Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

30 Nov 2021, 12:09 WIB

Akhlak Alquran

Akhlak Alquran bermakna bahwa Rasulullah SAW mengamalkan Alquran.

OLEH SIGIT INDRIJONO

Allah SWT berfirman, “Dan engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS al-Qalam [68]: 4).

Berkaitan dengan ayat tersebut, pada Tafsir Ibnu Katsir diterangkan sebagaimana tertulis dalam Kitab Shahihain bahwa Sa’id bin Hisyam pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW dan dijawab, “Akhlak beliau adalah Alquran.”

Akhlak Alquran bermakna bahwa Rasulullah SAW mengamalkan Alquran. Sehingga, yang diperintahkan dalam Alquran beliau pasti mengerjakannya, dan yang dilarang dalam Alquran beliau pasti meninggalkannya.

Di samping itu, akhlak Rasulullah SAW yang telah dikaruniakan oleh SWT, seperti jujur, malu, demawan, berani, pemaaf,  tawadhu, dan semua akhlak terpuji.

Selain ayat di atas, beberapa ayat Alquran menyebutkan beberapa akhlak Rasulullah SAW, yaitu lemah lembut (QS Ali Imran [3]: 159); berempati terhadap penderitaan orang, menginginkan keimanan dan keselamatan orang, penyantun dan penyayang terhadap orang beriman (QS at-Taubah [9]: 128).

Rasulullah SAW adalah suri teladan kita (QS al-Ahzab [33]: 21), maka hendaknya kita berakhlak sesuai yang dicontohkan oleh beliau. Rasulullah SAW bersabda dalam beberapa hadis berikut yang menunjukkan keutamaan akhlak yang baik.

Pertama, “Kebajikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah sesuatu yang bersemayam di dalam dadamu dan kamu tidak suka jika manusia mengetahuinya.” (HR Muslim).

Kedua, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Hakim dan Baihaqi). Ketiga, “Sesungguhnya seorang Mukmin yang berakhlak baik akan mencapai derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat malam.” (HR Abu Dawud). Keempat, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik adalah yang paling banyak menyebabkan manusia masuk ke dalam surga.” (HR Tirmidzi).

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Kitab Madarijus Salikin menerangkan bahwa akhlak yang baik bersumber pada empat sendi. Pertama, sabar yang mendorongnya untuk menguasai diri, manahan marah, tidak mengganggu orang lain, tidak gegabah, dan tidak tergesa-gesa.

Kedua, kehormatan diri yang menjadikannya untuk menjauhi hal-hal yang hina dan buruk, berupa perkataan maupun perbuatan; menjadikannya memiliki rasa malu yang merupakan pangkal segala kebaikan dan mencegahnya dari kekejian, bakhil, dusta, gibah, dan namimah.

Ketiga, keberanian yang mendorongnya pada kebesaran jiwa, rela berkorban, memberikan sesuatu yang disukainya. Keempat, adil yang menjadikannya berada di pertengahan, tidak meremehkan dan tidak berlebih-lebihan.

Akhlak yang baik secara hakiki adalah naluri manusia. Namun, harus disadari bahwa ada yang harus diupayakan untuk dimiliki, tentu juga dengan upaya untuk meninggalkan atau menjauhi akhlak yang jelek, serta berdoa seperti berikut ini.

Allahummahdinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdii li-ahsanihaa illaa anta, washrif ‘annii sayyi’ahaa, laa yashrifu ‘annii sayyi’ahaa illaa anta. (Wahai Allah, tunjukkanlah aku kepada akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukkannya kecuali Engkau. Dan palingkanlah dari kejelekan akhlak, tidak ada yang dapat memalingkannya kecuali Engkau).” (HR Muslim).


×