Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

22 Jan 2022, 03:16 WIB

Buah dari Ketulusan

Ketegaran dan kebahagiaan lahir dari besarnya sebuah ketulusan.

OLEH MUHAMAD YOGA FIRDAUS

Kebaikan menjadi pelipur segala kecemasan. Kebijaksanaan menjadi simbol ketegasan. Maka sungguh ketegaran dan kebahagiaan pun lahir dari besarnya sebuah ketulusan.

Telah menceritakan Abu at-Thahir Ahmad bin Amru bin Sarh, telah menceritakan Ibnu Wahab dari Usamah bahwa dia mendengar Abu Sa'id dari Abdullah bin Amir bin Kuraiz dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada ketulusan hati kalian” (HR Muslim).

Hadis ini menjelaskan tentang pentingnya sikap tulus. Ketulusan adalah perangai indah yang hendaknya dimiliki oleh setiap insan. Dengan ketulusan itulah ia akan mendapatkan balasan menawan berupa kasih sayang Tuhan.

Allah SWT berfirman, “Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang tulus memasrahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia muhsin (orang yang berbuat kebaikan) dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya” (QS an Nisa: 125).

Sedikitnya ada tiga hal bermakna yang dapat kita petik dari besarnya sebuah ketulusan.

Pertama, ketenangan. Hati menjadi pusat kendali pada diri. Dengan ketulusan yang tak henti terpahat pada diri, hal tersebut akan senantiasa menjadi jembatan untuk selalu mengingat Sang Ilahi.

Allah SWT berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS ar-Ra’d: 28).

Kedua, jaminan diterimanya amal. Capaian terbesar tak selalu tentang kedudukan yang tinggi dan banyaknya pujian. Capaian terbesar terletak pada beribu-ribu buih cinta yang disimbolkan pada setiap ketulusan dan padad saat itu pula Allah tak segan-segan untuk memberikan cinta-Nya secara kontan. Semua itu tersaji atas dasar kekuatan iman dan takwa yang senantiasa menjadi pelengkap perjalanan kehidupan.

Dari Abu Umamah al-Bahili RA ia berkata bahwa telah datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW lalu berkata, “Bagaimana pendapat Anda mengenai seseorang yang berjihad mengharapkan upah dan sanjungan, apakah yang ia peroleh?

Rasulullah SAW menjawab, "Ia tidak mendapatkan apa-apa,"  lalu ia mengulanginya tiga kali, Rasulullah SAW bersabda kepadanya, "Ia tidak mendapatkan apa-apa."Kemudian beliau bersabda, "Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajah-Nya (keridhaan-Nya)" (HR an Nasa’i).

Ketiga, pahala yang melimpah. Ketulusan menjadi pintu utama dalam menggapai limpahan pahala. Dengan ketulusan, kita akan senantiasa mendapatkan anugerah kebaikan dari-Nya.

Dari Sa'ad bin Abu Waqash RA mengabarkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah yang dimaksudkan mengharap wajah Allah (tulus mengharap ridha Allah) kecuali kamu akan diberi pahala termasuk sesuatu yang kamu suapkan ke mulut istrimu" (HR Bukhari).

Ibarat lantunan melodi indah yang diperdengarkan. Ketulusan menjadi sumber ketenangan. Jalan istimewa untuk menggapai kebahagiaan. Tanpanya, kehidupan tampak tak elegan. Lewat ketulusan, keridhaan-Nya pun didapatkan.

Wallahu a’lam.


×