Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

02 Dec 2021, 03:30 WIB

Kehilangan Orang Tercinta

Sabar adalah cahaya. Dia menuntun jiwa yang sedih, resah, dan galau.

OLEH USTAZ BOBBY HERWIBOWO 

Sabar adalah cahaya. Dia menuntun jiwa yang sedih, resah, dan galau saat menyusuri terowongan gelap nan panjang. Namun, bagi mereka yang percaya, di sana akan ada cahaya penuntun. Menuntun langkah untuk keluar dari nestapa.

Sabar adalah kekuatan. Kekuatan yang menopang dari keterpurukan. Bak pegas, ia akan melontarkan pemangkunya menggapai derajat mulia di sisi Allah. 

Tak mudah mendefinisikan sabar. Tak ada bangku kuliah dan sekolah yang mewisudanya. Namun, kesabaran itu membawa pemiliknya untuk bersahabat dengan Allah. Sebab, Allah cinta orang sabra (QS 3: 146, QS 2: 153).

Sabar menuntun langkahku dalam sebuah reality show. Di sebuah stasiun TV, saya memandu acara. Sebagai host sekaligus narasumber. Berkeliling mencari semua orang yang sedih hatinya, susah hidupnya. Menggali dari mereka kenestapaan hidup. Membantu mereka keluar dari masalah.

Dan, saya pun sukses menggali kisah duka puluhan talents dengan air mata menetes di pipi mereka. Sungguh berbeda kali itu. Tim produksi membawaku ke barat Jakarta. Set dialog di pinggir rel kereta, dengan permukiman padat penduduk. Di sana ada seorang ibu janda dengan seorang anak.

"Dia adalah sosok perempuan tangguh," ujar produser padaku. Aku duduk di dekatnya. Mendengar kisahnya. Menggali emosinya. Berharap, air mata menetes di pipinya!

Wanita itu pun memulai kisahnya. “Dulu kami tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan. Di perumahan orang berpunya. Suami saya manajemen kelas atas di perusahaan minuman energi, peningkat stamina. Di mana-mana ada minuman tersebut. Di kantor, di ruang rapat, di mobil, bahkan di rumah kami.”

“Karier bagus, dan kami pun bahagia. Serba berkelimpahan. Namun takdir Allah berlaku. Suami saya jatuh sakit. Gagal ginjal. Dokter menengarai bahwa itu disebabkan konsumsi yang berlebihan dari minuman energi tersebut. Sekian lama dirawat, suami saya wafat.”

Wanita itu menjeda pembicaraan. Saya diam tak berkomentar. Saya coba menerka perasaannya, ia pasti sedih. Dan saya berharap ia menangis. Namun tidak! Wanita itu tegar. Ia hanya menghela nafas dalam.

“Kami sekeluarga baru pulang dari pemakaman,” lanjutnya. “Saya dan keempat anak teramat sedih. Letih usai mengurus jenazah belum habis. Tetiba saya terhenyak dengan wajah putra pertama saya yang menguning.”

“Saat tiba di rumah sakit, ternyata ia keracunan darah. Beberapa hari dirawat putra pertama saya pun meninggal. Rupanya ujian Allah belum usai. Anak kedua dan ketiga saya pun menyusul. Mereka semua pergi. Hanya kami berdua yang tersisa.”

“Dulu saya kesal. Dulu saya marah. Kepada Allah, saya bertanya kenapa hidup saya seperti ini? Namun, hingga akhirnya saya mengerti bahwa Allah memang menginginkan ini! Menginginkan agar aku terus mencintai-Nya. Mengadu hanya kepada-Nya. Bersandar pada sandaran-Nya. Hidup tidak lagi mengeluh, dan terus bersabar,” ujarnya.

Dalam episode itu, saya tak bicara banyak atau bertanya. Saya menyimak kisah ketangguhan yang luar biasa dari seorang ibu janda ini. Tak terasa, air mata menetes deras di pipi saya. Bukan talent yang menangis. Namun, host sekaligus narasumber yang diaduk-aduk emosinya. Allahu Akbar!


×