Anak-anak bermain di pengungsian al-Hol di Provinsi Hasakeh, Sabtu (1/5/2021). | AP/Baderkhan Ahmad

Kisah Mancanegara

23 Dec 2021, 03:45 WIB

Bagi Fatima, Hanya Allah yang Mengerti

Sekitar 2 juta orang melakukan perjalanan ke daerah dekat perbatasan Turki pada 2017 dan 2020.

OLEH FERGI NADIRA

Fatima Jasim menghadapi tantangan baru di tenda daruratnya di Kamp pengungsi Zifiq, Idlib, Suriah. Di kamp ia berlindung setelah melarikan diri dari perang yang dipaksakan oleh rezim Presiden Bashar al-Assad Suriah dan sekutunya, Rusia.

Hujan tak henti-hentinya telah menghancurkan tenda Fatima. Ia tak sendirian. Hal sama juga dialami tempat penampungan bagi lebih dari 3.700 pengungsi Suriah di desa-desa sekitar Idlib, dekat perbatasan Turki. Saat ini daerah itu tidak memiliki tempat untuk tidur selama musim dingin yang mencekam.

"Setiap orang yang tinggal di sini membutuhkan berbagai macam bantuan," kata Fatima seperti dikutip laman Anadolu Agency, Rabu (22/12).

Hujan dan banjir melanda kamp-kamp pengungsi di barat laut Suriah yang mempengaruhi puluhan ribu orang. Keluarga-keluarga yang melarikan diri dari konflik sipil Suriah kini tinggal di tenda-tenda darurat di kamp-kamp Idlib.

photo
Ahmad Qassim duduk bersama istrinya di kediaman mereka di Desa al-Rami di Idlib, Suriah, Senin (20/12/2021). Keduanya terluka dalam serangan udara yang dilancarkan militer Amerika Serikat di kampung mereka. - (AP/Ghaith Alsayed)

"Kami tidak bisa tidur di tenda kami di malam hari. Air merembes ke tenda. Suami saya sudah tua dan tidak bisa bergerak karena dingin yang menyengat. Kami kelaparan dan hujan pada saat yang sama," kata Fatima tentang kondisi di kamp tersebut.

"Hanya Allah yang mengerti penderitaan kita," ujarnya menambahkan.

Dia mengatakan, memasak pun sulit baginya. "Kami memasak makanan dengan membakar sampah kantong plastik yang saya kumpulkan," ujarnya.

Fatima juga meminta badan-badan kemanusiaan internasional untuk memberikan bantuan makanan, pakaian dan bahan bakar serta menekankan bahwa mereka hidup dalam kondisi yang sangat mengerikan.

Direktur Koordinator Tanggap Darurat Suriah Mohammed Hallaj mengatakan, lebih dari 500 tenda tidak dapat digunakan. Dia mencatat, sedikitnya 3.742 keluarga terdampak hujan, dan 2.145 kamp keluarga rusak terendam banjir.

"Jalan dari 104 kamp yang terkena dampak hujan ditutup," katanya.

 
photo
Anak-anak bermain di pengungsian al-Hol di Provinsi Hasakeh, Sabtu (1/5/2021). - (AP/Baderkhan Ahmad)

Warga lain dari Kamp Zifir, Ahmad Muhammad juga mengatakan, kondisi kehidupan yang menantang karena banjir dan hujan menerpa kamp-nya. "Kami tidak memiliki terpal untuk melindungi kami dari cuaca, dan curah hujan sudah memasuki tenda kami," katanya.

Pada pertemuan Astana pada 2017, Turki, Rusia, dan Iran memutuskan untuk menetapkan empat zona deeskalasi di daerah-daerah di luar kendali Assad. Rezim Assad yang didukung Iran dan Rusia mengintensifkan serangan mereka, mengambil tiga dari empat distrik dan berbaris di Idlib.

Terlepas dari kenyataan bahwa Turki dan Rusia mencapai kesepakatan tambahan pada September 2018 untuk mendukung gencatan senjata, serangan dilanjutkan pada Mei 2019. Gencatan senjata terutama dipertahankan sejak perjanjian baru antara Turki dan Rusia pada 5 Maret 2020.

Sekitar 2 juta orang yang melarikan diri dari serangan harus melakukan perjalanan ke daerah dekat perbatasan Turki antara 2017 dan 2020. Menurut Badan Pengungsi PBB, sekitar 6,6 juta warga Suriah telah dipaksa meninggalkan negara itu selama dekade terakhir. Jelaslah, Fatima tak sendirian. ';

×