Penampilan anggun Masjid Raya Jumat Shamakhi di Azerbaijan pada malam hari. | DOK WIKIPEDIA

Arsitektur

16 Jan 2022, 06:12 WIB

Masjid Raya Jumat Shamakhi, Pesona di Negara Api

Masjid Raya Jumat Shamakhi dibangun pada tahun 743 atau 744 M.

OLEH HASANUL RIZQA

Azerbaijan merupakan sebuah negara di kawasan Pegunungan Kaukasus. Beribu kota di Baku, sejak berabad-abad silam ia dijuluki sebagai Negara Api. Sebab, di sana terdapat Yanar Dag, ‘gunung terbakar'.

Bentang natural di Semenanjung Absheron itu kerap menyemburkan gas alam yang ketika bersentuhan dengan panas, maka menghasilkan jilatan api yang menyala-nyala.

Republik yang pernah menjadi bagian dari Uni Soviet itu berpenduduk mayoritas Muslim. Agama Islam pertama kali memasuki wilayah di pesisir Laut Kaspia itu pada sekitar abad abad ketujuh. Syiar dakwah di sana mula-mula berlangsung seiring dengan ekspansi Dinasti Umayyah.

Hingga kini, ada cukup banyak peninggalan kekhalifahan tersebut yang bisa dijumpai di Azerbaijan. Salah satunya ialah Masjid Raya Jumat Shamakhi. Dalam bahasa lokal, tempat ibadah itu disebut sebagai Samaxi Cume Mescidi.

Shamakhi atau Samaxi merujuk pada distrik tempat masjid tersebut berada. Adapun penamaan Cume atau Jumat dipilih karena di sanalah pusat berkumpulnya kaum Muslimin pada hari Jumat, khususnya dalam rangka mendirikan shalat Jumat berjamaah.

Dari Baku, seseorang perlu menempuh perjalanan sepanjang 106 km untuk mencapai lokasi. Rihlah sejauh itu insya Allah tidak akan berujung pada penyesalan. Sebab, panorama keindahan yang ditawarkannya terbilang mempesona.

photo
Masjid Raya Jumat Shamakhi mulai berdiri sejak zaman Kekhalifahan Bani Umayyah. - (DOK FLICKR)

Pertama-tama, nuansa sejarahnya. Masjid Raya Jumat Shamakhi dibangun pada tahun 743 atau 744 M. Beberapa penelitian arkeologis mengungkapkan, masjid tersebut menjadi bukti kejayaan Umayyah di region Pegunungan Kaukasus. Bahkan, inilah bangunan pertama yang berdiri sebagai masjid di kawasan tersebut.

Sejak mula dibangun, Masjid Raya Shamakhi difungsikan tidak hanya sebagai tempat ibadah untuk umum, tetapi juga pusat dakwah Islam. Syiar ajaran tauhid di seluruh pesisir Kaspia ditopang antara lain oleh keaktifan para mubaligh di masjid tersebut.

Hingga kini Masjid Raya Shamakhi masih tegak berdiri. Bagaimanapun, struktur bangunan aslinya sudah tidak ada lagi. Sebab, konstruksi itu telah mengalami beberapa kali kehancuran, baik yang disebabkan faktor alam maupun manusia. Kabar baiknya, destruksi tidak terjadi hingga seluruhnya. Pembangunan-kembali atau renovasi juga cukup gencar dilakukan.

Satu contoh musibah yang pernah menerpa masjid itu ialah gempa bumi pada 1859. Nyaris sebagian fondasi asli Masjid Raya Shamakhi rusak sama sekali. Jauh sebelumnya, tempat ibadah kaum Muslimin itu pernah menjadi sasaran amuk pasukan Kerajaan Georgia pada 1123.

Memasuki abad ke-17, Dinasti Safawid dari Iran menguasai wilayah Azerbaijan. Rajanya memerintahkan jajaran untuk merenovasi Masjid Raya Shamakhi. Ada banyak struktur-baru didirikan di sana sehingga mengubah banyak bentuk awal masjid. Namun, pada abad ke-18 region Kaukasus dicaplok Rusia. Khususnya setelah Uni Soviet terbentuk, maka dalam waktu yang lama masjid tersebut cenderung terabaikan.

Pada awal 1990-an, Uni Soviet bubar. Azerbaijan kemudian merdeka menjadi negara yang berdaulat. Rakyat setempat mencoba untuk kembali ke akar budaya mereka. Begitu pula dengan religiusitasnya.

photo
Bagian interior Masjid Raya Jumat Shamakhi. Tampak pengaruh dari arsitektur Persia-Islam. - (DOK WIKIPEDIA)

Upaya renovasi yang terkini atas Masjid Raya Shamakhi dilakukan oleh presiden keempat Republik Azerbaijan Ilham Aliyev. Pengerjaan itu dimulai pada 2009 dan selesai pada 2013. Kini Masjid Shamakhi merupakan contoh perpaduan kemegahan arsitektur Islam modern dan tradisional di Azerbaijan. Bahkan, kompleks tersebut menampilkan perpaduan corak arsitektur yang terbaik.

Proyek pemugaran Masjid Raya Shamakhi dilakukan secara besar-besaran di bawah arsitek Elvin Najafov. Bekerja sama dengan sebuah perusahaan marmer terbaik di Italia, Margraf,  Najafov menjadikan Masjid Skhamakhi contoh bangunan luar biasa dari masjid marmer berarsitektur terbaik di Kaukasus. Ia memperkuat masjid dengan fondasi beton sedalam 15 meter untuk menstabilkan bangunan.

Najafov menambahkan dua menara setinggi 36 meter dan empat kubah pada bangunan Masjid Shamakhi yang baru. Ia juga memberi gaya dekorasi tradisional Islam dengan desain geometris dan ornamen flora di beberapa bagian dindingnya. Najafov menyempurnakan penyelesaian kubah tengah masjid dengan bentuk simetris kerucutnya. Kubah besar berada di bagian tengah dan tiga kubah kecil lainnya berada di kanan kiri dan depan.

photo
Bagian mihrab Masjid Raya Jumat Shamakhi. Tampak di sana, elemen muqarna yang merupakan salah satu ciri khas corak arsitektur Persia. - (DOK WIKIPEDIA)

Arsitektur kubah yang ia tambahkan ini terkesan elegan dan lebih dinamis. Di bagian kubah besar merupakan ruang shalat utama masjid ini, dengan mihrab dan mimbar. Sedangkan, dua kubah kecil di kanan dan kiri merupakan bagian ruang shalat lain yang masing-masing terhubung secara terbuka.

Ketiga area ruang shalat ini merupakan satu dari beberapa desain yang ia pertahankan dari rancangan Jozef Plosko, arsitek pembangunan ulang keempat setelah masjid hancur akibat gempa pada 1860.

Selain mempertahankan struktur renovasi sebelumnya, Najafov juga berusaha menghidupkan kembali model Masjid Shamakhi ini seperti awal berdirinya pada Dinasti Umayyah I. Pilar dan menara masjid dibangun dengan mempertahankan struktur tradisional, namun ornamen dan fasad atau eksterior dimodifikasi sedemikian rupa.

Beberapa tambahan berupa fasilitas pendukung, seperti ruang administrasi, aula konferensi, perpustakaan, fasilitas wudhu, dan kamar mandi. Total setelah renovasi dan pembangunan kembali, Masjid Shamakhi dapat menampung lebih dari 1.500 orang jamaah secara keseluruhan.


×