Pembukaan. Menteri PAN-RB Syahruddin (tengah) bersama Ketua Dewan Pertimbangan Ikapi DKI Jakarta Afrizal Sinaro (kiri), Dewan Pembina Panitia Islamic Book fair (IBF) Didin Hafidhuddin (kedua dari kiri), Ketua Panitia IBF 2019 (Anis Baswedan) (kedua dari k | Wihdan Hidayat | Republika

News

Literasi Islami Majukan Bangsa

Semua pihak didorong meningkatkan literasi anak bangsa.

Oleh Literasi Islami Majukan Bangsa

JAKARTA - Pameran buku Islam berkonsep wisata literasi, Islamic Book Fair (IBF) 2019, resmi dibuka. Pameran ini diyakini dapat meningkatkan budaya literasi masyarakat Indonesia.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Syafruddin mengatakan, penguatan literasi sangat penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital yang mendorong perubahan peradaban dunia dan lanskap budaya secara cepat. Karena itu, kata dia, budaya membaca perlu terus ditingkatkan agar masyarakat Indonesia mampu mengikuti arus ilmu pengetahuan dan informasi.

"Dengan begitu, cara berpikir kita menjadi maju dan terbuka. Pertumbuhan literasi jadi indikator kemajuan suatu bangsa," kata Syafruddin saat membuka pameran IBF 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (27/2). IBF 2019 yang digelar hingga Ahad (3/3) menyajikan 48.250 judul buku dari 213 penerbit di Indonesia dan mancanegara.

Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia itu sangat mengapresiasi terselenggaranya IBF yang ke- 18 tersebut. Dia berharap semua upaya dalam membangun literasi umat dapat menjaga Islam sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin. Saat ini, kata dia, umat Islam sedang diuji dengan berbagai macam pengaruh negatif yang bisa datang dari dalam negeri atau pun luar negeri.

Ia meyakini, jika umat Islam terus menggali ilmu pengetahuan dan terus meningkatkan budaya literasi, akan terus lahir tokoh-tokoh Muslim yang hebat. Syafruddin merujuk pada ke khalifahan Abbasiyah yang mampu menjadikan Islam sebagai pusat pengetahuan dunia.

Pada masa Dinasti Abbasiyah, kata dia, terdapat perpustakaan terhebat pada masanya yang menjadi pusat intelektual, pusat peradaban, dan menjadi kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh Islam.

Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DKI Jakarta Hikmat Kurnia mengatakan, semua pihak harus berkomitmen memajukan literasi anak bangsa. "Tanpa adanya literasi yang kuat, tidak akan lahir individu yang hebat. Inilah cara kami pegiat literasi untuk mencintai Indonesia," ujar dia.

"Kita percaya dunia literasi akan membawa ke arah peradaban bangsa yang lebih baik."
Republika Penerbit, Arys Hilman Nugraha



Chief Executive Officer (CEO) Republika Penerbit, Arys Hilman Nugraha, mengatakan, Republika Grup sudah mengambil peran sejak pertama kali IBF diselenggarakan. Hal itu dilakukan Republika Penerbit sebagai komitmen mendukung kemajuan dunia literasi. "Kita percaya dunia literasi akan membawa ke arah peradaban bangsa yang lebih baik," kata Arys.

Ia mengatakan, literasi memang bukan satu-satunya jalan untuk membangun kebudayaan dan peradaban sebuah bangsa. Akan tetapi, literasi merupakan hal penting untuk mewujudkan peradaban yang maju.

Menurut dia, negara yang maju peradabannya karena kemampuan literasi masyarakatnya tinggi. "Oleh sebab itu, literasi sangat penting untuk terus kita perkuat," ujar dia.

Ketua Panitia IBF 2019 Mahmud Anis Baswedan optimistis jumlah pengun jung pada tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Apalagi, pelaksanaan IBF 2019 lebih berwarna dan sudah diinformasikan kepada masyarakat luas, khususnya umat Muslim.

"Kami telah mempersiapkan 45 mata acara dalam pameran dan di beberapa area. Insya Allah, pameran tahun ini lebih banyak pengunjungnya," kata Anis.

Anis mengatakan, jumlah pengun jung pada IBF 2018 mencapai 202 ribu orang dengan nilai penjualan hingga Rp 135 miliar. Dia meyakini, jumlah pengunjung bertambah 20 persen seiring bertumbuhnya minat baca masyarakat terhadap karya-karya buku Islami.

Membeludak Penyelenggaraan IBF 2019 hari pertama sudah dipadati pengunjung.Berdasarkan pantauan Republika, antrean untuk masuk ke lokasi pameran sudah terlihat sejak pagi.

IBF 2019 juga dimanfaatkan berbagai lembaga pendidikan sebagai wisata literasi, salah satunya oleh Pondok Pesantren Turus, Pandeglang, Banten. Tak tanggung-tanggung, mereka berangkat ke Jakarta dengan 10 bus.

Guru pembimbing Pondok Pesantren Turus Pandeglang Banten Muhamad Soleh menuturkan, total ada 595 santri yang diberangkatkan ke IBF 2019. Mereka sudah bergegas dari Pandeglang sejak Subuh.

"Yang ke sini dari kelas 7, 8, 10, dan 11. Ini sudah menjadi agenda tahunan kami sejak bertahun-tahun yang lalu," kata dia kepada Republika.

Soleh mengatakan, murid-murid dipersilakan mencari dan membeli buku di IBF 2019. Mereka juga diharuskan menyumbang buku jenis apa pun itu ke pondok pesantren dari hasil pembelian di IBF.

Pimpinan Pondok Pesantren Turus KH Tubagus Ahmad Dahlan Idrus, turut hadir dalam agenda pembukaan IBF 2019. Dia menjadi pembaca doa dalam seremoni pembukaan tersebut.(ed:satria kartika yudha)

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat