konsumen di Eropa menggemari barang-barang yang diperdagangkan atau dihasilkan negeri-negeri Islam di Mediterania Timur. Hal itu menjadi peluang besar bagi kaum saudagar Eropa. Mereka umumnya berasal dari republik-republik maritim yang tumbuh di Italia, yaitu Republik Venesia, Genoa, Pisa, dan Amalfi.

Ketika Perang Salib masih bergolak, mereka tentunya berpihak pada Kristen Barat, tetapi dengan cara yang agak berbeda. Alih-alih pasukan, mereka mengerahkan armada laut sebagai sarana transportasi pasukan Salib.

Dari Eropa, kapal-kapal mengangkut para tentara Kristen ke pesisir Palestina. Dan dari sana, mereka tidak kembali pulang dengan tangan kosong belaka, tetapi membawa pelbagai komoditas yang nantinya dijual.

Dengan meredanya Perang Salib di Palestina, para saudagar Italia ini tidak lantas menghentikan aktivitas. Mereka terus mengambil keuntungan dalam hal peluang dagang.

Di antara keempat republik tersebut, Venesia dan Genoa menjadi yang paling aktif membawa beragam komoditas dari Palestina, Syam, atau Mesir. Bahkan, keduanya mendirikan koloni-koloni sampai sejauh Laut Hitam, sehingga sering kali mengontrol sebagian besar perniagaan antara Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dan Dunia Islam.

photo
ILUSTRASI Peradaban Islam turut mengembangkan industri parfum sehingga dikenal luas dunia saat ini. Konsumen Eropa menyukai produk-produk kerajinan tangan yang dibuat Muslimin. Parfum juga menjadi incaran utama orang-orang Eropa.  - (DOK PXHERE)

Konsumen Eropa menyukai produk-produk kerajinan tangan yang dibuat Muslimin. Sebut saja, permadani, kain gorden, permata, atau alat-alat kecantikan dari Syam. Cermin kaca dari Arab sangat disukai karena lebih praktis. Umumnya, masyarakat Barat saat itu menggunakan cermin yang terbuat dari permukaan baja yang dipoles.

Parfum juga menjadi incaran utama orang-orang Eropa. Minyak wangi Arab adalah produk primadona yang dijual para saudagar Venesia dan Genoa. Harumnya yang kuat dan tahan lama disinggung sastrawan agung William Shakespeare (1564-1616) dalam drama karangannya, Macbeth.

Mereka yang mengonsumsi produk dari Dunia Islam pada abad ke-14 bukan hanya masyarakat sipil, tetapi juga kalangan militer. Misalnya, para tentara Kristen yang memanfaatkan kompas. Benda penunjuk arah mata angin itu memang tidak berasal dari negeri-negeri Islam, melainkan Cina.

Bagaimanapun, kaum Muslimin-lah yang memperkenalkannya untuk pertama kali di kawasan Mediterania. Para pelaut Eropa menyaksikan orang-orang Arab berlayar dengan tuntunan benda yang bermuatan magnet tersebut. Dan, mereka pun ikut belajar menggunakannya.

photo
Perkembangan alat navigasi kompas kian pesat sejak diadopsi peradaban Islam. - (Pixabay by Anja)

Bubuk mesiu (gunpowder) dan meriam juga dipelajari penggunaannya dari orang-orang Islam. Sejarawan Spanyol, Jeronimo Zurita (1512-1580), dalam catatannya mengenai pengepungan Algeciras (1342-1344) menjelaskan bagaimana dampak yang diberikan peluru meriam kepada tentara Kristen yang mengepung kota Muslim tersebut.

“Mereka yang dikepung itu,” tulisnya, “berhasil menyebabkan kerusakan yang parah pada kubu Kristen dengan peluru besi yang mereka muntahkan itu. Itulah kali pertama kita (orang Eropa Barat) mendapati penggunaan bubuk mesiu.”

Bagaimanapun, dalam peristiwa tersebut Algeciras—kota pelabuhan utama Kesultanan Bani Marin—akhirnya jatuh ke tangan musuh. Ada Bruhn de Hoffmeyer dalam Arms and Armour in Spain (1972) mengatakan, raja-raja Kristen di Semenanjung Iberia mulai serius mengkaji bubuk mesiu sebagai bahan persenjataan sejak medio abad ke-14.

Penguasa Navarre—sebuah kerajaan kecil di antara Castilla dan Aragon—merekrut seorang Arab sebagai ahli artileri pada 1367.

photo
ILUSTRASI Mozaik yang menggambarkan pedagang rempah-rempah dan pembeli di Eropa. Berkat kontak budaya dengan Muslimin pada masa Perang Salib, orang-orang Eropa mulai mengenal khazanah kuliner dunia, termasuk bumbu. - (DOK WORLD HISTORY ORG)

Templar dan bank

Ordo Kuil Sulaiman atau, dalam bahasa Latin, Pauperes commilitones Christi Templique Salomonici. Itulah nama lengkap kelompok yang lebih populer disebut Kesatria Templar. Ordo tersebut berdiri sejak 1119 di Baitul Maqdis, tempat yang mereka namakan pula sebagai Bukit Kuil (Temple Mount).

Saat Perang Salib masih berlangsung, Ordo Kesatria Templar berperan signifikan. Salah satu tokohnya, Raynald Chatillon, adalah sahabat karib raja Latin Guy Lusignan.

Keduanya merupakan lawan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dalam Perang Hattin, Juli 1187. Kekalahan duo bersahabat itu menjadi awal dari kemenangan gemilang Muslimin sehingga Baitul Maqdis kembali ke tangan Islam.

Di luar ranah militer, Kesatria Templar ternyata juga mengurus perkara finansial. Ceritanya bermula dari meningkatnya aktivitas ziarah dari negeri-negeri Eropa ke Yerusalem. Para peziarah itu berasal dari macam-macam kalangan, termasuk bangsawan dan tuan tanah. Sering kali, mereka membawa banyak harta benda dalam perjalanan panjangnya. Hal itu, menurut Templar, sangat tidak praktis dan rentan perampokan.

Raja Yerusalem saat itu, Baldwin, mendelegasikan tugas kepada Templar untuk mengawal keamanan para peziarah dari Jaffa ke Yerusalem. Jabatan itu lantas dimanfaatkan ordo tersebut untuk mendirikan sebuah lembaga yang sangat mirip dengan cara kerja perbankan modern.

photo
ILUSTRASI Lukisan yang menggambarkan para peziarah Kristen menaiki kapal untuk sampai ke Palestina. Pada masa Perang Salib, kaum Kristen Barat menyaksikan banyak pencapaian Muslim di Tanah Palestina. - (DOK WIKIPEDIA)

Dengan institusi yang disebut Usury itu, Templar membuka diri untuk menampung dan menjaga harta orang-orang kaya Eropa selama mereka berziarah ke Yerusalem. Jadi, mereka tak perlu repot-repot membawa emas, perak, dan segala harta yang berat itu dalam perjalanan.

Titipkan saja semua benda berharga itu ke jaringan Usury Templar di Eropa. Kemudian, mereka akan diberikan kertas yang bertuliskan kode-kode rahasia sebagai jaminan.

Sesampai di Yerusalem, kertas tersebut dapat diuangkan oleh pemegangnya di Usury setempat. Hal demikian menjadi cikal bakal sistem cek tunai dan bahkan uang kertas yang berbasis riba.

Sesudah Perang Salib, eksistensi Kesatria Templar tetap ada di Benua Biru. Bahkan, pada akhirnya mereka kian besar pengaruhnya sehingga memancing kecurigaan dan ketakutan kaum agamawan dan raja.

Pada 1312, Paus Clement V mengeluarkan maklumat pembubaran Kesatria Templar. Ordo tersebut lalu menjadi buruan di mana-mana. Banyak dari tokoh-tokohnya yang kemudian lari ke Skotlandia, satu-satunya kerajaan di Eropa saat itu yang menolak otoritas Gereja Katolik.

Bagaimana Muslim Memandang Perang Salib?

Dapat disimpulkan, tentara Salibis dalam perspektif sejarawan Muslim adalah gerombolan ekstremis.

SELENGKAPNYA

Siapkan Diri Sambut Bulan Suci Ramadhan

Amat banyak amal kebaikan yang bisa kita lakukan saat Ramadhan.

SELENGKAPNYA

Masjid Pusat Cambridge, Pertama Ramah Lingkungan

Masjid ini dirancang mengandalkan energi hijau sehingga mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

SELENGKAPNYA