Achmad Sugiarto atau yang akrab disapa Koh Asen memeluk Islam secara resmi sejak 1996. | DOK IST

Oase

28 Nov 2021, 06:14 WIB

Jalan Hidayah dari Buku Kecil

Mualaf yang akrab disapa Koh Asen ini sempat ikut shalat walau belum berislam.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

Hidayah datang melalui jalan mana saja yang dikehendaki Allah SWT. Dia memberikan petunjuk kepada siapapun yang diridhai-Nya bahkan melalui hal-hal yang terkesan “kecil” di mata manusia. Itulah yang rupanya dialami oleh seorang mualaf, Achmad Sugiarto.

Lelaki yang akrab disapa Koh Asen ini berasal dari keluarga non-Muslim. Pada mulanya, ia memeluk keyakinan yang umumnya dipeluk komunitas Tionghoa. Sejak kecil, dia rajin pergi ke tempat ibadah yang memiliki banyak patung. Orang-orang yang datang ke sana membakar hio serta membaca doa.

Saat masih berusia anak-anak, Asen sudah memiliki kepekaan terhadap dunia sekitarnya. Ia meyakini, alam semesta pasti diciptakan oleh Tuhan. Dan, untuk menyembah kepada-Nya seseorang perlu mengikuti agama. Waktu itu, ia mengira bahwa Tuhan haruslah Zat yang empiris. Dalam arti, Tuhan harus bisa dilihat oleh mata manusia.

Seperti umumnya anak-anak, Asen pun memilik banyak teman. Mereka berasal dari macam-macam kalangan. Tidak sedikit pula yang beragama Islam.

Bahkan, Asen kecil mendapatkan pendidikan di sebuah sekolah Islam. Bila dibandingkan dengan kawan-kawan sebaya, dia terlambat mendaftar sekolah. Ia mulai belajar di lembaga tersebut saat usianya 11 tahun. Bagaimanapun, “ketertinggalan” itu tidak begitu dirisaukannya.

Yang penting, terus belajar dengan sebaik-baiknya. Di samping itu, ia pun selalu berusaha menjadi pribadi yang ramah sehingga punya banyak kawan. Dalam berteman, Asen tidak pernah membeda-bedakan agama atau kesukuan.

“Orang tua saya (beragama) Konghucu. Saya dan kakak-kakak saya diajarkan agama Buddha di sekolah. Dan, setiap akhir pekan saya sering diajak beberapa teman saya ke gereja,” ujar lelaki yang kini berusia 59 tahun itu, seperti dinukil Republika dari saluran YouTube milik pengurus Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Firdaus Sanusi, baru-baru ini.

 
Asen kecil tertarik pada pengetahuan akan agama-agama. Waktu itu, ia sudah banyak membaca tentang ajaran agama. Namun, Islam belum begitu menarik perhatiannya.
 
 

Asen kecil tertarik pada pengetahuan akan agama-agama. Waktu itu, ia sudah banyak membaca tentang ajaran di luar kepercayaan yang dipeluk kedua orang tuanya. Namun, Islam belum begitu menarik perhatiannya.

Sebab, Islam tidak seperti agama-agama lain. Islam mengajarkan, Tuhan adalah Allah. Dalam beribadah, seorang Muslim tidak menghadap pada patung atau benda-berwujud-manusia apa pun. Selain itu, tempat ibadah kaum Muslimin tidak pernah dihiasi gambar-gambar manusia.

Bagi Asen saat itu, Islam adalah agama yang “aneh". Dalam arti, berbeda dengan kebanyakan agama lain. Ketika seorang Muslim beribadah, tidak ada wujud empiris Tuhan yang disembahnya itu.

Buku Islam

Di sekolah, Asen tidak bisa menghindar dari simbol-simbol keislaman. Sebab, lembaga tempatnya menuntut ilmu itu memang tampil sebagai sebuah “sekolah Islam". Di dinding bangunan sekolah, kerap ada guratan kaligrafi Arab.

Karena penasaran, Asen pun mencoba-coba belajar membaca huruf Arab. Ternyata, ia mahir juga menuliskan kalimat sederhana dalam bahasa Arab, semisal basmalah. Lama kelamaan, anak ini pun tertarik untuk sesekali mengikuti pelajaran agama Islam di sekolah.

Hingga berusia remaja, ia masih suka membaca-baca tentang keragaman agama. Sampai pada suatu hari, sebuah peristiwa memantik semangatnya untuk mengenal Islam dengan lebih dekat. Waktu itu, usianya sudah genap 17 tahun.

 
Lama kelamaan, anak ini pun tertarik untuk sesekali mengikuti pelajaran agama Islam di sekolah.
 
 

Asen muda ingin menonton di bioskop. Sebelum film diputar, ia menyempatkan diri berjalan-jalan ke bazaar di sekitar gedung. Tak jauh dari sana, ada sebuah toko buku kaki lima. Berbagai buku murah tersaji.

Asen melihat sebuah buku teka-teki silang (TTS) di sana. Ia pun ingin membelinya. Namun, tepat di sebelah buku kecil itu terdapat sebuah buku lagi yang memuat tema keislaman. Sebuah frasa di judulnya menampilkan kata-kata: “alam gaib".

Karena penasaran, Asen sempat mengambil dan membaca sekilas buku tersebut. Ternyata, isinya kira-kira menggambarkan ajaran Islam mengenai dunia yang tidak kelihatan itu. Sebagai contoh, dalam buku itu dijelaskan bahwa malaikat dan jin adalah beberapa contoh makhluk gaib. Bahkan, meyakini adanya malaikat itu merupakan salah satu rukun iman.

“Saya buka sembarang halaman, dan langsung menemukan ayat Alquran,” katanya mengenang.

Lantaran asyik membaca, Asen nyaris ketinggalan film yang hendak ditontonnya. Ia pun cepat-cepat menaruh kembali buku “alam gaib” ini. Tanpa banyak berkata, ia menyodorkan uang kepada penjual untuk membeli buku TTS.

Setelah usai menonton film, Asen terkejut. Rupanya, yang tadi dimasukkannya ke dalam tas bukanlah TTS, melainkan buku “alam gaib". Sesampainya di rumah, buku tersebut sempat ditaruhnya di gudang. Namun, beberapa hari kemudian diambilnya lagi karena masih merasa penasaran akan isinya.

 
Rupanya, yang tadi dimasukkannya ke dalam tas bukanlah TTS, melainkan buku “alam gaib".
 
 

Awalnya acuh tak acuh. Namun, sejak saat itu Asen mulai memendam keinginan untuk mempelajari Islam. Ia pun membeli lagi beberapa buku terkait agama ini.

Salah satu buku dibukanya secara acak. Matanya kemudian tertuju pada teks dan terjemahan Alquran surah Ali Imran ayat 19. Lelaki berdarah Tionghoa ini sejak kecil sudah sedikit belajar bahasa Arab. Karena itu, dirinya sedikit mampu membaca ayat tersebut. “Innaddiina ‘indallahil islaam.” Sesungguhnya, agama di sisi Allah ialah Islam.

Firman yang tampaknya sederhana itu ternyata berdampak luar biasa pada kesadaran Asen. Ia seperti terhentak oleh tegasnya makna dari ayat tersebut. Satu-satunya jalan untuk menyembah Tuhan ialah Islam.

photo
Mualaf Achmad Sugiarto saat berbicara dengan Koh Firdaus, mengisahkan perjalan hidupnya hingga memeluk Islam. - (DOK TANGKAPAN LAYAR YOUTUBE KOH FIRDAUS)

Proses berislam

Selama setahun, Asen dengan intens mengkaji Islam. Ia tidak hanya membaca buku-buku tentang agama ini. Bahkan, beberapa ibadah kaum Muslimin pun diikutinya sesuai batas kemampuan.

Misalnya, berwudhu dan shalat. Kedua ritual ini sudah diketahuinya sejak masih anak-anak. Namun, baru kali itulah dirinya berusaha rutin mengamalkannya walaupun belum pernah bersyahadat. Ia ingin terlebih dahulu memahami dan membiasakan diri dengan ibadah khas Islam, barulah kemudian secara resmi memeluk agama ini.

 
Ia ingin terlebih dahulu memahami dan membiasakan diri dengan ibadah khas Islam, barulah kemudian secara resmi memeluk agama ini.
 
 

Asen biasa praktik shalat pada siang hari. Waktu itu, ayahnya biasa tidur di kursi ruang depan. Anehnya, Asen merasa bahwa tiap kali dirinya menggumamkan takbir, bapaknya itu kerap terbangun dari tidur. Karena takut ketahuan, ia pun lekas pura-pura tidur di atas kasur, menunggu sang ayah lewat dari kamarnya.

Pada suatu hari, ia menemukan bacaan, yakni surah al-Baqarah ayat 208. Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

“Saya berpikir, ketika saya sedang belajar shalat, Papi bangun mungkin karena bisikan setan. Mulai saat itu, saya memberanikan diri. Kalau Papi masuk kamar dan saya sedang shalat, saya tidak lagi sembunyi. Saya teruskan shalat,” ucapnya menceritakan.

Benar saja. Ayahnya masuk kamar dan terkejut melihat Asen sedang shalat. Namun, pemuda ini tidak bergeming. Tetap saja melanjutkan shalat.

Setelah itu, ayahnya semakin sering meminta Asen untuk membersihkan patung-patung di rumah dan tempat sembahyangnya. Kalau untuk sekadar membersihkan patung, itu masih bersedia dilakukannya. Namun, tidak demikian halnya dengan sembahyang. Ia selalu menghindar.

Lama kelamaan, orang tuanya pun menyerah. Mereka melihat, komitmen anaknya itu untuk terus mengkaji Islam tak bisa dihentikan.

Pada hari Jumat, Asen memberanikan diri untuk mempraktikkan shalat Jumat. Berdasarkan aturan fikih, shalat Jumat harus diselenggarakan secara berjamaah. Maka, ia pun pergi ke masjid di dekat rumahnya.

Dengan mengenakan baju kemeja dan celana panjang, ia mencoba percaya diri, melangkah ke dalam masjid. Orang-orang tidak begitu memperhatikannya. Mereka menganggapnya seperti jamaah biasa pada umumnya.

Tiba-tiba Asen teringat. Siapapun harus berwudhu sebelum shalat. Ia pun lekas mencari lokasi tempat wudhu di masjid itu. Karena sangat gugup, tidak berani bertanya. Layaknya orang kebingungan, ia hanya berkeliling di sekitaran masjid.

Karena merasa malu, Asen lantas menyingkir ke arah jalan raya. Dilihatnya sebuah gerobak. Di balik kendaraan itulah, lelaki—yang saat itu—non-Muslim ini menangis. Ia merasa gagal. Bukan hanya karena tidak bisa shalat Jumat. Lebih dari itu, tidak mampu menetapkan keyakinan.

 
Hatinya sangat ingin berislam. Namun, upaya dengan cara seorang diri adalah sia-sia. Akhirnya ia menyadari, tidak mungkin mempelajari Islam sendirian.
 
 

Hatinya sangat ingin berislam. Namun, upaya dengan cara seorang diri adalah sia-sia. Akhirnya ia menyadari, tidak mungkin mempelajari Islam sendirian. Perlu pertolongan dan bantuan dari orang lain.

Berbekal sebuah informasi yang diperolehnya, Asen menyambangi Masjid Lautze Jakarta beberapa hari kemudian. Tempat ibadah itu terkenal memiliki majelis yang khusus menyasar komunitas Muslim Tionghoa.

Saat itu juga, Asen dibimbing seorang ustaz di sana. Pada 1996, ia untuk pertama kalinya mengucapkan dua kalimat syahadat. Prosesi tersebut dilakukannya di hadapan imam serta jamaah masjid setempat, yang dikelola Yayasan Haji Karim Oei itu.

Setelah memeluk Islam, Asen memilih nama baru: Achmad Sugiarto. Ia juga bertekad untuk berdakwah kepada orang-orang terdekat, utamanya keluarga. Sebagaimana pesan dari sebuah hadis, “Sampaikanlah dariku (Nabi Muhammad SAW) walau hanya satu ayat.”


×