Personel Polri dan TNI yang tergabung dalam Satgas Madago Raya melakukan patroli di pegunungan Manggalapi, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (16/8/2021). Pasca ditembak mati tiga anggota DPO teroris Poso pada Juli 2021, operasi keamanan bersandi Madago Raya me | ANTARA FOTO/Rangga Musabar

Opini

22 Nov 2021, 12:38 WIB

Al-Azhar Melawan Intoleran dan Terorisme

Intoleran dan takfiri adalah pemikiran yang ditolak dan dilawan oleh al-Azhar.

MUKTI ALI QUSYAIRI; Ketua LBM PWNU DKI Jakarta

Koran Shaut al-Azhar Mesir baru-baru ini merilis berita yang bagus sekali dan relevan. Ada kata "tanawwu'un fi al-mu'taqd wa wahdah fi hubbi Mashr" (Beragam dalam Keyakinan, dan Satu dalam Cinta Mesir).

Ada lagi perkataan al-Imam al-Akbar Syekh Prof Dr Ahmad Tayyib bahwa "Mengumpulkan semua makhluk dalam satu agama adalah mustahil. Perbedaan manusia dalam warna kulit, keyakinan, dan bahasa adalah sesuatu yang terberi fitrah Ilahi, hakikat ilmiah, dan Qur'aniy".

Dalam koran ini juga dijelaskan, seluruh tokoh lintas agama yang ada di Mesir menggagas "Bayt al-'Ailah al-Mashriyah" (Rumah Keluarga Mesir) yang menegaskan bahwa apapun agamanya selama berkewarganegaraan Mesir maka mereka "'ailatun wahidatun fi wathanin wahidin" (Satu keluarga dalam satu tanah air).

Grand Syekh juga berkata bahwa Bayt al-'Ailah adalah buah dari saling memahami yang mendalam antara al-Azhar dan Gereja Mesir. Bagi lembaga-lembaga agama wajib bekerja sama untuk bersungguh-sungguh mengokohkan nasionalisme demi menjaga Mesir dan penduduk Mesir dari fitnah.

Baba Towatrus, tokoh Kristen Koptik Mesir menegaskan bahwa Allah memberikan agama bagi manusia untuk saling mengenal, bukan saling berperang atau bermusuhan. Bayt al-'Ailah (Rumah Keluarga) ini bekerja untuk menggelar atau menyebarkan perdamaian sosial, menegakkan keadilan, dan mengokohkan nasionalisme.

Empat komitmen pemikiran al-Azhar

Koran tersebut adalah koran resmi al-Azhar. Memberitakan sekali lagi komitmen pada prinsip-prinsip al-Azhar, yaitu pertama, nasionalisme Mesir. Al-Azhar menerima dan mempertahankan nasionalisme Mesir yang menggunakan sistem kepemerintahan Republik, demokrasi, menolak sistem monarki dan khilafah.

Dalam sistem ini pun al-Azhar bersikap koeksistensi dan proeksistensi terhadap keragaman. Dalam buku "al-Islam wa al-Daulah al-Madaniyah" karya Syekh Dr Abdul Mu'thi Bayumi salah seorang dosen dan syekh al-Azhar tersirat jelas bahwa ulama al-Azhar mendukung al-Daulah al-Madaniyah (Negara Sipil) dan bukan al-Daulah al-Diniyah (Negara Agama). 

Kedua, toleransi. Al-Azhar bersama para tokoh lintas agama mendirikan Bayt al-'Ailah al-Mashriyah ini wujud konkret sebuah toleransi. Beberapa tahun yang lalu Grand Syekh juga bersama Paus di Fatikan melakukan Deklarasi Kemanusiaan. Karena itu, pemikiran yang bersifat intoleran dan takfiri bukan bagian dari komitmen pemikiran al-Azhar. Dengan kata lain, intoleran dan takfiri adalah pemikiran yang ditolak dan dilawan oleh al-Azhar.

 
Pemikiran yang bersifat intoleran dan takfiri bukan bagian dari komitmen pemikiran al-Azhar.
 
 

Ketiga, moderat. Dalam komitmennya pada pemikiran moderat, tidak melampaui batas dan tidak reduksionis, al-Azhar melakukan konter narasi terhadap narasi dan doktrin kalangan ekstremisme serta mengecam al-irhabiyyin (terorisme).

Para masyayikh al-Azhar Mesir gencar menulis dan menerbitkan buku tentang makna jihad sebenarnya yang berbeda dan bertentangan sama sekali dengan kalangan ekstremisme dan mengoreksi total atas pemikiran kalangan ekstrem. Al-Azhar pun gencar dan keras melawan terorisme. 

Keempat, al-Azhar dalam membangun pemikirannya di atas dialektika turats (khazanah klasik Islam) dan hadatsah (modern). Al-Azhar mirip dengan NU, yaitu ngaji kitab kuning atau turats, bermazhab, dalam akidah sama-sama Asy'ariyah, dan sembari melakukan kontekstualisasi dan reinterpretasi. 

Al-Azhar dan Terorisme

Karena itu, jika ada oknum alumni al-Azhar Mesir yang diduga terlibat atau terlibat terorisme maka dipastikan itu tidak merepresentasikan pemikiran al-Azhar sama sekali bahkan bertentangan. Apakah ada oknum alumni al-Azhar yang tersangkut kasus terorisme?

Sependek yang saya tahu, ada beberapa oknum alumni al-Azhar yang notabene sampai meraih gelar doktoral, yaitu Abdullah Azam dan Ahmad Zein al-Najah (AZA) yang baru-baru ini ditangkap Densus 88 dan setatusnya tersangka. Abdullah Azam adalah mentor Usamah bin Ladin yang bersama-sama mendirikan al-Qaidah. Sedangkan AZA diduga masuk jaringan JI (Jamaah Islamiyah).

Kedua organisasi tersebut, al-Qaidah dan JI, merupakan organisasi yang menggunakan sistem tandzhim sirryi alias klandestin alias bawah tanah. Keduanya pun pernah mempunyai hubungan mesra lantaran tokoh-tokoh JI diberi pelajaran militer dan intelijen oleh para tokoh al-Qaidah di kamp pelatihan militer mujahiddin di perbatasan Pakistan dan Afghanistan.

 
Al-Qaidah dan JI, merupakan organisasi yang menggunakan sistem tandzhim sirryi alias klandestin alias bawah tanah.
 
 

AZA alumni al-Mukmin Ngruki Solo asuhan Abu Bakar Baasyir. S1 di Madinah Arab Saudi. Lanjut sampai doktoral di al-Azhar Mesir. Setelah selesai kuliah sampai puncak dan pulang ke Indonesia rupanya ia kembali berjejaring dengan JI yang didirikan Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar. Dan ditangkap oleh Densus 88 karena diduga terlibat dalam mengelola Baitul Mal Abdurrahman bin Auf yang diduga mendanai kegiatan terorisme.

Penangkapan pun hasil pengembangan dan berdasarkan saksi 28 orang dalam pernyataan Densus 88 di berita. Densus pun menegaskan bahwa pihaknya sudah mengantongi alat bukti.

Saya pernah wawancara mantan JI yang sudah tobat, yaitu Ustaz Nasir Abbas yang menyatakan bahwa JI itu tandzhim sirriy, klandestin, bawah tanah. Dalam melakukan operasi amaliyat pun sangat rahasia, sehingga tidak mudah terbongkar.

Setidaknya aparat butuh waktu untuk membongkarnya. Karena atasan-atasan JI belajar dan berlatih bukan hanya latihan militer. Akan tetapi, juga belajar tentang intelijen, spionase, dan lainnya. Berbeda dengan ISIS yang tidak terlatih dan mudah terbongkar.

Berdasarkan penjelasan Ustaz Nasir, maka jelas bahwa aparat berhasil membongkar kasus AZA bersama dua temannya FO dan AA yang ketiganya adalah JI merupakan ijtihad yang tidak mudah, sungguh-sungguh, dan tidak sembarangan.

Orang-orang klandestin membutuhkan topeng atau cover untuk menutupi identitas aslinya. Ormas-ormas yang diterima di kalangan Muslim pada umumnya dan masyhur bisa dijadikan topeng oleh orang-orang klandestin semacam JI yang sejatinya tidak ada kaitan sama sekali antara ormas yang dijadikan topeng dengan apa yang dikerjakan bersama jaringan klandestinnya.

 
Sejatinya tidak ada kaitan sama sekali antara ormas yang dijadikan topeng dengan apa yang dikerjakan bersama jaringan klandestinnya.
 
 

AZA seorang klandestin JI memakai banyak topeng, seperti salah satunya topeng MUI. JI tidak ada kaitannya sama sekali dengan MUI. Sebagaimana dalam Bayan resmi MUI bahwa itu urusan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan MUI.

Atau dalam beberapa keterangan AZA pernah menjadi pengurus ormas tertentu waktu di Mesir atau menjadi dosen di perguruan tinggi tertentu, maka dapat dipastikan gerakan JI AZA tidak ada kaitan sama sekali dengan ormas dan kampus tempat dia mengajar. Atau AZA meraih gelar doktor dari al-Azhar Mesir, maka dipastikan juga tidak ada kaitannya.

Topeng bukanlah wajah asli. Topeng dan wajah asli yang ditutupi adalah dua hal berbeda. Tidak menyatu. Tidak pula inheren. Bisa dipisahkan. Bisa dibuka. Karena itu, kita seringkali kaget dan syok ketika seorang yang terlihat alim dan baik bahkan publik figur setelah dibuka topengnya ternyata terlibat kegiatan terorisme.

JI sebagai jaringan klandestin selalu melakukan kamuflase. Doktrin ta'amul ma'al ummah sebagai cover dan kamuflase berdasarkan dalil al-harbu khid'hatun (perang adalah tipu daya). Jadi pembohongan atau tipu-tipu bagi kalangan klandestin macam JI adalah absah karena bagi klandestin JI selama belum berdiri negara Islam maka suasana masih dalam peperangan. Pada titik inilah maka kita perlu ekstra waspada sepanjang masa dan tidak terkecoh oleh srigala berbulu domba.


×