ILUSTRASI Pada zaman Rasulullah SAW, terdapat seorang sosok kontroversial, yakni Abdullah bin Abu Sarah. | DOK WIKIPEDIA

Kisah

05 Dec 2021, 04:31 WIB

Jejak Kelam Ibnu Abu Sarah

Kasus penipuan Abdullah akhirnya terbongkar setelah Nabi SAW menerima wahyu.

OLEH HASANUL RIZQA

Dalam sejarah dakwah Nabi Muhammad SAW, terdapat tokoh yang cukup kontroversial. Dialah Abdullah bin Abu Sarah atau Abdullah bin Sarah. Lelaki itu termasuk dari segelintir orang Arab pada masanya yang bisa membaca dan menulis.

Sosok yang juga akrab disapa Abu Yahya itu merupakan saudara sepersusuan Utsman bin Affan. Berbeda dengan sosok sahabat Nabi SAW yang berjulukan Dzun Nurain itu, dirinya cenderung membangkang. Alih-alih berwatak sami’na wa atha’na, putra dari seorang dedengkot kaum munafik itu beberapa kali membantah Rasulullah SAW. Padahal, kala itu ia sudah menyatakan iman dan Islam.

Ya, Abdullah menjadi Muslim sebelum peristiwa Penaklukan Makkah. Bahkan, ia turut serta dalam rombongan hijrah dari Makkah ke Madinah. Di Kota Nabi, dirinya sempat termasuk dalam jajaran para penulis wahyu.

Sebagai seorang juru tulis Nabi SAW, wajarlah bila ia menulis apa-apa yang memang diperintahkan oleh beliau. Sayangnya, akal dan batinnya mudah terjerumus rayuan setan. Prof Muhammad Ridha dalam Sirah Nabawiyah menukil beberapa cerita dari Sirah al-Halabiyah.

Dikisahkan, Abdullah bin Abu Sarah pernah menghadap Rasulullah SAW. Beliau lantas mendiktekan, “samii’an bashiiraan". Namun, yang ditulisnya malahan “’aliman hakiiman". Tidak hanya itu. Tatkala beliau mendiktekan, “’a liman hakiiman,” ia dengan sengaja menulis “ghafuuran rahiiman".

Pada suatu ketika, turunlah wahyu dari Allah SWT, yakni Alquran surah al-Mu’minun ayat 12 hingga 14. Rasulullah SAW kemudian menyuruh Abdullah untuk menuliskan ayat-ayat yang dilantunkan beliau itu.

Pada menjelang ujung ayat ke-14 dari surah al-Mu’minun, Abu Yahya tidak bisa menahan lisannya sehingga terucaplah kata-kata, “Fatabaarakallaahu ahsanul khaaliqiin” (Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik).

Padahal, saat itu Nabi SAW belum mendiktekannya. Lalu, beliau bersabda, “Tulislah itu, memang begitulah yang diturunkan oleh Allah.” Sesudah tugasnya selesai, dengan bersumbar Abdullah mengatakan kepada dirinya sendiri, “Kalau Muhammad adalah nabi yang diturunkan kepada wahyu, maka aku pun nabi yang dituruni wahyu.”

Lebih lanjut, ia nekat memanipulasi ayat Alquran. Bahkan, dengan sengaja digembar-gemborkannya bahwa ayat tertentu adalah hasil “gubahan” dirinya. Tentu saja, kaum musyrikin dan munafik gembira dengan kehebohan itu.

Kasus penipuan Abdullah akhirnya terbongkar setelah Nabi SAW menerima wahyu, yakni surah al-An’am ayat 93. Terjemahan ayat itu sebagai berikut.

Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau yang berkata, ‘Telah diwahyukan kepadaku,’ padahal tidak diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, ‘Aku akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.’ (Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Pada hari ini, kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.”

 
Abdullah sempat kabur dari Madinah karena takut akan hukuman.
 
 

Abdullah sempat kabur dari Madinah karena takut akan hukuman. Sesampainya di Makkah, ia justru terus menyebarkan kebohongan di tengah kaum Quraisy. Katanya kepada mereka, “Sungguh, aku telah memalingkan Muhammad sesukaku. Ia mendiktekan kepadaku, ‘’aziizun hakim’, maka aku mengatakan 'atau ’aliimun hakim'. Lalu ia katakan, ‘ya semuanya benar.' Nah, apa pun yang kukatakan, ia menimpali, ‘Tulislah, memang seperti itu yang diturunkan oleh Allah'.”

Dengan turunnya al-An’am ayat 93, hatinya tidak lagi tenang. Abdullah kemudian ingin sekali bertobat. Untuk itu, ia meminta pertolongan dari saudara sepersusuannya, Utsman bin Affan. Sang Dzun Nurain diminta bantuan agar kaum Muslimin dan Rasulullah SAW bersedia memaafkannya.

Waktu itu, umat Islam sukses dalam Fath Makkah. Pembebasan kota tempat Ka’bah berada itu berlangsung tanpa pertumpahan darah. Bagaimanapun, keadilan tetap harus ditegakkan.

Maka, saat itu ada beberapa orang yang telah dinyatakan sebagai buronan. Sebab, mereka sudah sangat zalim terhadap kaum Muslimin. Salah seorang dalam “daftar hitam” itu ialah Abdullah bin Abu Sarah.

Mendengar kabar itu, makin kencanglah upaya Abdullah untuk membujuk Utsman agar menolongnya. Utsman tidak sampai hati sehingga membawa persoalan ini ke hadapan Nabi. Ada pula para sahabat lainnya yang turut menyaksikan pertemuan tersebut.

 
Mendengar kabar itu, makin kencanglah upaya Abdullah untuk membujuk Utsman agar menolongnya.
 
 

Awalnya, beliau hanya diam, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Beberapa lama kemudian, Rasulullah SAW mengucapkan, “Ya.” Ini dimaknai Utsman bahwa beliau telah memaafkan Abdullah.

Sesudah Utsman pamit dan pergi, Nabi SAW berkata kepada para sahabat yang lain. Beliau heran, mengapa mereka tidak seketika menangkap Abdullah bin Abu Sarah, yang keberadaannya sudah diketahui berkat informasi dari Utsman. Mereka kemudian mengaku, saat itu justru menanti-nanti instruksi dari beliau sendiri.

Diamnya Rasulullah SAW rupanya dimaknai oleh mereka sebagai “ketiadaan perintah". Demikianlah, “salah paham” itu ternyata menjadi jalan bagi Abdullah untuk memperoleh kesempatan kedua.


×