Pembeli membawa cabai di atas kepalanya di Pasar Senen, Jakarta, Senin (1/2/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Januari 2021 sebesar 0,26 persen, lebih lambat dibandingkan Desember 2020 yang sebesar 0,45 persen maupun Januari 2020 yang seb | MUHAMMAD ADIMAJA/ANTARA FOTO

Ekonomi

02 Dec 2021, 08:32 WIB

Inflasi Terasa, Permintaan Konsumen Mulai Naik

BPS mencatat inflasi inti yang menggambarkan interaksi permintaan dan penawaran sebesar 0,17 persen pada November 2021.

JAKARTA -- Laju inflasi sepanjang November 2021 tercatat sebesar 0,37 persen atau yang tertinggi sejak awal tahun ini. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menilai laju inflasi yang terus meningkat menunjukkan adanya kenaikan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa.

"Inflasi cukup tinggi menandakan sudah mulai ada perbaikan ekonomi untuk transaksi barang dan jasa yang semakin banyak. Itu juga menjadi indikasi tanda pemulihan ekonomi," kata Margo dalam konferensi pers, Rabu (1/12).

Salah satu penyumbang utama inflasi yakni kenaikan harga bahan pangan pokok, seperti minyak goreng yang memberikan andil inflasi 0,08 persen. Kemudian, telur ayam ras sebesar 0,06 persen serta daging ayam ras sebesar 0,02 persen. Selain itu, tarif angkutan udara juga naik dan menyumbang inflasi 0,05 persen. Ia menilai, kenaikan harga didorong oleh kenaikan permintaan masyarakat yang belum diimbangi oleh pasokan.

"Apalagi, mobilitas masyarakat sudah mulai membaik. Jadi, kesimpulannya, faktor permintaan lebih dominan memengaruhi inflasi pada November," kata Margo.

Berdasarkan komponen inflasi, BPS mencatat inflasi inti yang menggambarkan interaksi permintaan dan penawaran sebesar 0,17 persen pada November 2021. Angka itu naik dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 0,07 persen. Inflasi inti juga tercatat memberikan andil kepada inflasi umum pada November sebesar 0,11 persen.

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ketersediaan pangan saat perayaan Natal dan tahun baru aman dan terkendali. Hal itu didasarkan pada prognosis ketersediaan dan kebutuhan pangan yang menunjukkan surplus untuk 11 komoditas. 

Kepala Pusat Distribusi dan Akses Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Risfaheri, mengatakan, masyarakat dapat menyambut akhir tahun dengan aman meskipun di tengah pandemi yang masih berlangsung. Kementan telah mengantisipasi potensi kenaikan permintaan bahan pangan pada momentum akhir tahun dengan melakukan pemantauan stok dan harga pangan secara berkala.

“Secara nasional, stok pangan kita aman. Kita terus melakukan pemantauan agar tidak terjadi kelangkaan pasokan yang menyebabkan lonjakan harga yang tidak terkendali,” ujar Risfaheri.

 

Berdasarkan prognosis pangan, neraca beras mengalami surplus hingga 9,3 juta ton dengan perhitungan perkiraan ketersediaan dari produksi dalam negeri 2021 ditambah sisa stok 2020 sehingga mencapai 39 juta ton. Sementara itu, perkiraan kebutuhan dalam negeri sebesar 29,6 juta ton.

Ketersediaan komoditas lainnya, seperti cabai dan telur, juga mencukupi dan masih surplus hingga akhir Desember 2021. Cabai besar surplus sebesar 17 ribu ton, cabai rawit 14 ribu ton, dan telur ayam ras 23 ribu ton.

Sepanjang  2021, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan, kebutuhan beras nasional dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri melalui serapan Bulog untuk gabah dan beras petani. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan, izin impor beras umum terakhir kali diterbitkan pada 2018 untuk keperluan cadangan beras pemerintah. Kemudian, sejak 2019 hingga akhir 2021, Kementerian Perdagangan tidak menerbitkan izin impor beras untuk keperluan umum.

Menurut Lutfi, pemerintah akan menjaga kekuatan stok beras nasional untuk menjaga keseimbangan dan ketersediaan pasokan beras di pasar. Hal itu dilakukan terutama pada masa pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Badan Pusat Statistik (bps_statistics)

Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Rusli Abdullah memperkirakan, laju inflasi pada Desember tahun ini akan lebih rendah dibandingkan dengan inflasi November. Hal itu merupakan dampak kebijakan PPKM Level 3 pada masa Natal dan tahun baru yang memperketat aktivitas masyarakat.

"Saya kira inflasi Desember 2021 akan lebih rendah dibandingkan November karena PPKM level 3 itu akan menggerus dan memperketat mobilitas masyarakat," kata Rusli.

Meski diyakini bakal menurunkan tingkat permintaan konsumen, Rusli menilai kebijakan itu positif demi menjaga situasi pandemi di Indonesia yang terus melandai. Pembatasan-pembatasan yang dilakukan pemerintah pun bukan menutup secara total sehingga kegiatan ekonomi masih dapat berjalan.


×