Presiden Iran Ebrahim Raisi ( tengah) tiba dalam sesi parlemen Iran di Tehran, Selasa (16/11/2021). Pemerintah Iran membuka kembali pemulihan perjanjian nulir. | EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH

Kisah Mancanegara

30 Nov 2021, 03:45 WIB

Mereka Kembali Berkumpul di Wina

Penarikan diri sepihak AS membuatnya tak lagi bisa bergabung dalam perundingan nuklir.

OLEH KAMRAN DIKARMA

Para perunding tentang nuklir Iran kembali berkumpul di Palais Coburg, hotel mewah di Wina, Austria, Senin (29/11). Mereka ingin memulihkan kembali kesepakatan nuklir Iran yang dicapai pada Juli 2015, yaitu Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA)

Namun, tak seperti kesapakatan JCPOA sebelumnya, ada satu kursi yang kosong. Tak ada Amerika Serikat. Hanya ada Iran, Rusia, Cina, Prancis, Jerman, dan Inggris. Tempat pertemuan, Palais Coburg, adalah hotel yang sama ketika JCPOA ditandatangani.

AS memang tak bergabung, setelah AS dipimpin Donald Trump menarik negaranya dari JCPOA pada November 2018. Trump berpandangan, JCPOA "cacat" karena tak turut mengatur tentang program rudal balistik dan peran Iran di kawasan.

Trump kemudian memberlakukan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran. Sejak saat itu Iran tak mematuhi ketentuan yang tertuang dalam JCPOA, termasuk perihal pengayaan uranium.

photo
Pembangkit daya nuklir Bushehr di bagian selatan kota Bushehr, Iran. - ( AP Photo/Mehr News Agency, Majid Asgaripour)

Penarikan diri sepihak AS membuat mereka tidak lagi bisa bergabung dalam perundingan kali ini. Namun, Presiden AS Joe Biden telah mengisyaratkan keinginan bergabung. Maka utusan khusus AS untuk Iran, Robert Malley, hanya bisa bergabung dalam perundingan tidak langsung. Diplomat negara lain akan bertindak sebagai penengah.

Di Israel, Perdana Menteri Naftali Bennett ternyata khawatir bahwa AS akan mencabut sanksinya terhadap Iran. “Israel sangat prihatin dengan kesediaan untuk mencabut sanksi dan mengizinkan aliran miliaran dolar ke Iran sebagai imbalan atas pembatasan yang tak memadai pada program nuklir,” kata Bennett pada Ahad (28/11), dikutip laman Al Arabiya.

Israel, kata dia, sudah menyampaikan hal itu kepada para pihak yang terlibat dalam pembicaraan pemulihan JCPOA. “Ini adalah pesan yang kami sampaikan dengan segala cara, baik kepada Amerika maupun negara-negara lain yang sedang bernegosiasi dengan Iran,” ujar Bennett.

Pekan lalu, Bennett mengisyaratkan kesiapan negaranya meningkatkan konfrontasi dengan Iran. Dia menegaskan, Israel tidak akan terikat dengan kesepakatan nuklir baru yang kini tengah dinegosiasikan Iran dan AS.

“Israel tidak diwajibkan oleh kesepakatan itu,” ujarnya.

photo
Foto satelit dari Planet Labs Inc tertanggal Senin (22/2) ini menunjukkan konstruksi di Pusat Riset Nuklir Shimon Peres Negev tak jauh dari Dimona, Israel. Lokasi penuh kerahasiaan yang dicurigai sebagai lokasi pengembangan senjata nuklir itu tengah menjalani rekonstruksi besar-besaran menurut analisis Associated Press. - (Planet Labs Inc. via AP)

Pada Ahad, Inggris dan Israel berjanji akan bekerja sama penuh untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. “Jam terus berdetak, yang meningkatkan perlunya kerja sama erat dengan mitra dan teman kami untuk menggagalkan ambisi Teheran,” kata Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss dan Menlu Israel Yair Lapid dalam sebuah artikel bersama di surat kabar the Telegraph pada Ahad.

Kedua menlu itu dijadwalkan menandatangani perjanjian kerja sama lintas bidang pada Senin. Keamanan siber, teknologi, termasuk pertahanan merupakan beberapa bidang yang masuk dalam kesepakatan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh pernah berujar, penghapusan sanksi AS dalam pembicaraan pemulihan JCPOA sangat penting bagi negaranya. “Yang penting bagi kami adalah bagaimana mencapai kesepakatan yang baik di Wina. Dari titik mana pembicaraan akan dimulai di Wina, kurang penting,” kata Khatibzadeh dalam sebuah konferensi pers pada 15 November lalu.

Akankah JCPOA tahap kedua akan lahir? Yang jelas, jalan kali ini lebih menanjak. Terlebih lagi, tanpa AS di dalamnya.

Sumber : Reuters


×