Para imigran dari Timur Tengah berhadapan dengan tentara Belarus di perbatasan Belarus-Polandia, dekat Grodno, Belarus, Ahad (14/11/2021). | AP/Oksana Manchuk/BelTA
20 Nov 2021, 03:50 WIB

Jalan Buntu di Perbatasan Belarusia-Polandia

Sedikitnya delapan pengungsi gugur di perbatasan Belarusia-Polandia beberapa bulan terakhir.

OLEH RIZKY JARAMAYA, MABRUROH 

Beberapa pekan belakangan, ribuan imigran dari Timur Tengah, kebanyakan Muslim, harus menahan musim dingin di perbatasan Belarusia-Polandia. Beberapa di antaranya harus meregang nyawa. Mereka dijadikan semacam alat tawar bagi kekuatan-kekuatan yang bertikai di Eropa.

Alkisah pada 2020 lalu, diktator Belarus Alexander Lukashenko menang pemilu untuk kesekian kalinya dalam tiga dekade belakangan. Uni Eropa enggan mengakui kemenangan itu dan menjatuhkan sanksi ekonomi.

Sanksi itu dibalas Lukashenko dengan membuka jalan bagi para imigran yang melarikan diri dari perang di Timur Tengah. Dengan tujuan ke bagian barat Eropa, para imigran didorong ke perbatasan Polandia, negara dengan kebijakan antiimigran paling ketat di Eropa. 

Terkait

Hal yang terjadi adalah saling kunci. Para imigran coba merangsek, militer Polandia bergeming. Hingga akhirnya pada Kamis (18/11), pion dalam percaturan ini, para imigran, akhirnya hilang sudah. 

photo
Imigran menggendong anaknya berjalan melintasi petugas keamanan Belarus di perbatasan Belarus-Polandia, dekat Grodno, Belarus, Senin (14/11/2021). - (AP/Oksana Manchuk/BelTA)

Ratusan warga Irak yang telah berkemah selama berpekan-pekan di perbatasan Belarus, telah dipulangkan pada Kamis itu. Sekira 430 warga Irak, yang sebagian besar merupakan etnis Kurdi telah mendarat di Erbil, yang merupakan wilayah otonomi Kurdistan utara Irak dalam penerbangan dari Minsk, ibu kota Belarus.   

Para migran, termasuk anak-anak kecil, turun dan berjalan melalui aula kedatangan Erbil sambil membawa koper yang berisi pakaian hangat. Mereka membawa pakaian ini untuk bertahan hidup pada musim dingin Eropa.

Beberapa migran tampak sedih karena tidak berhasil menyeberang ke Eropa. Sementara, beberapa migran lainnya bersumpah akan mencoba peruntungan lagi untuk bermigrasi ke Benua Biru. 

Mohsen Addi, seorang Yazidi dari Sinjar di Irak barat laut, telah membawa istri dan anak-anaknya ke Turki kemudian ke Belarus. Dia berada di Belarus selama satu bulan. Komunitas Yazidi mengalami pembantaian dan perbudakan di bawah ISIS beberapa tahun lalu. 

“Kami menghabiskan waktu satu bulan di Belarusia, tetapi di sana sangat dingin dan keras. Saya akan tinggal sampai mati, tetapi keluarga saya dalam bahaya. Jika situasinya tidak membaik di Irak, saya akan pergi lagi. Tidak ada pilihan lain," kata Addi.

 

photo
Imigran menghangatkan diri mereka di perbatasan Belarus-Polandia, dekat Grodno, Belarus, Sabtu (13/11/2021). - (AP/Leonid Shcheglov/BelTA)

Addi mengatakan, setelah kekalahan ISIS, kampung halamannya di Irak memiliki kekurangan untuk memenuhi kebutuhan dasar warganya, seperti listrik dan perawatan kesehatan. Dia ingin bermigrasi ke Eropa untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. 

Pihak berwenang Belarus pada Kamis membersihkan kamp-kamp utama tempat para migran bermukim di perbatasan dengan Polandia. Warga Irak, terutama etnis Kurdi, mendominasi dari 4.000 migran yang berkemah di perbatasan Belarus-Polandia. Mereka menunggu di hutan dalam udara yang sangat dingin, untuk mencoba menyeberang ke Lithuania, Latvia, dan Polandia. 

Kini, ratusan calon migran pulang ke rumah setelah gagal melintasi perbatasan yang dijaga ketat. Beberapa migran menggambarkan kondisi keras hidup di hutan pada musim dingin, terutama dengan anak-anak kecil. Mereka menghadapi pemukulan oleh penjaga perbatasan. 

Seorang Kurdi Irak berusia 30 tahun, yang menolak menyebutkan namanya, memutuskan untuk mendaftar penerbangan evakuasi bersama istrinya. Dia memilih untuk pulang setelah berusaha menyeberang setidaknya delapan kali dari Belarus ke Lithuania dan Polandia.

 "Saya tidak akan kembali (ke Irak) jika bukan karena istri saya," katanya kepada Reuters sehari sebelum penerbangan evakuasi. “Dia tidak ingin kembali bersamaku ke perbatasan karena dia melihat terlalu banyak kengerian di sana," ujar pria itu.

photo
Imigran membangun tenda-tenda seadanya di perbatasan Belarus-Polandia, dekat Grodno, Belarus, Ahad (14/11/2021). - (AP/Oksana Manchuk/BelTA)

Uni Eropa telah menekan maskapai penerbangan untuk berhenti menerbangkan para migran ke Minsk. Beberapa maskapai telah setuju untuk menghentikan penerbangan ke ibu kota Belarus. Sebagian besar penumpang pesawat berasal dari negara-negara Timur Tengah, termasuk Irak dan Suriah.

Selama beberapa bulan terakhir, pengungsi dari sejumlah negara Timur Tengah, seperti Suriah dan Irak, telah meningkat di perbatasan Belarus dengan Polandia, termasuk negara bagian terdekat lainnya. Mereka diterbangkan ke Minsk oleh konsorsium penyelundup dan perusahaan, seperti maskapai penerbangan rezim Suriah, Cham Wings. 

Mereka kemudian ditinggalkan di ibu kota dan diangkut oleh pihak berwenang ke perbatasan. Sejak itu, sekira 2.000 pengungsi telah ditahan di perbatasan Belarus-Polandia. Sebagian besar para migran dipukuli, dianiaya, dan terkadang dipaksa melintasi perbatasan dalam kondisi cuaca buruk. 

Sedikitnya delapan orang gugur di perbatasan dalam beberapa bulan terakhir, termasuk seorang remaja asal Suriah berusia 19 tahun yang tenggelam di sungai saat mencoba menyeberang ke Uni Eropa. 

Pasukan keamanan Polandia juga menangkap sekitar seratus migran kemarin malam, ketika mereka mencoba untuk menerobos perbatasan dari Belarus. Pernyataan ini disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Polandia pada Kamis (18/11). "Upaya penyeberangan itu terjadi beberapa ratus meter jauhnya di dekat Desa Dubicze Cerkiewne," kata Kementerian Pertahanan Polandia.

photo
Imigran menghangatkan diri mereka di perbatasan Belarus-Polandia, dekat Grodno, Belarus, Ahad (14/11/2021). - (AP/Oksana Manchuk/BelTA)

Sebuah video yang dibuat ulang oleh kementerian pertahanan menunjukkan tentara Polandia mengepung sekelompok besar migran yang berkumpul di perbatasan pada malam hari di hutan dekat pagar kawat berduri. Kementerian mengeklaim pasukan khusus Belarusia, Spetsnaz, berada di balik langkah tersebut.

Laporan pada Rabu (17/11) lalu menyebutkan, ratusan migran yang berkemah dalam cuaca dingin di perbatasan Polandia-Belarus telah dipindahkan ke gudang terdekat di wilayah Belarusia, dengan beberapa masih menyimpan harapan untuk memasuki Uni Eropa.

Penjaga perbatasan Polandia mencicitkan sebuah video yang menunjukkan para migran dengan tas dan ransel diarahkan oleh pasukan Belarusia menjauh dari kamp di dekat perbatasan Kuznica.

Wakil Menteri Dalam Negeri Polandia Maciej Wasik mengatakan, dia telah menerima informasi bahwa mereka akan berangkat dengan bus. Kantor berita negara Belarus, Belta, melaporkan bahwa mereka dipindahkan ke sebuah bangunan, seperti gudang berpemanas sekitar 500 meter dari perbatasan dekat Bruzgi, memberi mereka kesempatan untuk beristirahat di dalam ruangan setelah berhari-hari di tenda.

Sumber : Reuters


×