KH Misbah Zainul Mustofa. | DOK WORDPRESS

Mujadid

28 Nov 2021, 09:49 WIB

KH Misbah Zainul Mustofa, Gigih Berdakwah Lewat Tulisan

KH Misbah Zainul Mustofa dikenal sebagai penulis dan penerjemah kitab-kitab klasik

 

 

 

Kalangan alim menyebarkan syiar Islam tidak hanya melalui lisan, tetapi juga tulisan. Di Nusantara, para ulama berkontribusi dalam memperkaya khazanah literatur. Salah seorang di antaranya ialah KH Misbah Zainul Mustofa.

Kaum Muslimin, khususnya warga Nahdliyin, mengenangnya sebagai seorang pengasuh Pondok Pesantren al-Balagh, Bangilan, Tuban, Jawa Timur. Selama hidupnya, Mbah Misbah banyak menulis teks-teks keagamaan. Di samping itu, paman tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Mustofa Bisri atau Gus Mus tersebut juga gemar mengalihbahasakan buku-buku penting karya sejumlah ulama besar. Karena itu, dirinya dikenal sebagai penulis dan penerjemah kitab yang paling produktif di Tuban.

Kiai Misbah lahir pada 5 Mei 1919 di Kampung Sawahan, Palen, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sumber lain menyebutkan, sosok tersebut lahir pada tahun 1916. Ia merupakan putra dari Haji Zainul Mustofa, seorang penyokong dakwah yang juga pengusaha kain batik. Adapun ibundanya bernama Hajjah Khadijah.

Haji Zainul sangat dekat dengan kaum ulama setempat. Selain mencintai ilmu-ilmu agama, kakek Gus Mus ini juga dikenal begitu dermawan. Sering kali tokoh Rembang ini bersilaturahim dengan para mubaligh sembari membawakan hadiah untuk mereka.

Dari garis ibu, Mbah Misbah memiliki keturunan Makassar. Bahkan, apabila ditelusuri lebih jauh, dirinya masih bertautan nasab dengan Sultan Hasanuddin, salah seorang raja Gowa yang berjuang dalam mengusir penjajah. Hajjah Khadijah merupakan putri dari pasangan Aminah dan E Zajjadi. Lelaki itu adalah anak dari E Syamsudin dan Ibu Datuk Djijah, bangsawan Makassar.

Meskipun dari keluarga yang cukup berada, Kiai Misbah sejak kecil memiliki watak yang jauh dari manja. Kedua orang tua membimbingnya agar menjadi pribadi yang penuh disiplin. Keluarganya selalu dekat dengan alim ulama. Alhasil, Misbah pun tertempa menjadi pembelajar yang tekun akan ilmu-ilmu agama.

Pada 1923, Misbah bersama dengan tiga orang saudaranya mengiringi orang tua pergi ke Tanah Suci. Perjalanan ke Makkah al-Mukarramah ditempuhnya melalui jalur laut. Kala itu, mereka berangkat dari Pelabuhan Rembang dengan menumpangi sebuah kapal besar. Berbulan-bulan kemudian, kapal tersebut akhirnya mendarat di pesisir Jazirah Arab.

Saat itu, Misbah masih berusia tiga-setengah tahun. Saat berhaji, mulanya semua anggota keluarga baik-baik saja. Namun, Zainul Mustofa mulai menunjukkan gejala sakit. Bahkan, ayahanda Misbah ini terpaksa ditandu saat melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Begitu pula tatkala beribadah mabit di Mina, thawaf dan sai.

Rangkaian haji akhirnya tuntas dikerjakan. Haji Zainul Mustofa dan keluarganya bertolak ke Jeddah, untuk kemudian pulang ke Tanah Air. Sayangnya, keadaan lelaki tua itu tidak kunjung membaik. Saat kapal akan berangkat, bapak Kiai Misbah ini meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Jenazahnya kemudian dipercayakan kepada seorang syekh setempat untuk diurus. Pihak keluarga menyerahkan uang sebesar Rp 60 untuk keperluan ongkos dan sewa tanah permakaman di sana.

Karena itu, sampai saat ini, pihak keluarga tidak mengetahui persis di mana letak makam Haji Zainul Mustofa. Walupun bersedih hati lantaran ditinggal sang ayah, Misbah tetap tumbuh menjadi anak yang tangguh. Hatinya kuat dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan.

Rihlah keilmuan

Sebelum mendalami ilmu-ilmu agama di sejumlah pesantren, Misbah kecil sempat menempuh pendidikan di lembaga formal. Dalam beberapa tahun, dirinya belajar di sebuah sekolah rakyat (SR) di Rembang. Barulah kemudian, anak ini menyusul kakaknya, Bisri Mustofa, yang terlebih dahulu menekuni dunia pesantren.

Kakak beradik ini nyantri di Pondok Pesantren Kasingan, Rembang. Lembaga itu diasuh KH Kholil bin Harun. Di pesantren itulah, Misbah mulai tertarik pada bidang ilmu tata bahasa Arab, seperti nahwu, sharaf, dan lain-lain. Di antara kitab-kitab yang dipelajarinya adalah Jurumiyah, Imriti, Maqsud, dan Alfiyah.

Selama menjadi santri KH Kholil, Misbah telah mengkhatamkan kitab karangan Ibnu Malik itu sebanyak 17 kali. Hal itu menunjukkan, dirinya sangat bersungguh-sungguh dalam mengkaji gramatika bahasa Arab. Karena itu, di kemudian hari, ia piawai menerjemahkan banyak kitab dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia.

Setelah belajar di Pesantren Kasingan, Misbah melanjutkan rihlah keilmuannya ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari menjadi pembimbing mereka serta para santri setempat. Dengan bekal ilmu yang telah dikuasainya, Misbah terlihat mencolok daripada kebanyakan murid Tebuireng lainnya.

Karena itu, di Pesantren Tebuireng ini Misbah justru diminta untuk mengajarkan ilmunya kepada teman-teman sebaya. Materi yang diajarkannya ialah kandungan kitab Alfiyah karya Ibnu Malik. Dalam melaksanakan tugasnya, ia menerapkan metode yang dilaluinya saat masih mondok di Kasingan.

Di Pondok Pesantren Tebuireng, Misbah kemudian juga mendalami ilmu hadis. Ia kerap membaca kitab-kitab karya Imam Bukhari dan Imam Muslim. Gagasan-gagasan dari KH Hasyim Asy’ari juga banyak memengaruhi pemikirannya dalam menentukan hukum dan mengambil rujukan.

Usai menimba ilmu di Tebuireng, Misbah akhirnya pulang ke kampung halamannya. Sementara itu, usianya telah matang. KH Ridhwan, seorang pengasuh Pondok Pesantren al-Balagh di Karang Tengah, Bangilan, Tuban, lalu mengambilnya sebagai menantu. Kiai Misbah dinikahkan dengan putrinya yang bernama Masruroh. Sesudah menikah, pasangan ini dikaruniai lima orang anak, yaitu Syamsiah, Hamnah, Abdullah Badik, Muhammad Nafis, dan Ahmad Rafiq.

Kiai Ridhwan juga meminta menantunya itu untuk ikut mengajar di Pesantren al-Balagh. Keseriusan dan kepiawaiannya dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama diperhatikan dengan saksama oleh sang mertua. Hingga akhirnya, seluruh pengelolaan pondok pesantren tersebut dipercayakan kepada Kiai Misbah. Dengan mengharapkan ridha Allah, ia pun menerima amanah yang besar ini.

Seperti pengajaran di pesantren tradisional pada umumnya, metode bandongan dan sorogan juga diberlakukan di al-Balagh. Dalam mengajar, Kiai Misbah menunjukkan watak tegas. Ia tak segan-segan memarahi santri yang tidak kunjung bisa memahami atau menghafal pelajaran yang telah diberikan.

Dalam setiap periode, para santri yang datang untuk belajar di Pesantren al-Balagh hanya berkisar antara 20 hingga 30 orang. Kiai Misbah memang tidak pernah memiliki santri dalam jumlah yang banyak, semisal ratusan orang. Dengan begitu, metode pengajarannya bisa lebih terfokus.

Saat mengasuh pesantren, ia cenderung berperan sebagai penggerak kaderisasi. Salah seorang santrinya yang di kemudian hari menjadi ulama besar ialah KH Abd Moehaimin Tamam. Sosok ini dikenang sebagai pendiri Pondok Pesantren as-Salaam, Bangilan, Tuban. Tidak hanya dirinya. Masih banyak santri Kiai Misbah yang juga meneruskan dakwah serta perjuangannya.

Prolifik

Selama mengasuh Pesantren al-Balagh, KH Misbah Zainul Mustofa menulis banyak teks keagamaan. Tidak sedikit pula karyanya yang menjadi bacaan wajib di banyak pesantren. Tulisan-tulisannya menggunakan bahasa Indonesia atau Jawa, termasuk yang beraksara Arab-Pegon.

Kiai Misbah memang dikenal sebagai pemikir dan penulis yang produktif. Dalam penelitiannya yang berjudul “KH Misbah Ibn Zainul Musthafa (1916-1994 M): Pemikir dan Penulis Teks Keagamaan dari Pesantren”, Islah Gusmian menjelaskan, tokoh ini mulai menekuni dunia literasi bersama kakaknya, KH Bisri Mustofa. Keduanya bahkan mencetak sendiri karya-karya masing-masing.

Menurut Islah, buku-buku yang telah dicetak itu kemudian dijual ke berbagai toko kitab di sekitar Bangilan dan Rembang. Selain dipublikasikan sendiri, Mbah Misbah juga mengirimkan naskah tulisan-tulisannya ke berbagai penerbit.

Salah satu putra Kiai Misbah, Muhammad Nafis mengungkapkan, dalam sehari Kiai Misbah bisa menulis dan menerjemahkan buku tidak kurang dari 100 lembar. Begitu sudah menciptakan suatu naskah utuh, ia lalu menjual karyanya itu kepada penerbit. Jadi, tidak dengan sistem royalti.

Hal itu, menurut Nafis, dilakukan Mbah Misbah untuk menjaga keikhlasannya dalam menulis. Itu supaya dirinya tidak sibuk memikirkan atau mengharapkan royalti. Yang dipikirkannya ialah terus membaca, menulis, dan akhirnya menyebarkan ilmu-ilmu via tulisan.

Kiai Misbah sebenarnya juga cukup sering memberikan ceramah keagamaan di berbagai tempat. Namun, berdakwah melalu lisan menurutnya kurang efektif pada masa itu dan jangkauannya terbatas. Oleh karena itu, Kiai Misbah memilih untuk berdakwah melalui tulisan (da’wah bil qalam).

Setidaknya, Mbah Misbah telah menulis lebih dari 200 kitab. Itu membciarakan berbagai bidang keilmuan Islam. Dalam disiplin fikih, misalnya, ia menghasilkan karya-karya Taqrib, Al-Muhadzab, Aqimus Sholah, dan Safinatun Najah.

Dalam bidang ilmu gramatika Arab, Kiai Misbah menulis Alfiyah Kubro, Jurumiyyah, Sulam al-Nahwi, Nazhom Maqsud, serta Isroful Ibad. Tidak hanya itu, sang penulis juga melahirkan banyak karya dalam bidang tasawuf. Ia menerjemahkan kitab-kitab karangan ulama besar untuk dikaji dan dipelajari di pesantren. Di antara kitab-kitab tasawuf yang telah diterjemahkannya  adalah Ihya’ Ulumuddin, Al-Hikam, dan Jam’ul Jawami’.

Sementara itu, dalam bidang tafsir, Kiai Misbah menerjemahkan dua kitab tafsir besar ke dalam bentuk bahasa Indonesia, yakni Tafsir Baidlowie dan Tafsir Jalalain. Selain mengalihbahasakan, ia juga menulis kitab-kitab tafsir karangannya sendiri, yakni Al-Iklil fii Mana’it Tanzil dan Tajul Muslimin. Semuanya ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab-Pegon.

 

Tegas Dalam Berprinsip

 

KH Misbah Zainul Mustofa berpulang ke rahmatullah pada 18 April 1994 dalam usia 78 tahun. Tidak hanya meninggalkan istri, anak-anak, keluarga tercinta, atau para santri dan muridnya. Dengan wafatnya, ia juga berpisah dengan beberapa naskah kitab karangannya yang belum sempat terselesaikan. Salah satunya ialah Tajul Muslimin.

Selama hidupnya, Kiai Misbah selalu bersemangat untuk terus menulis kitab karangan dan terjemahan. Tidak ada waktu kosong yang ia sia-siakan dalam hidupnya. Hal ini lah yang patut diteladani oleh generasi Muslim saat ini.

Yang juga menjadi kenangan dari tokoh ini ialah keteladanannya. Ulama yang akrab disapa Mbah Bah ini merupakan sosok kiai yang tegas, lugas, dan istikamah dalam memegang prinsip. Dalam penelitiannya yang berjudul “KH Misbah Ibn Zainul Musthafa (1916-1994 M): Pemikir dan Penulis Teks Keagamaan dari Pesantren”, Islah Gusmian menjelaskan, ketegasan sikap Mbah Bah tampak ketika berpolemik dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Waktu itu, pokok perdebatan mereka seputar masalah bank di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

Pada 1992, Kiai Misbah mengirim surat kepada Gus Dur yang saat itu menjadi Ketua Umum Pengurus Besar NU. Dalam suratnya, Mbah Misbah mengkritik dengan tajam rencana pendirian Bank Perkreditan Rakyat Nahdlatul Ulama (BPR NU) oleh PBNU.

Pada masa itu, hasil Muktamar NU ke-28 di Krapyak Yogyakarta memang telah mengamanatkan kepada PBNU untuk meningkatkan pembangunan ekonomi warga NU. Sebab, disadari bahwa warga nahdliyin termasuk kelompok yang paling lemah di bidang ekonomi.

Seperti dikutip Martin Van Bruinessen, program yang paling penting dan relevan pada waktu itu adalah pendirian BPR NU yang menyediakan kredit kecil kepada para pengusaha kecil dan petani yang berlatar belang NU, meskipun BPR-BPR tersebut tidak bebas dari bunga.

Padahal, menurut Islah Gusmian, harus diakui bahwa soal bunga bank di kalangan ulama NU merupakan isu yang sensitif meskipun Muktamar NU pernah memperbolehkan bunga bank milik pemerintah.

Terkait isu bunga bank ini, menurut Islah, Kiai Misbah termasuk pihak yang tidak setuju. Dalam suratnya yang dikirim ke PBNU saat itu, Kiai Misbah menyatakan sikapnya tentang pelarangan mendirikan bank. Bahkan, disebutnya bahwa sejumlah unsur PBNU saat itu telah berubah dari tujuan awal pendirian NU.

“Kalau orang yang dipucuk pimpinan sudah demikian cara hidupnya, berbuat dan berucap sekehendak hatinya, apa yang terjadi pada orang-orang bawahannya? Kalau tongkat itu lurus, sudah tentu bayangannya juga lurus, tetapi kalau tongkat itu bengkok, sudah tentu bayangan tongkat itu juga bengkok,” tulis Mbah Misbah dalam surat itu, tertanggal 19 Februari 1992.


×