Saliha memegang anaknya yang mengalami kekurangan gizi saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Anak Indira Gandhi di Kabul, Afghanistan, Rabu (8/12/2021). | AP/Petros Giannakouris

Kisah Mancanegara

03 Jan 2022, 03:45 WIB

Simalakama Orang Tua di Tengah Krisis Afghanistan

Keputusasaan jutaan warga Afghanistan kini semakin terpampang nyata.

OLEH RIZKY JARAMAYA

Di sebuah pemukiman gubuk yang terbuat dari tanah liat di Afghanistan barat, seorang wanita, Aziz Gul, berjuang untuk menyelamatkan putrinya. Sang suami, ternyata telah menjual anak perempuannya yang berusia 10 tahun, untuk dinikahkan tanpa memberitahu istrinya.

Suami Gul telah mengambil uang muka agar dapat memberi makan lima anaknya. Tanpa uang itu, keluarga Gul akan kelaparan. Salah satu anak pun harus dikorbankan, untuk menyelamatkan yang lainnya.

Di Kamp Shedai, kemiskinan dan perekonomian yang kian memburuk membuat warga Afghanistan makin sulit memenuhi kebutuhan dasar mereka. Bahkan, jual beli anak mulai marak di kalangan warga miskin untuk bertahan hidup.

Keluarga mempelai pria yang seringkali merupakan kerabat jauh, membayar uang untuk membuat kesepakatan. Seorang anak yang telah dibeli biasanya akan tinggal bersama orang tuanya sampai setidaknya berusia sekitar 15 atau 16 tahun.

photo
Seorang anak berjalan dipapah ayahnya di Rumah Sakit Anak Indira Gandhi di Kabul, Afghanistan, Rabu (8/12/2021). - (AP/Petros Giannakouris)

Namun, karena banyak yang tidak mampu membeli makanan pokok, beberapa keluarga mengizinkan calon pengantin pria untuk membawa pulang anak perempuan di bawah umur untuk dinikahkan.

Meski sang suami telah menerima uang muka, Gul menolak untuk menyerahkan anak perempuannya, Qandi. Dia mengancam akan bunuh diri jika anaknya tetap dibawa secara paksa.

Gul ingat betul saat dia mengetahui suaminya telah menjual Qandi. Selama sekitar dua bulan, keluarga mereka sempat bisa membeli makanan. Namun ia menaruh curiga dan bertanya kepada suaminya dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli makanan.

Suami Gul kemudian memberi tahu bahwa, dia telah menjual Qandi. “Jantung saya berhenti berdetak. Saya berharap saya mati saat itu, tetapi mungkin Tuhan tidak ingin saya mati," ujar Gul, dikutip dari APnews, Ahad (2/1).

Gul pun berjuang untuk mendapatkan anaknya kembali. Ia bercerita kepada saudara laki-lakinya dan para tetua desa untuk meminta bantuan. Saudara laki-laki Gul, dan para tetua desa kemudian bergegas memberikan bantuan melalui permintaan perceraian terhadap Qandi.

Perceraian dapat dilakukan dengan syarat Gul harus membayar 100 ribu afghani atau setara dengan 1.000 dolar Amerika Serikat (AS).

photo
Para perempuan mengantre untuk menerima uang bantuan dari World Food Program di Kabul, Afghanistan, Sabtu (20/11/2021). - (AP Photo/Petros Giannakouris)

Saat ini, suami Gul telah melarikan diri, karena takut akan dibawa ke pihak berwenang. Berdasarkan kesepakatan, Qandi akan dinikahkan oleh seorang pria yang berusia sekitar 21 atau 22 tahun.

Keluarga calon pengantin pria telah beberapa kali mencoba untuk mengklaim gadis itu. "Saya sangat putus asa. Jika saya tidak dapat menyediakan uang untuk membayar orang-orang ini, dan tidak dapat menjaga putri, mungkin saya akan bunuh diri. Tapi. kemudian saya ingat dengan anak-anak saya yang lainnya. Apa yang akan terjadi pada mereka?  Siapa yang akan memberi mereka makan?," kata Gul. 

Gul memiliki enam anak. Anak sulungnya berusia 12 tahun, dan anak bungsunya berusia dua bulan. Ia biasa menitipkan anak-anaknya bersama ibunya yang sudah lanjut usia.

Sementara dia pergi bekerja di rumah-rumah penduduk.  Putranya yang berusia 12 tahun bekerja memetik safron sepulang sekolah. Musim safron biasanya pendek, yaitu hanya beberapa minggu di musim gugur. Sehingga uang yang didapatkan tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Kami tidak punya apa-apa," kata Gul.

Kisah perjodohan juga terjadi di bagian lain, di kamp yang sama. Seorang ayah empat anak, Hamid Abdullah menjual putrinya yang masih kecil untuk dijodohkan. Dia sangat membutuhkan uang untuk mengobati istrinya yang sakit kronis, dan sedang hamil anak kelima.

photo
Sekeluarga menghangatkan diri di luar Kantor Direktorat Bencana Alam di Herat, Afghanistan, Senin (29/11/2021). - (AP/Petros Giannakouris)

Abdullah meminjam uang untuk membayar perawatan istrinya dan tidak dapat mengembalikannya. Jadi tiga tahun lalu, dia menerima uang muka untuk putri sulungnya Hoshran yang berusia tujuh tahun.

Rencananya, Hosran akan dijodohkan dengan seorang anak laki-laki berusia 18 tahun di provinsi asal mereka, Badghis. Abdullah juga sekarang tengah mencari seseorang untuk menjodohkan putri keduanya, Nazia yang berusia enam tahun. “Kami tidak punya makanan. Dia membutuhkan operasi, saya tidak punya sepeser uang untuk membayar dokter," kata Abdullah.

Abdullah mengatakan, keluarga yang membeli Hoshran akan melunasi sisa pembayaran ketika dia sudah mencapai usia matang. Tetapi, Abdullah membutuhkan uang dengan sangat mendesak untuk membeli makanan dan perawatan istrinya. Sehingga dia mencoba mengatur perjodohan dan pernikahan untuk Nazia dengan biaya sekitar 20 ribu hingga 30 ribu afghani.

Keputusasaan jutaan warga Afghanistan kini semakin terpampang nyata. Mahalnya harga bahan pangan, dan krisis ekonomi yang semakin memburuk membuat warga miskin Afghanistan menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.

Pemerintah Taliban belum lama ini mengumumkan larangan menikahkan  perempuan secara paksa, atau menggunakan perempuan dan anak perempuan sebagai alat tukar untuk menyelesaikan perselisihan. Menurut data PBB, sekitar 3,2 juta anak Afghanistan di bawah lima tahun diperkirakan akan menderita kekurangan gizi akut.

Direktur Nasional World Vision di Afghanistan, Asuntha Charles, mengatakan, malnutrisi, dan kemiskinan membayangi kelompok yang paling rentan. Kelompok bantuan kemanusiaan mengatakan, lebih dari setengah populasi Afghanistan kini menghadapi kekurangan pangan akut. 


×