Cover Islam Digest edisi Ahad 28 November 2021. Jejak Sufi Ibrahim bin Adham | Islam Digest/Republika

Tema Utama

05 Dec 2021, 04:46 WIB

Jejak Sufi Ibrahim bin Adham

Syekh Ibrahim bin Adham dikisahkan sebagai bangsawan yang menekuni jalan suluk.

OLEH HASANUL RIZQA

Pada abad kedua Hijriyah, seorang ahli tasawuf lahir dari generasi tabiin. Dialah Syekh Ibrahim bin Adham. Baginya, tarekat lebih utama daripada takhta.

Sang Sufi dari Khurasan

 

 

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Yang terbaik dari kalian (umat Islam) adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka (at-tabiit taabi’in).”

Hadis tersebut menunjukkan betapa mulianya kedudukan tiga generasi itu. Mereka menjadi yang paling awal dalam menerima dan menyebarluaskan risalah Islam.

Dari generasi tabiin, terdapat seorang tokoh yang menekuni dunia tasawuf. Dialah Syekh Ibrahim bin Adham (718-782). Sang salik lahir di tengah komunitas Arab Kota Balkh, daerah Khurasan timur (kini bagian dari Afghanistan).

Menurut Imam Bukhari (810-870), sufi tersebut masih keturunan sahabat Rasulullah SAW, Al-Faruq Umar bin Khattab (584-644). Sepanjang hayatnya, sang syekh telah berkelana ke banyak kota, termasuk Baitul Makdis. Ia wafat dalam usia kira-kira 64 tahun.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Ada beragam pendapat mengenai lokasi makamnya. Sejarawan Ibnu Asakir (1105-1175) mengatakan, sang sufi gugur saat mengikuti jihad dalam melawan Kekaisaran Romawi Timur. Jenazahnya kemudian dimakamkan di sebuah pulau wilayah Bizantium.

Ada pula yang menyebut, kuburannya berada di Baghdad. Sumber lain menyatakan, tempat peristirahatan terakhirnya ialah Jablah, sebuah kota pesisir Suriah.

Sebagai seorang sufi dari kelompok tabiin, reputasinya dikenal luas. Banyak figur tasawuf terkemuka yang menyebutkan riwayat Syekh Ibrahim dalam karya-karyanya. Hal itu menandakan, pengaruh sosok yang berjulukan Abu Ishaq tersebut sangatlah besar bagi generasi-generasi salik yang datang sesudahnya.

 
Sebagai seorang sufi dari kelompok tabiin, reputasinya dikenal luas.
 
 

Rumi, misalnya, beberapa kali mengisahkan ahli zuhud itu dalam Matsnawi. Begitu pula dengan Fariduddin Attar (1145-1220), yang menuturkan hikmah-hikmah Abu Ishaq dalam Manthiqut Thair dan Tadzkiratul Auliya. Banyak buku lainnya yang memaparkan kisah pengembaraan hidup lelaki bijaksana ini. Sebut saja, Hilyatul Auliya (Juz I), Al-Bidayah wal Nihayah (Juz X), serta Al-I’lam (Juz I).

Seperti halnya narasi tentang para sufi, riwayat Syekh Ibrahim pun diwarnai berbagai cerita yang menakjubkan. Bagi sebagian kalangan, adanya nuansa “keajaiban” itu wajar adanya. Sebab, tokoh tersebut memang diyakini memiliki karamah.

Bagaimanapun, sketsa kehidupan sang syekh juga dapat diteliti secara apa adanya. Menurut Reynold A Nicholson dalam artikelnya, “Ibrahim b Adham”, para ahli sejarah dapat mengandalkan sumber-sumber dari sarjana Muslim terdahulu, semisal Ibnu Asakir atau Abu Nu’aim al-Isfahani (948-1038). Keduanya menuturkan, Ibrahim bin Adham lahir kira-kira pada tahun 112 Hijriyah. Namun, ada perbedaan mengenai lokasi kelahirannya.

Ibnu Asakir berpendapat, Ibrahim bin Adham lahir di Balkh. Sementara itu, al-Isfahani dalam Hilyatul Auliya mengisahkan, sang sufi lahir di Makkah ketika kedua orang tuanya sedang berhaji. Kisahnya bermula pada suatu musim haji.

 
Sang sufi lahir di Makkah ketika kedua orang tuanya sedang berhaji. Kisahnya bermula pada suatu musim haji.
 
 

Adham bin Manshur, seorang bangsawan kaya raya, berziarah ke Tanah Suci dengan didampingi istrinya tercinta. Di kota kelahiran Rasulullah SAW itu, perempuan tersebut melahirkan bayi yang akhirnya diberi nama Ibrahim.

Adham dengan suka cita membawa anaknya itu ke hadapan Ka’bah. Setiap berpapasan dengan jamaah yang sedang thawaf, lelaki dari Balkh ini selalu meminta mereka untuk mendoakan kebaikan bagi putranya.

Berbagai karangan menyebut, Ibrahim bin Adham pernah menjadi raja atau anak seorang raja Khurasan sebelum mendalami tasawuf. Akan tetapi, keterangan semacam itu tidak memiliki pijakan historis yang kuat.

N Hanif dalam Biographical Encyclopaedia of Sufis: Central Asia and Middle East (2002) mengungkapkan, orang pertama yang menyematkan status raja kepada sufi tersebut ialah Ibnu Husein al-Sulami. Bahkan, sarjana Muslim dari abad ke-10 Masehi itu menyatakan, Syekh Ibrahim pernah berjumpa dengan Nabi Khidir AS sehingga dirinya bertobat.

photo
ILUSTRASI Manuskrip yang menampilkan Munajat Syekh Ibrahim bin Adham. Menurut Hanif dalam buku Biographical Encyclopaedia of Sufis of South Asia, narasi tentang sufi tersebut masuk ke Nusantara via Persia. - (DOK PUTRAMELAYU)

Tema pertobatan sang mursyid kala masih muda juga disinggung Attar dalam Tadzkiratul Auliya. Sastrawan-sufi itu mengisahkan, pada mulanya Syekh Ibrahim sedang terlelap di atas ranjang istananya. Saat tengah malam itu, tiba-tiba ia terbangun karena mendengar suara berisik dari arah atap.

“Siapa itu!?” teriaknya.

“Aku sahabatmu,” jawab suara itu, “untaku telah hilang, dan aku sedang mencarinya kini.”

“Kurang ajar, apa kau sedang mempermainkanku!? Bagaimana orang mencari unta di atas atap?”

“Wahai orang yang lalai, apakah engkau mencari Allah dengan pakaian mewahmu, dan sambil berbaring di atas ranjang emas?” timpal suara itu.

 
Wahai orang yang lalai, apakah engkau mencari Allah dengan pakaian mewahmu, dan sambil berbaring di atas ranjang emas?
 
 

Mendengar jawaban tersebut, Ibrahim terhenyak. Hingga pagi menjelang, dirinya tidak tidur. Pikirannya terus merenungi makna kata-kata itu.

Bahkan hingga siang tiba, Ibrahim terus tenggelam dalam perenungan. Para menteri dan jajarannya bingung melihat raja mereka termenung, seperti sedang memikirkan suatu hal yang penting. Tiba-tiba, aula raja didatangi seorang lelaki tak dikenal. Alih-alih mengusirnya, para pengawal istana justru diam terpaku.

Wajah pria asing itu seperti memancarkan kewibawaan. Orang-orang kagum menyaksikannya. Lidah mereka seakan tercekat, tak bisa berkata-kata.

Lelaki yang tak diketahui namanya itu terus berjalan ke arah singgasana. “Apa yang engkau inginkan?” tanya Ibrahim.

“Aku datang ke karvansaray ini untuk menyampaikan sesuatu,” katanya.

“Ini istana raja, bukan karvansaray!” ujar Ibrahim dengan nada tersinggung. Raja Khurasan itu rupanya tidak terima, tempat tinggalnya disamakan dengan sebuah pondok penginapan untuk kaum musafir atau pedagang karvansaray.

“Baiklah, siapa yang memiliki istana ini sebelummu?”

“Bapakku!” jawab Ibrahim.

“Sebelum dia?”

“Kakekku!” tegasnya.

“Sebelumnya lagi?”

“Si fulan, dan fulan, lalu seterusnya,” sambung Ibrahim.

“Mereka semua pergi ke mana?” tanya orang misterius ini.

“Semuanya sudah tidak ada. Mereka telah mati.”

“Kalau begitu, bukankah tempat ini sebuah karvansaray? Orang-orang datang dan pergi. Kelak, engkau pun juga begitu,” ucap tamu tak diundang ini.

Setelah mengatakan itu, lelaki nan bijaksana tersebut pergi begitu saja. “Dia adalah Nabi Khidir AS,” jelas Attar kepada pembaca kitabnya ini.

Sejak perjumpaan itu, lanjutnya, Ibrahim bin Adham menyadari kekeliruannya. Selama ini, bangsawan Negeri Khurasan itu selalu membangga-banggakan diri dengan harta dan kekuasaan. Api kesadaran lalu menyala dalam dirinya. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan semua kekayaan duniawi, untuk kemudian berhijrah dalam jalan tasawuf.

photo
Situs yang disebut-sebut sebagai makam Syekh Ibrahim bin Adham di Jablah, Suriah. - (DOK SUFI WIKI)

Tujuan awalnya ialah Masjidil Haram. Usai melakukan haji, Syekh Ibrahim kembali mengembara. Menurut narasi Hilyatul Auliya, sang salik sempat bertandang ke Irak, tetapi tidak menemukan pekerjaan yang tepat untuk sekadar menyambung hidup.

Lantas, ia terus berjalan ke Syam. Di sanalah, dirinya memperoleh kerja sebagai buruh kebun. Penghasilannya untuk mencukupi makan harian saja. Sebab, yang menjadi fokusnya bukanlah pekerjaan, melainkan belajar ilmu dan hikmah dari alim ulama.

Jauh dari gemerlapnya dunia kian membuatnya bahagia. Suatu ketika, seseorang bertanya kepada Syekh Ibrahim, apa alasannya sehingga meninggalkan takhta dan kekayaan di Khurasan. Ia menjawab dengan penuh keyakinan, “Aku tidak menemukan kebahagiaan hidup kecuali di Syam. Di negeri inilah aku berkelana dengan membawa agamaku. Aku pun naik-turun puncak bukit (bekerja mencari nafkah –Red). Orang-orang mungkin mengira diriku aneh atau gila.”

 
Aku tidak menemukan kebahagiaan hidup kecuali di Syam. Di negeri inilah aku berkelana dengan membawa agamaku.
 
 

Ya, dalam setiap rihlahnya, ia pantang mengemis, apalagi meminta-minta kepada orang. Untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, ia selalu mencari nafkah dari hasil jerih payahnya sendiri. Selain profesi tukang kebun, Syekh Ibrahim juga pernah menjadi buruh petik saat musim panen dan penimba air sumur.

Beberapa daerah Syam pernah disinggahinya. Misalnya, pinggiran Sungai Sayhan (kini Turki selatan) atau Gaza, Palestina. Menurut al-Isfahani, ahli tasawuf itu diduga pernah mengikuti beberapa operasi militer Islam dalam membendung Bizantium.

Kisah-kisah jihadnya beberapa kali disebutkan dalam pelbagai anekdot tentangnya. Sufi tersebut juga dikisahkan, mengalami sakit perut sebelum meninggal di medan pertempuran.

Sebagian riwayat menyebut, Ibrahim bin Adham tidak menikah. Bagaimanapun, cerita yang dimuat dalam Tadzkiratul Auliya menyiratkan yang sebaliknya. Sang syekh dikisahkan pernah bertemu dengan anaknya yang bertahun-tahun ditinggalkannya.

Hingga kini, Ibrahim bin Adham terus menjadi inspirasi kebijaksanaan. Nama besarnya tersiar luas bahkan hingga ke Nusantara. Begitu pula dengan petuah-petuahnya, sebagaimana dicatat para salik dari generasi ke generasi.

 
Nama besarnya tersiar luas bahkan hingga ke Nusantara. Begitu pula dengan petuah-petuahnya, sebagaimana dicatat para salik dari generasi ke generasi.
 
 

Keikhlasannya yang istiqamah hanya untuk dekat dengan Allah SWT. Dikisahkan, pada suatu waktu dalam perjalanannya menuju Makkah Syekh Ibrahim melalui padang gurun. Tiga hari telah lewat, sementara ia tidak menemukan apa pun yang bisa dimakan.

Tiba-tiba, Iblis mendatanginya dan berbisik, “Untuk apa kamu dahulu meninggalkan istana dan kerajaanmu? Apakah kelaparan ini saja yang akhirnya kamu peroleh? Bukankah bisa berziarah (ke Tanah Suci) dengan penuh kenyamanan, didampingi para pengiring dan pengawal, tanpa harus bersusah-payah?”

Mendengar perkataan Iblis, Ibrahim mengangkat kedua tangannya sembari menangis, “Ya Allah,” katanya berdoa, “mengapa Engkau menunjuk musuh-Mu untuk menemui sahabat-Mu? Kumohon, datanglah untuk menolongku. Aku tidak akan mampu menyeberangi padang pasir ini tanpa pertolongan-Mu.”

Lalu, sebentuk suara menghampirinya, “Ibrahim, keluarkan apa-apa yang ada dalam kantungmu agar Kami mendatangkan apa-apa yang dimiliki Zat Yang Maha Tersembunyi.”

Ibrahim kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku. Ternyata, ada beberapa koin perak yang lama dilupakannya. Ia langsung membuang benda-benda itu. Seketika, Iblis melarikan diri. Allah kemudian mencukupkan Ibrahim dengan rezeki dari-Nya.


×